RSS

180 + km (Gowes Bintaro – Bandung via Jonggol)

24 Jun

“GILA….!”

Itulah komentar yang paling sering saya terima dari teman-teman ketika menceritakan perjalanan yang satu ini.

Yak, bersepeda Jakarta – Bandung (tepatnya Bintaro – Bandung) ternyata masih dianggap sesuatu yang gila oleh banyak orang. Padahal buat saya, ini belum apa-apa. Apalagi buat para aktivis sepeda kelas turing jarak jauh, jarak 180-an km tentu hanyalah satu etape dari puluhan etape yang biasa mereka tempuh.

Perjalanan ini berawal dari cerita beberapa teman yang telah melakukan turing sepeda Jakarta – Bandung, baik yang berhasil maupun yang gagal (baca: bersepeda nyambung bis atau angkot). Lalu saya pikir ini patut dicoba juga. Dari sini niat telah berubah menjadi tekad bulat.

Dimulailah persiapan….

#1           Mencari informasi tentang rute yang akan dilalui. Setelah bertanya kesana kemari akhirnya diputuskan untuk memilih rute Jonggol. Pertimbangan utama karena jalur ini relatif lebih sepi dibandingkan jalur lain.

#2           Mencari partner. Karena saya belum cukup “GILA” untuk touring sendirian, dan saya juga merasa kurang dapat menikmati perjalanan jika ikut rombongan besar, maka tim berisi 4 orang menjadi pilihan. Mereka adalah Dika a.k.a. Malingseng, Shavaat a.k.a. Uje, Ren Refli a.k.a. Grandong, dan saya sendiri. Semuanya anak STAPALA.

#3           Menyiapkan  perlengkapan. Perlengkapan utama tentu saja sepeda. Masalahnya, ternyata dari kami berempat, hanya 2 orang yang mempunyai sepeda, yaitu saya dan Malingseng. Tapi ini bukan soal, teman-teman STAPALA yang lain tak akan keberatan dipinjam sepedanya. Akhirnya didapatlah sepeda pinjaman dari Hilman dan Ko Tepi. Saya sendiri juga meminjam pannier Tope*k dari Anggi a.k.a. Gobbog.

#4           Persiapan fisik. Bersepeda ke kantor (yang lebih dikenal dengan b2w dan b2h) seminggu sekali dan CFD-an , yang sudah saya lakukan 3 bulan terakhir, sepertinya cukup. “Kalau rutin b2w sih kuat lah ke Bandung”, begitu kata Bang Iye, pemilik Toko Sepeda “RC Pro” sekaligus aktivis touring senior.

Sabtu, 18 Juli 2009 jam 6.30 pagi, berangkatlah kita berempat dari Kampus STAN Bintaro. Rute Bintaro – Simatupang – Cibubur kami tempuh dengan kecepatan sedang. Masuk Cibubur sekitar pukul 8.30 kami memutuskan untuk istirahat sekaligus mengisi bahan bakar. Ketupat sayur jadi menu pilihan kami pagi itu. Setelah perut terisi penuh, kami lanjutkan perjalanan. Karena tak satupun dari kami yang tahu jalan, maka penunjuk arah dan bertanya ke orang menjadi pemandu arah kami.

Sarapan ketupat sayur di Cibubur

Hari yang mulai panas menjadi tantangan terberat kami. Beruntung jalanan masih cenderung datar. Jarum jam menunjukkan pukul 10.30, ketika sebuah warung es kelapa muda di pinggir sawah menggoda kami untuk berhenti sejenak dan meneguk kesegarannya. Kami tak mau berlama-lama disitu. Sebelum rasa malas datang, kami segera melanjutkan perjalanan.

Masuk wilayah Kecamatan Cariu, tantangan berikutnya telah siap menyambut kami. Ya, jalanan kami rasakan tak lagi datar. Kayuhan pedal terasa semakin berat. Ditambah sengatan matahari yang semakin meninggi, membuat kami harus beberapa kali berhenti sejenak, sekedar untuk mengatur irama nafas dan membasahi tenggorokan.

Setelah panas dan tanjakan, kali ini ditambah lagi perut kami mulai keroncongan. Ternyata tangki bahan bakar kami memang sudah waktunya di refill. Setelah sholat dhuhur di Masjid Jami’ Nurul Iman (masih di Cariu), kami mencari warung makan. Disepakati lah warung makan pertama yang kami temui, menjadi tempat istirahat berikutnya.

Perut kenyang, kantuk datang...

Menu alakadarnya, telor dadar panas, sambel + lalapan, dan es teh manis kami lahap layaknya orang kelaparan yang sudah berhari-hari tidak makan. Pemilik warung sampai kelabakan melayani pesanan kami. Setelah perut kenyang, ternyata muncul masalah baru. Rasa malas dan kantuk menghinggapi. Tak mau terlalu memaksakan diri, akhirnya kami mencari masjid terdekat untuk sekedar merebahkan badan. Member kesempatan agar makanan tadi dikonversi menjadi energi, itulah pembelaan kami.

Setelah istirahat sejenak di sebuah masjid, kami lanjutkan perjalanan. Ternyata jalanan semakin tak bersahabat. Tanjakan terasa semakin curam. Kombinasi crank terkecil dan sprocket terbesar (baca: ngicik) pun harus saya gunakan. Bahkan di beberapa titik, dari kami berempat hanya saya sendiri yang masih bertahan di atas sadel. Sementara Malingseng, Uje, dan Grandong lebih memilih menuntun sepeda mereka. Hmmm… mungkin mereka kasihan dengan sepeda mereka yang tampak kepayahan dipaksa nanjak terus. Sedangkan saya sendiri berjanji akan tetap menggunakan sepeda sesuai peruntukannya, sampai tanjakan ini berakhir.

Bukan nyari tukang tambal ban lho...

Tak selamanya jalan itu nanjak, terkadang ada beberapa bonus turunan juga...

Walaupun kecepatan ngicik saya tak berbeda jauh dengan kecepatan orang jalan kaki, yaitu sekitar 6 kpj, tetapi saya masih bisa mempertahankan posisi di depan. Begitu melihat penjual pisang di pinggir jalan, tiba-tiba saya memutuskan untuk berhenti. Teman-teman di belakang ternyata juga mengamini. Beberapa butir pisang menjadi suntikan energi untuk melahap sisa tanjakan, yang katanya tinggal sedikit lagi.

Beli pisangnya minimal harus 1 sisir, tidak dijual terpisah

Beberapa saat kemudian, sampailah kami di sebuah tower BTS, yang ternyata adalah akhir dari tanjakan ini. Kami berhenti lagi untuk sekedar mensyukuri keberhasilan kami, sekaligus menyiapkan nyali untuk meluncur menyusuri turunan yang menunggu di depan. Langsung saja sepeda kami kayuh dengan kecepatan penuh. Hanya beberapa ratus meter kami mengayuh, selebihnya kami hanya berkonsentrasi untuk selalu siap menarik tuas rem. Cyclocomputer saya menunjukkan angka 60 kpj untuk max speed. Wow…. Susah saya ungkapkan bagaimana rasa dan sensasinya. Kalian harus mencobanya sendiri…!

Akhir tanjakan, saatnya meluncur...

Setelah berhenti untuk sholat ashar di sebuah masjid di daerah Cikalong, perjalanan kami lanjutkan lagi tanpa kesulitan berarti. Hari mulai gelap. Kami kembali berhenti untuk sholat maghrib di Polsek Cikalong. Sebelum melanjutkan perjalanan, kami sempat mencari informasi ke salah seorang polisi di situ. Mengikuti saran beliau, di persimpangan kami memilih jalur ke sebelah kanan. Ternyata jalanan itu benar-benar gelap. Rumah penduduk agak jarang, apalagi lampu jalan, tak ada satupun. Apalagi lampu depan saya sudah terjatuh dan hancur berkeping-keping saat terjatuh di turunan tadi siang. Untung teman-teman masih membawa lampu depan. Jadilah kita gowes gelap-gelapan. Alhamdulillah perjalanan berjalanan lancar, walaupun dengan kecepatan cukup pelan.

Akhirnya sampai juga kami di jalan raya Padalarang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 20.30 dan isi perut juga terasa sudah habis terkuras. Menu pecel lele khas Jawa Timuran menjadi makan malam yang luar biasa nikmat. Setelah perut kenyang, kami memutuskan untuk mengakhiri perjalanan hari itu. Mencari tempat menginap yang aman dan nyaman adalah misi kami berikutnya. Ada 2 opsi tempat menginap, yaitu SPBU dan masjid. Setelah mempertimbangkan berbagai faktor, akhirnya kami memilih masjid Musa’adah sebagai tempat menginap kami. Beruntung penjaga masjid mengijinkan kami menginap. Dan ternyata banyak juga para musafir yang menginap di situ.

Sebelum subuh kami sudah bangun, karena jamaah sudah mulai ramai. Kami juga bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan. Setelah sholat subuh, mandi, dan sarapan, pukul 5.30 kami lanjutkan sisa perjalanan. Udara yang sejuk, badan yang segar, dan jalanan yang relatif masih datar membuat awal perjalanan terasa begitu nikmat. Beberapa kilometer kemudian, kami sudah masuk ke wilayah kabupaten Bandung Barat.

Semalam di Cianjur, siap melanjutkan sisa perjalanan

Selamat datang di Kabupaten Bandung

Berpose di atas sungai Citarum

Jarum jam menunjukkan pukul 8.00 ketika tanjakan Padalarang sudah siap menyambut kami beberapa ratus meter di depan. Sebelum melahapnya, sepertinya kami harus mengisi perut dulu. Kebetulan di kanan kiri jalan ada beberapa warung makan, walaupun sebagian besar masih belum buka. Akhirnya kami memilih warung “Barokah” untuk sarapan pagi itu. Ternyata sebagian masakan nya masih belum siap. Dengan sabar kami menunggu, dan makanan terasa lebih nikmat karena disajikan dalam kondisi panas, fresh from the oven.

Semoga penjual dan pembelinya selalu memperoleh barokah, sesuai nama warungnya,Amien...

Setelah perut kenyang, kami siapkan mental dan dengkul. “Sepertinya tanjakan kali ini tak seberat tanjakan Cariu kemarin”, mufakat kami untuk saling menghibur dan memotivasi diri sendiri. Bertemu beberapa pesepeda, baik yang searah maupun berlawanan arah dengan kami, cukup memberikan hiburan sepanjang perjalanan.

Lewat tebing Citatah, kami tak lupa berfoto-foto dan tentunya istirahat sejenak. Tempat itu tentunya tak asing bagi kami berempat, khususnya bagi Grandong yang memang menggeluti divisi Climbing di STAPALA. Setelah beberapa kali istirahat, pukul 10.30 kami masuk wilayah Cimahi. Rasanya kami sudah sampai tujuan, karena sekarang kami sudah masuk kota. Tak sampai 1 jam kemudian kami sudah masuk kota Bandung. Gedung Sate menjadi tujuan utama kami. Tentunya untuk berfoto-foto, sebagai bukti keberadaan kami di Kota Bandung.

Bukti otentik kami telah sampai di Bandung

Bandung cuy....

Setelah puas berfoto-foto dan minum es cendol, kami menuju ke masjid (lupa namanya) di sebelah gedung DPRD. Setelah mandi, sholat, dan minta tolong seorang teman untuk memesankan tiket kereta ke Jakarta, kami menuju ITB. Hanya sekedar untuk makan siang di sana. Setelah makan siang, kami langsung menuju stasiun Hall untuk pulang kembali ke Jakarta, karena misi kami hanyalah bersepeda sampai ke Bandung. Tak ada rencana untuk tamasya di sana, apalagi kembali ke Jakarta dengan bersepeda.

Sepeda lewat mana ya?

Kereta kami berangkat pukul 17.00 dengan kondisi yang cukup ramai. Soal tiket awalnya kami hanya membeli 1 tiket untuk masing-masing orang. Tapi kemudian petugas tiket minta kami juga membeli tiket untuk sepeda kami. Setelah negosiasi, akhirnya kami diijinkan membayar setengah harga untuk setiap sepeda kami. Agar lebih rapi dan tidak mengganggu penumpang lain, ban depan sepeda kami copot dan kami merelakan tempat duduk kami untuk menyimpan sepeda. Sedangkan kami memilih berdiri dan bersandar di tepi kursi.

Demi sepeda yang hanya bayar setengah harga, kami relakan tempat duduk kami

Sekitar pukul 20.30 kami sampai di stasiun Gambir. Setelah loading sepeda, kami melanjutkan perjalanan pulang. Di sini kami harus berpisah. Malingseng kembali ke kosan nya di daerah Cempaka Putih, sedang kami bertiga kembali ke Bintaro. Sekitar pukul 22.00 kami sampai di di kampus STAN Bintaro dengan selamat.

Gambir, minggu 19 Juli 2009 jam 20.30

Alhamdulillah…

Terima kasih teman, atas perjalanan luar biasa ini.

Kayuh terus sepeda kalian…

 
9 Comments

Posted by on June 24, 2011 in Perjalanan, Sepeda

 

9 responses to “180 + km (Gowes Bintaro – Bandung via Jonggol)

  1. dhanichagi

    June 28, 2011 at 4:21 am

    Mantab om! Baru kali ini ngeliat orang touring pake tas punggung:)

     
  2. andy727

    June 30, 2011 at 11:24 am

    kalo bukan orang bego, mana ada ya om dhani?
    hehe…

     
  3. akar

    August 1, 2011 at 3:20 am

    mantab,,kegiatan-kegiatan ini nih yang bikin ngiri,,hehehehe

     
  4. andy727

    August 1, 2011 at 8:16 am

    @akar kpn qt gowes bareng lg?
    tp d tanjakan gowes trus ya, jgn TTB, hehe…

     
  5. nonizara

    November 7, 2014 at 2:57 pm

    Keren juga touring pake backpack. Punggung rasanya mau copot. Pernah juga begitu. Tapi cuma 80km. Hahahaha

     
    • andy727

      November 7, 2014 at 7:42 pm

      Sbnrnya bukan keren mbak Noni, tp kere… soalnya wktu itu blm punya pannier rack.
      itu pannier pinjeman n g tau klo tasnya bisa diexpand, jd ya terpaksa pake backpack, hehe…

       
  6. poed

    April 14, 2015 at 4:08 pm

    Kapan waktu klo pas mau dong ikut Om….touring

     
  7. Benny

    February 12, 2016 at 1:44 pm

    Sekarang masih suka gowes kah? Saya tinggal dekat kampus stan bintaro, kalau ada touring macem gini mau dong ikutan.

     
    • andy727

      February 15, 2016 at 5:00 am

      Masih suka gowes Om, tp sekarang sy tinggalnya udah pindah ke Depok.
      Makasih udah mampir

       

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: