RSS

3 kg beras, 1 liter minyak goreng, dan 5 bungkus mie instan

01 Aug

Suatu siang yang sangat panas di sebuah perkampungan di ujung utara kota Jakarta, wajah-wajah polos begitu bersemangat menyambut kedatangan sebuah mobil pick-up yang sarat muatan. Padahal anak-anak itu sudah menunggu berjam-jam di dalam masjid yang hanya disejukkan dengan sebuah kipas angin kecil. Tapi tak tampak wajah malas, putus asa, atau kelelahan. Entah apa yang membuat semangat mereka begitu membuncah. Mungkin salah satunya karena muatan yang dibawa mobil pick-up itu.

Sebuah kantong plastik yang hanya berisi 3 kg beras, 1 liter minyak goreng, dan 5 bungkus mie instan mungkin tak berarti apa-apa untuk sebagian dari kita. Kalau saya memberikannya kepada anda, mungkin anda juga tak akan mau menerimanya. Untuk apa? Toh di rumah anda pasti sudah berlimpah barang-barang itu, bahkan mungkin dengan kualitas yang jauh lebih baik.

Tapi bagi anak-anak itu, yang bagi mereka makan adalah suatu nikmat yang begitu berharga, apalagi makan 3 kali dalam sehari adalah sebuah kejadian luar biasa, kantong plastik itu tentu sangat berharga. Paling tidak untuk beberapa hari kedepan, bapak-bapak mereka tak perlu pusing memikirkan stok beras keluarga yang memang tak pernah banyak. Nikmatnya makan 3 kali sehari –walaupun hanya dengan lauk mie instan- dapat mereka rasakan lagi. Guru-guru mengaji mereka pun tak perlu lagi mendengar keluhan rasa lapar yang mereka ungkapkan dengan berbisik. Mungkin itulah yang membuat mereka begitu bersemangat menyambut kedatangan kami. Para anak laki-laki langsung berhamburan menurunkan bungkusan plastik itu dari atas mobil. Seolah bungkusan plastik itu adalah sebuah kantong ajaib yang akan menjadi jalan keluar dari segala permasalahan dan keterbatasan hidup yang mereka alami selama ini.

Anak-anak menurunkan paket dari mobil pick-up

Tapi itu hanya untuk beberapa hari kedepan. Setelah itu, entahlah… Mungkin mereka harus kembali berjuang menghadapi kerasnya kehidupan dengan perut lapar.

Tapi sesungguhnya keajaiban bagi saya adalah para sukarelawan guru mengaji itu. Kakak dan Bunda, begitu anak-anak memanggil mereka. Para pejuang itu rela menempuh perjalanan belasan bahkan mungkin puluhan kilometer dari rumah mereka, hanya untuk mendampingi anak-anak itu belajar mengaji, membaca, atau sekedar bermain. Jangan tanyakan soal gaji atau bayaran, sekedar mendapat ganti ongkos transport pun sudah sangat berarti bagi mereka. Karena seorang pengasuh yayasan itu bercerita bahwa beliau hanya mampu memberikan kompensasi sebesar 10.000,- Rupiah kepada setiap guru ngaji untuk sekali datang. Padahal rumah mereka juga tidak bisa dibilang dekat. Salah satunya ada yang tinggal di Kampung Rambutan. Dengan uang 10.000,- itu mungkin saya tak akan sanggup menempuh perjalanan pulang pergi ke tempat itu.

Sebuah bangunan berdinding kayu reot dan berlantai tanah berukuran tak lebih dari 8 x 3 meter menjadi basecamp mereka. Di situlah anak-anak bermain, belajar membaca, atau sekedar mendengarkan cerita dari kakak-kakak dan bunda-bunda mereka. Sedangkan sebuah bangunan lain yang terdiri dari 1 ruangan dan masih dalam proses pembangunan, akan menjadi sekolah mereka. Kusen dan beberapa bagian lain gedung sekolah itu adalah barang bekas, sumbangan dari warga sekitar, yang dibangun atas inisiatif mereka sendiri.

Basecamp

Seandainya kondisi ini saya temui di pedalaman Papua, di daerah-daerah terluar yang berbatasan langsung dengan negara tetangga, di pulau-pulau terpencil yang hanya bisa dijangkau dengan perahu kecil, mungkin saya akan sangat maklum. Tapi ini Jakarta, pusat segala macam kemewahan, keindahan, dan kesenangan hidup. Pusat pemerintahan, pusat bisnis, pusat perekonomian. Istana negara juga hanya beberapa kilometer dari sana. Gedung-gedung dan bangungan-bangunan mewah juga langsung terlihat hanya beberapa saat setelah meninggalkan wilayah ini.

Sekolah yang masih dalam pembangunan

Kenapa semua itu bisa terjadi? Ah entahlah…

Saya hanya bisa berharap, semoga bungkusan-bungkusan kecil itu benar-benar bermanfaat bagi mereka. Semoga kedatangan kami bisa menjaga api semangat dan harapan di dada mereka tetap menyala. Semoga kepedulian kami membangkitkan kesadaran mereka, bahwa mereka tidak sendiri, bahwa di luar sana masih ada saudara-saudara mereka yang siap membantu mereka.

Semoga bungkusan kecil ini memberikan sedikit kebahgiaan dan semangat untuk mereka

 

Cilincing, 29 Juli 2011

 
4 Comments

Posted by on August 1, 2011 in Lain-lain, Perjalanan

 

4 responses to “3 kg beras, 1 liter minyak goreng, dan 5 bungkus mie instan

  1. hisyam

    August 1, 2011 at 6:40 am

    ..kunjungan yang bikin saya seperti ditampar,…..

     
  2. andy727

    August 1, 2011 at 6:45 am

    Tamparan yang membekas di hati…

     
  3. kartika

    August 1, 2011 at 8:03 am

    Pertama mau bilang.. Aku suka baca blognya.. Bagus.
    Ayo kegitan seperti ini jgn jadi yang terakhir … harus lebih peka ma sekitar dan mensyukuri apa yang kita punya sekarang karena kita begitu jauh lebih lebih lebih teramat sangat beruntung dibanding mereka.

     
  4. Imam Mahdi

    October 20, 2011 at 6:52 am

    Saya suka idenya.. kalau kemarin kan sempet ada penggalangan dana COIN A CHANCE.. kemudian ada Adik Asuh di STAN.. sekarang Coin A Chance semakin ga jelas karena penyelenggaranya udah pada kabur.. kemarin dari hasil Coin A Chance terkumpul dana 1,4 juta rupiah.. dan disumbangkan ke yayasan Panti Asuhan serta Yayasan Rumah Singgah di dekat Pasar Senen..
    InsyaAlloh saya pribadi mendukung.. mari bermanfaat untuk sesamaaa..

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: