RSS

3.726 m dpl, pergantian tahun di puncak sang dewi (part #1)

09 Aug

“Mendatangi tempat-tempat yang sulit untuk didatangi, menikmati keindahan yang tersembunyi, mengagumi indahnya karya sang Mahaindah, selalu menjadi obsesi yang tak pernah terpuaskan.”

Keinginan berkunjung ke Gunung Rinjani berawal ketika saya melihat pameran foto karya rekan-rekan Stapala yang melakukan pendakian ke Gunung Rinjani pada sekitar pertengahan 2006 lalu. Keindahan Rinjani yang ditampilkan dalam bingkai-bingkai hasil bidikan Mas Iday dan Mas Anis memaksa saya untuk berjanji pada diri sendiri bahwa suatu saat nanti saya harus kesana. Tak cukup foto-foto itu untuk memuaskan hasrat saya mencumbui kecantikannya.

Dua tahun kemudian, janji itu terbayar tuntas. Tepatnya tanggal 25 Desember 2008 – 3 Januari 2009, bersama 5 orang sahabat, saya berkesempatan untuk mengunjungi Pulau Lombok. Mereka adalah Ko Tepi, Hilman, Iyok, Ari Tompel, dan Uhe. Saya dan Ko Tepi pada saat itu baru saja menyelesaikan pendidikan D IV dan sedang menunggu pemanggilan untuk kembali masuk kantor, sehingga waktu tidak jadi soal bagi kami berdua. Sedangkan Hilman, Iyok, Ari Tompel, dan Uhe harus mengambil cuti tahunan.

Jakarta – Surabaya

Tanggal 25 sore kami berangkat dari Posko STAPALA di Kampus STAN Bintaro menuju Stasiun Gambir. Pada etape pertama ini kami akan menuju ke Surabaya dengan menggunakan KA Gumarang kelas Bisnis. Untuk menghemat ongkos transport, kami menuju Surabaya menggunakan kereta api. Dari Surabaya kami baru naik pesawat ke Mataram. Begitu juga perjalanan pulang nanti. Cara ini kami pikir adalah paling moderat dari segi biaya dan waktu, dibandingkan dengan naik pesawat atau naik bus langsung dari Jakarta ke Mataram. Dengan pesawat, waktu tempuh menjadi lebih cepat, tetapi dengan biaya yang lebih mahal. Sedangkan dengan bus, biaya jauh lebih murah tetapi dengan konsekuensi waktu tempuh menjadi jauh lebih lama.

Ritual pelepasan ala Posko, Berdoa dan Tos...

Dari Posko, kami hanya berangkat berlima dengan carter angkot. Ko Tepi langsung berangkat dari rumahnya di daerah Rawamangun, karena masih dalam suasana perayaan Hari Natal. Perjalanan menuju Surabaya dilalui dengan lancar. Sepanjang perjalanan kami habiskan waktu dengan bermain Truff, permainan kartu terpopuler di kalangan anak-anak Stapala saat itu. Sejak dari stasiun tadi, kami ditemani kopi hitam satu termos penuh.  Sebuah termos stainless steel baru berkapasitas 1 liter, milik Ko Tepi, yang begitu dibanggakannya.  Dengan termos ini, dalam pendakian nanti kami bisa selalu bisa ditemani minuman hangat di sepanjang perjalanan, mungkin begitu pikirnya.  Tapi apa yang terjadi dengan si termos? Kita lihat saja nanti.

Playing Truff all night long...

Sampai di Stasiun Pasar Turi Surabaya sekitar pukul 7.00 pagi. Tempat yang kami cari pertama adalah tempat makan, karena perut sudah menuntut haknya, setelah semalam dia hanya menyantap nasi bungkus khas kereta api. Soto khas Madura jadi menu sarapan pilihan kami. Setelah perut kenyang kami langsung menuju ke tempat transit yaitu rumah dinas Mas Godel, seorang teman SMA Ari Tompel yang bekerja di Bandara Juanda.  Letak rumah itu berdekatan dengan kompleks Bandara, tak lebih dari 3 kilometer saja jaraknya. Kami kesana menggunakan sebuah mobil carteran.

Soto daging asli Madura, Nyam...

Sampai disana kami istirahat sebentar, membeli beberapa barang yang masih kurang, dan packing ulang. Beberapa barang kami keluarkan dari carrier untuk ditenteng masuk kabin, karena ternyata maskapai yang akan kami gunakan –sebut saja Citylink- tidak menyediakan fasilitas bagasi free sedikitpun, sehingga barang yang masuk bagasi akan dikenakan charge. Daripada harus bayar lagi, kami memilih untuk menenteng barang-barang sebanyak yang mampu kami bawa masuk ke kabin. Dengan cara itupun ternyata biaya bagasi untuk seluruh tas kami masih mencapai hampir Rp500.000,- . Disana kami juga bertemu Wiwit alias Pak RT, anak STAPALA yang tinggal di Surabaya.  Dialah yang mengantar saya untuk membeli sandal gunung, sebagai ganti sandal saya yang ketinggalan di Jakarta, serta membeli beberapa barang keperluan lainnya.

Pak RT (paling kiri), Uhe, dan Ko Tepi sedang bersantai di rumah Mas Godel

Untuk urusan tiket pesawat, Hilman penanggungjawabnya. Dialah yang memesan tiket Surabaya – Mataram PP untuk kami semua. Tak ada satupun dari kami berlima yang ikut campur urusan tiket ini. Bahkan seperti apa wujud tiket itu, tak satupun dari kami yang pernah melihatnya, apalagi memegangnya. Hanya Hilman seorang lah yang tahu. Kami hanya bertanya tanggal dan jam keberangkatan pesawat, lalu mengingatkan agar tiket jangan sampai ketinggalan. Menurut dia, pesawat kami akan berangkat jam 7 malam. Mengingat dan menimbang reputasinya selama ini, kami semua percaya saja.

Sekitar jam 15.30 kami hampir selesai packing, hanya tinggal beberapa barang kecil saja yang belum masuk. Karena pesawat masih cukup lama, kami bersantai sejenak. Lalu dimulailah tragedi itu. Kejadian berawal ketika Mas Godel meminjam tiket pesawat dari Hilman untuk sekedar mengeceknya. Lalu dia bilang bahwa disitu tertulis take off jam 17.00 alias jam 5 sore, bukan jam 7. Awalnya kami semua menanggapi dengan santai: “yang bener Mas…! Salah lihat kali…” Kami semua pun melihat tiket itu, dan ternyata memang benar adanya. Pesawat memang take off pukul 17.00…!

Tanpa komando siapapun, kami pun langsung bergerak cepat. Semua barang segera dimasukkan tas. Mobil pinjaman pun diambil. Dalam perjalanan, temen Mas Godel yang mengantar kami masih menyempatkan diri mampir ke SPBU. Dengan santainya dia bilang “Tenang aja, masih keburu kok.” Kalau melihat jarum jam yang sudah lewat dari jam 4 sore, sulit untuk mempercayainya. Tapi kalau mempertimbangkan jarak ke Bandara yang dekat, serta kapasitas beliau yang memang setiap hari bertugas di dalam bandara, dengan berat hati kami percaya saja dan berusaha menenangkan diri.

Om Pilot... Tunggu kami...!

Sampai di Bandara, kami langsung berlarian menuju terminal keberangkatan. Untung saja Mas Godel, yang sudah berangkat duluan dengan motor, telah menyiapkan jalur khusus untuk kami yang jaraknya lebih dekat, yang sebenarnya bukan untuk umum. Sampai di tempat check in petugas mengatakan bahwa penumpang memang masih bisa masuk, tapi bagasi sudah ditutup. Kalau tidak bawa carrier, lebih baik kami tidak jadi berangkat, begitu pikir kami. Mau ngapain kami kesana? Tetapi lagi-lagi berkat bantuan Mas Godel, dengan menunjukkan kartu ajaib ditambah sedikit kemampuan negosiasi, petugas bagasi pun luluh juga. Akhirnya kami dan barang-barang kami semua bisa masuk pesawat dan terbang menuju Mataram.

Bersambung…

 
Leave a comment

Posted by on August 9, 2011 in Perjalanan

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: