RSS

Back to School

Study in a university is a dream comes true for me. Indeed, I have graduated my diploma and undergraduate as well at STAN.  As the name implies, STAN is not a university at all. The study system and the overall process are totally different to that of a university in general. It’s not until now when I’m awarded a scholarship from SPIRIT programme and then I’m accepted at Universitas Indonesia in postgraduate Double Degree Program majoring in economics science.

As a postgraduate student, one should be familiar with campus’ life and all of its activities. However, for me it’s not to be the case. For instance I haven’t even know what IRS is, not to mention how to fill it in. Since in my previous school (STAN is closer to be classified as a school than a university) all I need to do was just came and sat in the class, did all the assignment, passed the exam, then I’d graduated. There was no IRS since what courses I had to take in each semester were all packed. Now in UI, the story is rather different. All students should register their accounts in an online system so called SIAKNG (Student Administration System – Next Generation) and fill in IRS before classes begin.

All application and submission process is done now. I’m so excited and enthusiastic that I’m ready to study economics. Hopefully this will be a pathway to drive me to success.

Depok, more than a semester ago.

 
Leave a comment

Posted by on February 24, 2014 in Uncategorized

 

Tags: ,

Gowes Pelan Bintaro – Cisarua

Si Domi Fully Loaded

Sejak terakhir kali (dan pertama kalinya) touring sepeda Bintaro – Bandung via Cariu bulan Juli 2009 lalu, belum pernah lagi saya touring.  Padahal keinginan untuk touring itu terus membayangi pikiran saya.  Bahkan keinginan itu telah menjelma menjadi kerinduan yang sulit ditahan.  Maka saat ada kesempatan, tak akan saya sia-siakan.

Dan kesempatan itu akhirnya datang juga.  Sarasehan Stapala tahun ini digelar di kawasan Puncak, Bogor.  Lokasi tepatnya ternyata di daerah Villa Aquarius Orange, Cisarua, dekat Curug Cilember.  Aha…! Inilah kesempatan saya.  Tapi saya belum yakin.  Apa sebab?

Sudah 2 bulan lebih kegiatan gowes saya berhenti total.  Si Domi pun teronggok berdebu di parkiran basement kantor.  Ditambah lagi seminggu yang lalu sempat terserang flu ringan.  Dengan kondisi seperti itu, sanggupkah saya melahap tanjakan Puncak?

Setelah menengok google map, ternyata lokasi villa itu tak jauh dari pintu tol Ciawi.  Jalan raya nya pun tampak masih relatif lurus.  Kalau begitu adanya, berarti tanjakannya juga belum terlalu ekstrim.  Jaraknya pun dari pintu tol Ciawi tak sampai 10 km.  Sedangkan total jaraknya dari Posko Stapala di Kampus STAN Bintaro pun hanya +/- 64 km via Parung.  Insya Allah masih terjangkau lah.  Ditambah lagi ternyata istri saya di detik-detik terakhir memutuskan untuk tidak jadi ikut acara itu.  Tak ada alasan lagi untuk membatalkan rencana touring kali ini.

Tapi rasanya tak nikmat kalau gowes sendirian.  Setidaknya untuk saat ini saya belum siap.  Tapi suatu saat nanti ingin juga gowes touring sendirian.  Maka saya lemparlah ide ini ke forum grup Stapala.  Hanya 2 orang yang konfirmasi akan bergabung,  Prabu (Kus-kus 761) dan  Adryan (Alot  872).  Tak apalah, karena saya memang tak berharap banyak.  1 atau 2 orang teman juga sudah cukup.  Yang penting saya tak sendirian.

Karena acara akan dilaksanakan mulai Sabtu siang hingga malam, maka kami sepakat untuk berangkat jam 6 pagi.  Dan sebagai titik start disepakati adalah Posko Stapala di kampus STAN Bintaro.  Itu berarti saya harus gowes dari kontrakan saya di Kebayoran Lama ke Posko yang jaraknya sekitar 7 km.  Tak apalah, itung-itung pemanasan.   Alot malah menginap di kos-kosan  Kus-kus, yang letaknya masih di area kampus, karena rumahnya di Tangerang.

Narsis dulu sebelum berangkat

Berangkat bertiga

Malam harinya saya sudah packing, agar besok pagi abis subuh bisa langsung siap-siap dan meluncur.  Tapi apa daya, Sabtu pagi sejak subuh hujan pun datang.  Rasanya tak nikmat kalau gowes hujan-hujanan, apalagi baru berangkat sudah langsung basah-basahan.  Akhirnya kami sepakat untuk menunda keberangkatan hingga hujan reda.

Secangkir kopi dan sepotong roti yang disuguhkan istri menjadi sarapan saya pagi itu.  Pukul 6.30 saya baru meluncur dari kontrakan menuju Posko.  Pukul 7.30 akhirnya kami bertiga mulai meluncur.  Cuaca pagi itu masih agak mendung dan berkabut.  Kalau sampai siang begini terus enak nih, asal gak hujan aja, pikir saya.  Perjalanan dimulai dengan sangat santai.  Gowes perlahan sambil menikmati udara pagi yang berkabut terasa begitu nikmatnya.  Yang paling nikmat sesungguhnya adalah sensasi bahwa kali ini saya benar-benar melakukan touring (walaupun jaraknya hanya 64 km).  Bukan hanya bike to work sambil membayangkan sedang touring, seperti yang selama ini saya lakukan.  Kegembiraan saya benar-benar membuncah.  Maka saat keluar dari Kampus kami bertemu dengan rombongan pesepeda, lalu salah satu pesepeda yang sudah sepuh menyapa saya “Kemana Om?”, saya jawab dengan lantang “Ke Puncak Om…!”. “Wah mantab…!” sahutnya.  “Emang mantab om…!”, Jawab saya, tapi hanya dalam hati.

Ngaso dulu sambil ngisi bahan bakar

Perjalanan cukup lancar walaupun jalanan sudah agak ramai.  Tapi anehnya kecepatan kami tetap segitu-gitu saja, bahkan cenderung melambat.  Padahal saya pikir sudah cukup pemanasannya.  Ternyata  Alot tampak sudah kelelahan.  Saya dan  Kus-kus otomatis menyesuaikan kecepatan.  Kami tak memakai speedometer, tapi perkiraan saya laju kami tak lebih dari 10 kpj.  Wah, padahal cuaca mendukung dan jalanan datar.  Harusnya kecepatan kami bisa 2 kali lebih cepat.  Karena kalau dengan kecepatan seperti ini terus, prediksi waktu tempuh sekitar 4-5 jam tak akan tercapai.

Beberapa kali saya menyemangati  Alot dan memintanya sedikit menambah kecepatan.  Tapi sepertinya dia benar-benar sudah kelelahan.  Diketahui kemudian ternyata  Alot belum pernah bersepeda jarak jauh.  Biasanya dia hanya bersepeda keliling kompleks nya.

Nyampe Lanud Atang Sendjaya

Inilah tantangannya.  Saya bilang ke  Kus-kus, sepertinya dalam perjalanan ini kesabaran kita yang diuji.  Bagi kami yang terpenting adalah kebersamaan.  Berangkat bersama sampai tujuan juga harus bersama.  Selain itu, sayalah yang mencetuskan ide touring ini.  Lalu saya mengajak siapapun anggota Stapala yang mau ikut.  Maka saya juga harus bertanggung jawab atas seluruh anggota tim kecil ini.  Saat ada anggota tim yang mulai melambat, opsi nya adalah menyemangati dan mendorongnya agar menambah kecepatan atau kami yang menyesuaikan dengan kecepatannya.  Kami buang jauh-jauh ego untuk terus melaju meninggalkannya di belakang.  Setidaknya itulah sedikit pelajaran yang kami peroleh di Stapala selama ini.

Beberapa kali kami istirahat untuk sekedar meneguk serta menghilangkan rasa panas di pantat dan selangkangan.  Tiap kali selesai istirahat,  Alot meminta untuk melanjutkan lebih dulu.  Dia bilang toh nanti tak terlalu jauh kami pasti akan menyusul.  Dengan begitu waktu istirahat kami jadi lebih lama.

Dengan kondisi sangat kelelahan seperti itu, saya pikir  Alot tak akan bertahan lebih lama.  Saya pikir dia akan memutuskan untuk kembali.  Tapi saya salah.  Semangatnya untuk melanjutkan perjalanan sungguh luar biasa.  Walaupun kayuhannya kadang tak stabil.  Hanya beberapa kayuhan lalu berhenti, mengayuh lagi lalu berhenti lagi, begitu terus sepanjang jalan.  Padahal dengan kayuhan seperti itu, labih menguras tenaga.  Kita tidak bisa memanfaatkan momentum perputaran roda dan laju sepeda.  Tapi rupanya dengan tetap melanjutkan kayuhan seperti itu sudah merupakan perjuangan yang sangat berat bagi  Alot.  Salut untuk semangatnya…

Tetap semangat…! sudah sampai Kota Bogor kita…

Pukul 11.30 akhirnya kami sampai di Kebun Raya Bogor.  Kami memutuskan untuk berhenti makan siang, karena bunyi keroncongan dari perut semakin keras dan tak dapat ditahan lagi.  Ayam goreng dan soto di daerah Kebun Raya jadi menu pilihan kami.  Selesai melahap makan siang, secara mengejutkan  Alot memutuskan untuk tak melanjutkan perjalanan sampai Puncak.  Dia memutuskan untuk mampir ke rumah saudaranya di Kota Bogor.  Saya dan  Kus-kus berusaha membujuknya agar tetap melanjutkan perjalanan.  Karena garis finish sudah tak terlalu jauh lagi.  tapi memang kondisinya akan berbeda.  Sebentar lagi kami harus menghadapi tanjakan, dan sayangnya mendung juga mulai menghilang, digantikan oleh teriknya matahari siang bolong yang menyengat.

Makan siang, titik finish untuk Alot

Akhirnya tinggal kami berdua yang melanjutkan perjalanan.  Selesai makan siang kami mencari masjid untuk sholat dzuhur dan memberi waktu pada pencernaan kami untuk bekerja.  Setelah sholat dzuhur di Masjid Nurul Maal, PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor, kami melanjutkan perjalanan sambil menyiapkan mental untuk mulai menghadapi tanjakan.

Tak lama kemudian kami mulai memasuki Jalan Raya Puncak.  Kondisi lalu lintas cukup lancar.  Pemberlakuan buka tutup jalur cukup menguntungkan kami.  Saat jalan hanya dibuka 1 jalur, volume kendaraan cenderung lebih sedikit.  Tapi sebenarnya itu tak banyak berpengaruh juga, karena saat itu kami mulai ngicik.  Bonus turunan tak saya sia-siakan.  Saat jalan menurun, sepeda saya geber segeber-gebernya.  Dengan harapan saat turunan berakhir dan berganti tanjakan, saya dapat memanfaatkan momentum untuk mengawali ngicik lagi.

Panas dan nanjak, duet maut yang benar-benar mantab

Selama di tanjakan ini, kami jadi lebih sering berhenti untuk istirahat.  Apalagi setelah  Kus-kus merasakan kaki kanannya hampir kram.  Banyak pesepeda yang kami temui, tapi semuanya berlawanan arah dengan kami.  Semuanya melaju turun.  Tampaknya mereka baru saja melahap jalur XC atau downhill.  Satu-satunya pesepeda yang searah dengan kami adalah seorang  yang sudah cukup berumur sedang nanjak sendirian.  Saat kami ngicik dia berhenti istirahat, sebaliknya saat kami istirahat dia tampak lewat sambil menyapa.

Tanjakan masih panjang

Waktu menunjukkan jam 3 lebih saat tampak di depan kami ada Hotel Grand Usu, yang artinya kami sudah sampai di gang masuk ke arah Villa Aquarius Orange.  Dan ternyata benar, ada petunjuk arah menuju Curug Cilember.  Masuk gang beberapa ratus meter, akhirnya kami sampai juga di lokasi.  Jam menunjukkan pukul 15.30 WIB.  Total perjalanan kami selama 8 jam menempuh +/- 64 km.  Perjalanan yang cukup lama, tapi kami menikmatinya.

Menjelang finish, jalan semakin miring, TTB pun tak terelakkan

Alhamdulillah nyampe juga, setelah 8 jam

Keesokan harinya, kami pulang menumpang bus yang membawa rombongan ke posko.  Setelah malamnya kami begadang, gowes lagi ke Bintaro sepertinya tidak memungkinkan dan memang tidak kami rencanakan.

Bersih-bersih dulu sebelum pulang

Terima kasih untuk  Kus-kus dan  Alot untuk perjalanan yang menyenangkan.

Terima kasih untuk rombongan bus Posko untuk tumpangannya.

Salut untuk  Alot atas semangat dan perjuangannya.

Lain waktu kita touring lagi, tapi harus sampai finish ya Om…

 
7 Comments

Posted by on June 19, 2012 in Perjalanan, Sepeda

 

Negeri Bilingual (bagian pertama)

Beberapa hari yang lalu, ada sebuah salinan peraturan teronggok di meja kerja. Penetapan peraturan itu belum lama berselang. Sebut saja peraturan itu berjudul “Peraturan Inspektur Jenderal Nomor sekian tentang Perencanaan Pengawasan dan seterusnya…”.  Bukan isi peraturan itu yang ingin saya bahas, karena saya baru baca halaman pertama. Kalaupun saya baca sampai khatam belum tentu juga saya jadi paham. Kalau saya tidak paham lalu saya coba ceritakan pada anda, bagaimana anda bisa paham?

Ah sudahlah, kan saya bilang tidak akan membahas isinya. Yang mengusik pikiran saya adalah –bahkan di halaman pertama, di bagian “Menimbang”- penggunaan bahasa asing (baca: bahasa Inggris) dalam peraturan itu.  Setidaknya ada 2 kata yang digunakan pada bagian ini –entahlah di halaman berikut, apalagi di bagian lampiran- yaitu assurance dan consulting. Dalam ranah audit atau pengawasan, 2 kata ini memang mengacu pada istilah yang spesifik dan mempunyai definisi tertentu. Definisi itu tidak bisa semata-mata diperoleh dari terjemahan bebas kedua kata ini ke dalam Bahasa Indonesia, walaupun sebenarnya tidak sama sekali bertentangan. Ketika 2 kata ini harus diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, dengan tetap memepertahankan definisi spesifiknya dalam konteks audit, mungkin memang agak susah.

Tapi dalam sebuah peraturan, baik berupa undang-undang maupun bentuk peraturan yang lain, perbedaan makna karena penggunaan istilah-istilah bukanlah sesuatu yang tidak bisa diselesaikan. Sesuatu yang sangat lumrah dalam segala jenis peraturan adalah daftar definisi atau pengertian. Biasanya letaknya pada bab tentang Ketentuan Umum. Bunyinya kurang lebih seperti ini: “Dalam peraturan ini yang dimaksud dengan:” dan seterusnya. Lalu diikuti dengan istilah-istilah yang digunakan dalam peraturan yang bersangkutan beserta definisinya. Walaupun menggunakan bahasa asing pun sebenarnya belum tentu bisa menggantikan fungsi daftar definisi ini.

Yang menjadi kurang sreg bagi saya adalah penggunaan bahasa asing –yang sebenarnya bisa menggunakan Bahasa Indonesia- dalam sebuah dokumen resmi yang penyusunannya seharusnya mengikuti kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai dengan EYD dan mengacu pada KBBI (semoga anda semua masih ingat apa itu EYD dan KBBI). Saya rasa bukan sekali ini saja bahasa asing digunakan dalam dokumen-dokumen resmi semacam peraturan perundang-undangan maupun dokumen lain, yang notabene mengatur urusan dalam negeri dan berlaku di dalam negeri.

Jika dalam dokumen-dokumen resmi saja penggunaan bahasa asing sudah menjadi kelaziman, bagaimana dengan dokumen-dokumen tidak resmi maupun dalam bahasa verbal? Rupanya intensitas penggunaan bahasa asing lebih tinggi lagi pada keduanya. Sering kita jumpai penggunaan bahasa asing dalam berbagai tulisan non formal mulai dari berita, artikel, tulisan di blog, hingga update status di berbagai jejaring sosial. Begitu pula dalam berbagai bentuk komunikasi verbal mulai dari percakapan, diskusi, rapat, bahkan hingga pidato-pidato resmi. Alih-alih menggunakan Bahasa Indonesia banyak orang yang lebih suka menggunakan bahasa asing untuk menyampaikan maksudnya.

Itu semua tentu bukan tanpa alasan. Rupa-rupa alasannya. Bagi sebagian orang, Bahasa Indonesia mempunyai banyak keterbatasan dalam menterjemahkan bahasa asing. Bisa jadi suatu istilah bahasa asing menimbulkan interpretasi yang berbeda dengan terjemahan bebasnya ke dalam Bahasa Indonesia. Bisa juga suatu istilah bahasa asing belum ada terjemahan bebasnya dalam Bahasa Indonesia. Dalam kondisi seperti ini menggunakan bahasa asing akan lebih efektif dan efisien dalam komunikasi. Contohnya, lagi-lagi di kantor saya, ada sebuah ruangan yang berlabel “R. JANITOR”. Ada yang aneh dari penamaan ruangan ini. Huruf R merupakan singkatan dari kata “Ruang”. Ini berarti penamaan ruangan ini menggunakan Bahasa Indonesia, begitu pikir saya. Lalu saya penasaran dengan kata “Janitor”. Saya cari di KBBI online versi Kemdiknas, hasilnya ternyata seperti ini: “Tidak menemukan kata yang sesuai dengan kriteria pencarian!!!”. Lalu pencarian saya alihkan ke salah satu website kamus bahasa Inggris online, hasilnya “Janitor: pesuruh; petugas kebersihan; pembersih kantor”. Ternyata Janitor adalah kata dalam bahasa Inggris, yang entah sudah diserap secara resmi dalam Bahasa Indonesia atau belum.

(bersambung…)

 
1 Comment

Posted by on May 11, 2012 in Lain-lain, Uneg-uneg

 

Atas Nama Tradisi

Semalam pulang dari kantor, sambil leyeh-leyeh dan bercengkerama dengan istri tercinta saya nonton berita.  Ada 1 berita yang membuat kening saya mengernyit.  Isi berita itu tentang aksi pembubaran paksa sebuah majelis tabligh berinisial MTA oleh penduduk sekitar yang sebagian besar –atau seluruhnya- adalah warga NU.  Kejadiannya di daerah Jogja, saya lupa tepatnya.  Salah satu alasannya karena MTA dituding melarang jamaahnya melakukan ritual “Tahlilan”.  Padahal menurut warga Tahlilan sudah menjadi tradisi warga secara turun-temurun.

Rasa penasaran saya pun membuncah.  Ada 2 hal yang memicunya.

Pertama.  Siapakah MTA ini?  Kenapa kehadirannya dianggap meresahkan hingga akhirnya warga membubarkan secara paksa pengajiannya.  Adakah MTA ini aliran semacam Ahmadiyah jenis baru?  Tapi kok saya baru mendengarnya sekarang.

Setelah browsing sana sini terungkaplah bahwa MTA adalah singkatan dari Majelis Tafsir Alquran.  Dari namanya ini saya pikir tidak ada yang salah.  Bahkan namanya luar biasa menurut saya.  Pencarian saya langsung diarahkan pada situs resmi jamaah ini.  Dari profil dalam situs resminya disebutkan bahwa MTA adalah sebuah yayasan yang bergerak di bidang pendidikan dan dakwah Islamiyah.  Yayasan ini didirikan sejak tahun 1972 (sudah tua juga ternyata).  Tujuan utamanya mengajak umat Islam kembali kepada ajaran Alquran.  Kegiatan utamanya berupa pengajian, baik pengajian khusus maupun umum, serta pendidikan baik formal maupun non formal.  Di samping itu mereka juga bergerak di bidang social, ekonomi, dan kesehatan.  Informasi lebih lengkapnya bisa dibaca disini.

Setelah membaca sekilas profilnya, saya masih tidak menemukan sesuatu yang ganjil.  Maka saya lanjutkan membaca salah satu tausiahnya yang berjudul “Terjebak Kebiasaan”.  Judul itu saya pilih karena letaknya paling atas dan saya pikir isinya cukup menarik dan cukup bisa memberikan gambaran tentang MTA itu sendiri.  Inti dari tausiah itu kurang lebih adalah mengajak manusia agar tidak terjebak melakukan kebiasaan-kebiasaan jelek, walaupun hal itu dianggap baik dan sudah umum dilakukan oleh kebanyakan orang secara turun temurun dan menjadi tradisi.  Sebagai manusia beriman setiap muslim haruslah mengembalikan segala sesuatu pada ajaran agama. Alquran dan Assunah.

Salah satu dalilnya adalah Surat Al-Kahfi ayat 103-104, yang artinya:

Katakanlah: “Apakah akan kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?”

Yaitu orang-orang yang Telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.

Sampai di sini saya masih belum juga menemukan sesuatu yang janggal hingga membuat jamaah ini layak dibubarkan paksa.  Oleh karena itu saya membuat kesimpulan sementara bahwa tidak ada yang salah pada MTA.  Dugaan awal bahwa MTA adalah aliran semacam Ahmadiyah dan sebangsanya saya buang jauh-jauh.

Kedua.  Alasan utama warga membubarkan jamaah itu adalah karena dianggap meresahkan.  Salah satu poin yang diungkapkan dalam berita itu adalah karena MTA melarang melakukan tahlilan, yang bagi warga sekitar sudah menjadi tradisi sejak jaman walisongo.

Hasil pencarian saya di dunia maya menunjukkan bahwa kasus pembubaran paksa jamaah MTA oleh warga bukan pertama kali terjadi.  Setidaknya saya menemukan ada 3 tempat yang pernah mengalami kejadian serupa, yaitu di Purworejo, Kudus, dan Ponorogo.  Dan ternyata alasannya tak jauh berbeda, yaitu sekitar masalah tahlilan dan ritual-ritual lainnya yang sudah menjadi tradisi.

Saya berhenti, berpikir sejenak.  Pencarian saya sepertinya mulai menemukan titik terang.  Tapi kemudian saya buru-buru menghapus lagi titik terang itu.  Semoga bukan itu jawaban atas pencarian saya.  Kenapa begitu? Karena yang saya maksud titik terang itu adalah saya teringat ayat Alquran tentang jawaban orang-orang kafir terhadap perintah untuk mengikuti ajaran Islam.  Mereka menolak ajaran yang datang dari Allah dan mengatakan bahwa mereka hanyalah mengikuti apa yang dilakukan oleh nenek moyang mereka.  Setelah mencari kesana kemari akhirnya saya menemukan ayatnya, yaitu Surat Al-Baqarah ayat 170, yang artinya:

Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. (Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?

Selain ayat tersebut, ternyata banyak ayat-ayat lain maupun hadits yang isinya hampir sama.  Yang intinya bahwa segala kebenaran hanya datang dari Allah dan disampaikan melalui rasulnya.  Bahwa kita dilarang mendasarkan amal perbuatan kita pada adat kebiasaan dan tradisi nenek moyang atau orang kebanyakan.  Bahkan tindakan dan amalan tokoh sekelas wali (atau sunan atau apapun namanya) tidak bisa dijadikan dasar (taklid) untuk membenarkan atau menyalahkan sesuatu.  Segala perbuatan harus dikembalikan pada ajaran Islam yang suci, yang bersumber dari Alquran dan Hadits.

Kenapa tadi saya katakan menghapus lagi titik terang yang mulai saya temukan? Karena saya berharap dan berdoa semoga tindakan pembubaran paksa yang dilandasi kebencian karena dilarang melakukan apa yang biasa mereka lakukan, yang juga dilakukan nenek moyang mereka, tidaklah termasuk dalam golongan yang diceritakan dalam Al-Baqarah 170 tersebut.  Saya berdoa semoga kejadian ini hanyalah akibat kesalahpahaman atau ulah provokator yang memanfaatkan kondisi keilmuan sebagian umat yang belum mendalam tentang ajaran Islam.

Kejadian ini sebenarnya juga saya alami di lingkungan sekitar, kampung dan kota, bahkan keluarga.  Betapa ritual-ritual tertentu  yang dianggap sebagai ibadah oleh sabagian saudara-saudara kita sudah begitu mendarah daging, menjadi budaya yang pantang untuk ditinggalkan.  Tak perlu saya sebutkan ritual apa yang saya maksud itu, karena sudah saya sebutkan di awal tadi.  Dan saya tak mau persoalan jadi semakin runyam.  Karena bukan tentang detail ritual-ritual itu yang menjadi penekanan saya.

Jawaban orang-orang kafir dalam Al-Baqarah 170 itulah yang menjadi fokus saya.  Maka marilah kita bermuhasabah, mengintrospeksi diri kita masing-masing.  Apakah setiap tindak dan laku kita khususnya menyangkut ubudiyah, walaupun tak meninggalkan urusan mauamalah, telah sesuai ajaran yang diturunkan Allah dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW?  Apakah amalan-amalan itu mempunyai dasar dalil yang kuat?  Ataukah kita selama ini mengamalkannya hanya karena orang tua kita, warga kampung kita, kiyai kita, para pendahulu kita, hingga –katanya- para wali juga mengamalkannya, tanpa dalil yang jelas dan kuat?

Lalu saat ada saudara kita yang mengajak dan menunjukkan kita pada ajaran yang suci, yang merujuk pada Alquran dan hadits, yang tentunya tak terbantahkan kebenarannya, bagaimana sikap dan apa jawaban kita? Apakah kita lebih memilih adat dan kebiasaan daripada kebenaran?  Adat, tradisi dan kebiasaan bukanlah terlarang untuk dijaga dan dilestarikan.  Tentu dengan catatan tak ada ajaran dan aturan yang dilanggar.  Tetapi ketika adat, tradisi, dan kebiasaan itu jelas-jelas melanggar, meninggalkannya adalah sebuah keharusan.  Bahkan ketika itu semua masih menjadi perdebatan, antara benar salahnya, boleh tidaknya, halal haramnya, maka meninggalkannya adalah pilihan yang lebih bijaksana.

Ya Allah… berikanlah petunjukmu dan bimbinglah aku agar selalu berada di jalanmu…

 
3 Comments

Posted by on April 3, 2012 in I'm Moslem, Uneg-uneg

 

Menyingkap Keindahan yang Terabaikan dengan Fotografi Makro

Fotografi adalah seni.  Seni adalah tentang keindahan.  Itulah salah satu alasan saya menyukai fotografi.  Dengan fotografi saya tak hanya menikmati sendiri keindahan itu, tetapi juga berbagi dengan orang lain.  Keindahan yang belum pernah anda lihat sendiri.  Keindahan yang pernah anda lihat tanpa sempat mengabadikannya.  Keindahan yang sering anda lihat tanpa menyadarinya.  Atau bahkan keindahan –yang tanpa fotografi- anda anggap itu menjijikkan.

Salah satu cabang fotografi yang sangat menarik bagi saya adalah fotografi makro (atau mikro).  Apa itu fotografi makro bisa anda lihat disini.  Saya sendiri juga tak terlalu paham definisi teknis nya.  Ah tapi mungkin itu tak terlalu relevan.  Saya hanya berusaha mengaplikasikannya untuk memotret keindahan-keindahan yang tersembunyi dan terabaikan, karena ukurannya yang mungkin terlalu kecil.

Objek favorit saya adalah binatang-binatang kecil seperti serangga, laba-laba, dan binatang lainnya.  Apapun binatang kecil yang saya temui saat “berburu” tak jadi soal.  Yang jelas mereka harus benar-benar alami.  Tak ada proses pengarahan gaya apalagi pembunuhan, hanya untuk mendapatkan pose yang saya inginkan.  Semua binatang yang saya potret dalam keadaan hidup, sedang melakukan aktivitas alaminya, dan di habitat aslinya.  Tak ada proses rekayasa apapun.  Saya tidak mengatakan bahwa membunuh binatang sebelum memotretnya adalah sebuah kesalahan.  Semua itu tergantung tujuan masing-masing.

Bagi sebagian orang, alih-alih menakjubkan binatang-binatang ini mungkin lebih dianggap menjijikkan.  Tapi bagi saya organisme yang terdiri dari struktur yang unik, dibalur permainan komposisi warna yang mencolok, dan mempunyai tingkah laku yang yang tak biasa ini adalah sebuah keindahan yang luar biasa.  Jika anda bisa menikmatinya, rasa jijik bisa berubah menjadi takjub.

Salah satu teknik yang saya pelajari dalam memotret binatang-binatang kecil khususnya serangga adalah fokus pada bagian mata.  Ini karena bagian mata biasanya mempunyai bentuk dan warna yang menarik.  Selain itu, binatang yang sedang melakukan aktivitas tertentu merupakan objek yang lebih menarik dibandingkan binatang yang sedang tidak melakukan aktivitas apa-apa.  Aktivitas seperti berburu, berpose unik, atau bahkan sedang bereproduksi merupakan momen yang sangat menarik untuk diabadikan.  Untuk mendapatkan momen-momen seperti itu tentu membutuhkan kesabaran, kecepatan, kejelian, dan sedikit keberuntungan.

 

 

 

 

 

 

Ada banyak metode dan peralatan yang bisa digunakan untuk mengaplikasikan fotografi makro.  Dari yang rumit hingga yang sederhana.  Dari yang mahal hingga yang murah meriah.  Untuk saat ini fotografi makro dipermudah oleh kemajuan teknologi digital.  Sebagian besar kamera poket digital sudah dilengkapi fitur makro, walaupun kualitas gambar dan perbesaran yang dihasilkan masih terbatas.

 

 

Senjata andalan saya

Saya sendiri selama ini hanya menggunakan peralatan “seadanya”.  Seadanya karena saya hanya menggunakan kamera D40 kesayangan saya, sebuah lensa fixed 50mm seri E yang umurnya mungkin lebih tua daripada saya, dan sebuah reversing ring untuk membalik lensa.  Dengan peralatan seperti itu, semua settingan kamera menjadi manual, mulai dari light meter hingga focusing. 

 

 

 

Anda tertarik? Selamat mencoba…

 
2 Comments

Posted by on April 2, 2012 in Fotografi, Lain-lain

 

Movie Review “The Raid”

Beberapa bulan lalu saat tahu ada film baru Iko Uwais, tak sabar hati ini ingin segera menikmatinya. Begitu tahu film itu menggondol beberapa penghargaan di berbagai festival, rasa penasaran semakin tak tertahan. Apalagi konon kabarnya film itu adalah film Indonesia pertama yang diputar serentak di seluruh dunia.

Malam minggu ini, yang ditunggu-tunggu datang juga. Bersama istri tercinta dan seorang sahabat setia, di Gandaria tempatnya.

Langsug saja reviu nya.

Film yang cukup berani menurut saya. Berani mengambil setting hanya di satu lokasi dan satu waktu sepanjang cerita, bahkan tanpa permainan alur maju maupun mundur. Setahu saya tak banyak film macam ini, dan seingat saya semuanya luar biasa. Sebut saja “Phone Booth” nya Colin Farrel yang hampir sepanjang film hanya menampilkan adegan di dalam sebuah kotak telepon umum.

Sebagai film action yang didominasi adegan perkelahian, tangan kosong maupun bersenjata, film ini sempurna. Memang agak terlalu banyak sadisme dan darah. Tapi apa lagi yang anda harapkan dari sebuah perang? Makanya sebelum film mulai saya berpesan pada istri, “Siap-siap ya, agak sadis filmnya…”

Secara umum Film ini cukup memenuhi ekspektasi saya. Selain wajah pribumi para aktor dan tulisan “Merantau Films”, mungkin anda tak akan mengira ini bukan film Hollywood.

Tapi tentu secara keseluruhan film ini tak sempurna. Beberapa hal ini sebabnya:

1. Kurangnya detail cerita yang bersifat teknis.

Misalnya apa nama kesatuan pasukan ini, bagaimana strategi penyerbuan ini, tak adanya orientasi medan, tak adanya komando dari luar gedung, mobil pengangkut pasukan yang parkir begitu saja di tempat terbuka, dan hal-hal sejenisnya.

2. Penggunaan nama “Mad Dog” yang menurut saya kurang pantas dan tak perlu.

Dengan wajah yang 100% pribumi dan kemampuan beladiri didominasi jurus-jurus silat, nickname dengan bahasa lokal lebih tepat dan terkesan lebih menakutkan menurut saya.

3. Wajah Rama yang terlalu bersih dan fisik yang begitu bugar di akhir cerita.

Setelah begitu banyak perkelahian, saya rasa hanya Chuck Norris dan Steven Seagal yang akan tetap klimis dan rapi di akhir cerita. Apalagi luka sayat di pipinya yang sebelumnya tampak bengkak, secara aneh tiba-tiba hilang tak berbekas.

4. Paket aktor utama yang itu-itu lagi.

Ketika seorang aktor identik dengan satu genre film tertentu, itu sah-sah saja. Memang kebanyakan aktor dikenal seperti itu. Ada aktor watak, aktor laga, aktor komedi, dan lain sebagainya. Tapi ketika beberapa aktor selalu bermain dalam satu film dengan genre yang sama dan peran yang juga itu-itu saja, bagi saya ini bukan hal yang baik. Dalam film ini setidaknya ada 3 aktor utama yang juga bermain dalam film Merantau, dengan peran yang persis dan hampir sama. Ketiga aktor itu adalah Iko Uwais sendiri dan Donny Alamsyah, yang sama-sama berperan sebagai kakak-adik, serta Yayan Ruhian yang sama-sama berperan sebagai jagoan tokoh antagonis. Saya berharap semoga film-film berikutnya bisa menghadirkan variasi aktor yang lebih kreatif. Atau kalaupun aktornya sama, perannya bisa lebih diexplore lagi. Jangan sampai era Barry Prima dan Advent Bangun terulang lagi.

Bagaimanapun juga, kekurangan itu tak seberapa jika dibanding prestasinya. Prestasi terbesar menurut saya bukanlah penghargaan dari berbagai festival, tetapi menyelamatkan wajah perfilman Indonesia, yang selama ini saya kira hanya ada Cinta (yang tidak menyentuh), Humor (yang sama sekali tidak lucu), dan Horor (yang selalu “kreatif” menghadirkan jenis-jenis dedemit baru).

Selamat Menonton…

 
Leave a comment

Posted by on April 1, 2012 in Resensi Buku & Film

 

Di Manakah Si Budi dan Keluarganya?

Hari Minggu ­­kemarin, saya mengunjungi pameran buku bertajuk Islamic Book Fair 2012 di Istora Senayan.  Hari itu adalah hari terakhir pameran maka wajar saja kalau pengujungnya membludak.  Di beberapa lokasi bahkan pengunjung harus berdesak-desakan dalam kemacetan layaknya Jalan Sudirman saat jam pulang kantor.   Untuk berjalan sejauh 10 meter saja membutuhkan waktu hingga beberapa menit.

Saya memang suka membeli buku, baik untuk dibaca maupun sekedar memenuhi rak buku yang memang sudah penuh.  Tapi kali ini tujuannya bukan untuk menambah koleksi buku saya.  Tawaran menyumbang buku untuk TK Islam baru di kampung lah yang menjadi motivasi saya.  Itupun karena istri saya yang bersikeras mengajak kesana, mumpung ada pameran kan pasti banyak diskon.  Padahal saat itu dia sedang kurang sehat.  Tapi itulah istri saya, motivasi berbuat untuk orang lain terkadang mengabaikan dirinya sendiri.  Mungkin itu juga salah satu yang membuat saya kagum kepadanya.

Karena mencari buku untuk TK maka fokus pencarian saya di bagian buku anak, dan tentunya yang menawarkan diskon besar-besaran.  Asyik mencari, tiba-tiba mata saya terusik oleh sebuah judul buku yang cukup kotroversial menurut saya.  “Persiapan Memasuki SD. Dilengkapi dengan soal-soal latihan.

Sekilas mungkin tidak ada yang aneh dengan judul buku itu.  Saat membaca judul utamanya “Persiapan Memasuki SD” saya coba menebak isinya.  Saya pikir isinya kurang lebih adalah panduan bagi orang tua untuk mempersiapkan segala sesuatu bagi anaknya yang akan masuk SD.  Entah seperti apa persiapan yang dimaksud tapi yang jelas buku itu adalah untuk orang tua, sama sekali bukan untuk anak yang akan masuk SD.  Tapi judul tambahannya “Dilengkapi soal-soal latihan” itu yang agak menggelitik benak saya.  Satu pertanyaan besar muncul: Memangnya masuk SD ada tes nya ya?

Sebenarnya saya tidak terlalu kaget juga.  Beberapa teman pernah bercerita bahwa sekarang ini untuk masuk SD setiap anak minimal harus sudah bisa membaca.  HAAA….!!! APA….!!! Itulah reaksi saya pertama kali mendengar kabar itu, walaupun hanya dalam hati sih.

Entah kenapa bisa begitu.  Mungkin anak-anak jaman sekarang dilahirkan jauh lebih cerdas sehingga sebelum masuk sekolah formal pun sudah bisa membaca.  Atau kemajuan teknologi yang begitu pesat menuntut anak-anak harus bisa membaca lebih awal agar minimal bisa mengikutinya.  Atau bangsa ini sudah merasa begitu terpuruk sehingga untuk mengejar ketertinggalannya dari bangsa lain, anak-anak harus sudah mulai membaca bahkan sebelum masuk SD.  Ah, entahlah.  Mungkin hanya Tuhan dan sang supir yang tahu, kemana bajaj hendak belok.

Jaman dulu, kalau ada anak yang sudah bisa membaca saat masuk SD maka semua orang akan kagum dan memujinya sebagai anak hebat, pintar, cerdas, dan segala macam pujian lainnya.  Walaupun kemudian saya justru kasihan dengan anak-anak semacam itu.  Karena begitu masuk SD, kelas 1, pelajaran utamanya ya hanya belajar membaca, menulis, dan berhitung.  Lha kalau anak sudah bisa membaca mau belajar apa lagi dia di kelas? Kasihan bukan? Bisa-bisa dia merasa bosan dan akhirnya tak mau lagi sekolah.

Kembali ke jaman sekarang, kemampuan membaca sebelum sekolah bukan hanya dianggap sesuatu yang lumrah, tapi justru menjadi syarat untuk masuk sekolah.  Mungkin memang tak semua SD yang mensyaratkan kemampuan membaca ini.  Pertanyaan saya masih sama, kalau masuk SD anak sudah mahir membaca, lalu di kelas 1 SD mereka mau belajar apa? Yang jelas sudah tak ada lagi pelajaran membaca yang diawali dengan pengenalan huruf.  Dilanjutkan dengan belajar mengeja, lalu membaca potongan kata yang akhirnya membentuk kalimat sederhana.

Bagian inilah bagian favorit saya.  Saat sudah mulai bisa membaca potongan kalimat, dikenalkanlah saya pada seorang tokoh legendaris sekaligus misterius.  Legendaris karena hampir semua buku untuk tingkatan itu selalu menyebut-nyebut namanya, dan saya yakin hampir seluruh anak di negeri ini pada masa itu kenal dengannya.  Misterius karena sampai saat ini saya tidak pernah tahu dari mana asal usulnya dan siapa sebenarnya tokoh ini.  Tak hanya sendirian, dia juga selalu membawa serta keluarganya.

Mungkin anda sudah bisa menebak, tokoh itu adalah si Budi dan keluarganya.  Mungkin anda mengernyitkan dahi sesaat…  Tapi sesaat kemudian anda pasti mengatakan: “Ohhh…”

Ya betul sekali, itulah maksud saya.  Pelajaran membaca pertama saya di SD –dan mungkin seluruh SD di Indonesia pada era itu- adalah kalimat “Ini Budi… Ini Ibu Budi… Ini Bapak Budi… Ini Adik Budi…”

Maka jika sekarang untuk masuk SD setiap anak harus sudah pandai membaca, maka tentu tak ada lagi pelajaran membaca seperti apa yang saya pelajari dulu itu.  Kalau sudah begitu, lalu bagaimana nasib si Budi dan Keluarganya yang legendaris tetapi misterius itu? Di manakah mereka sekarang berada?

 

 
Leave a comment

Posted by on March 19, 2012 in Lain-lain, Uneg-uneg

 
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.