RSS

Sumpah Pemuda, Riwayatmu Kini…

02 Nov

Seandainya ada lembaga yang mau mengadakan survey soal Sumpah Pemuda, dengan responden segala macam pemuda dari seluruh wilayah Indonesia, menurut perkiraan saya hasilnya kurang lebih akan seperti ini: Dari 10 orang responden hanya 8 yang tahu tentang Sumpah Pemuda. Dari 8 orang yang tahu soal Sumpah Pemuda, tak akan lebih dari 5 orang yang hafal isi teksnya. Kalau ditelusur lebih jauh, jumlah orang yang mengamalkan isi Sumpah Pemuda kemungkinan akan lebih kecil lagi. Asumsinya tak semua orang yang tahu dan hafal, akan mengamalkan isinya.

Saya sendiri termasuk golongan yang tahu tapi tidak hafal isi Sumpah Pemuda. Nah mumpung peringatan Sumpah Pemuda belum terlalu jauh, saya mencoba menghafal kembali isinya:

Versi aseli:

Pertama
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.

Kedoea
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.

Ketiga
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

 

versi Ejaan Yang Disempurnakan:

 

Pertama
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah air Indonesia.

Kedua
Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu, bangsa Indonesia.

Ketiga
Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia.

Peringatan Sumpah Pemuda memang sudah lewat. Bahkan peristiwa Sumpah Pemuda itu sendiri sudah terjadi lebih dari 83 tahun yang lalu. Masih perlukah kita menghafal isi teks tua itu? Masih perlukah kita sekedar mengetahui tentang maksud dan latar belakang hingga para pemuda pendahulu mengikrarkan sebuah sumpah? Masih perlukah kita menyimak cerita-cerita di balik lahirnya sumpah mulia ini?

Soal menghafal, atau mengetahui maksud, latar belakang, dan sekadar cerita di balik lahirnya Sumpah Pemuda itu pekerjaan mudah dan sepele. Cukup membaca salah satu bab dalam buku teks sejarah pun semuanya langsung terselesaikan. Bahkan hanya dengan memanfaatkan jasa mesin pencari di internet hal itu bisa dilakukan dengan lebih mudah dan cepat.

Yang jauh lebih penting sejatinya adalah soal pengamalan dan perwujudannya dalam kehidupan nyata. Di jaman penjajahan dulu, Sumpah Pemuda telah menjadi salah satu alat pemersatu bangsa. Dengan Sumpah Pemuda, para pemuda sejenak melupakan segala hal berbau golongan, kelompok, kedaerahan, kesukuan, untuk berfokus pada kepentingan bangsa. Untuk membela dan membebaskan tanah air dari belenggu kolonialisme. Untuk mempersatukan seluruh rakyat dengan media bahasa yang begitu dibanggakan dan dijunjung tinggi.

Lalu bagaimana keadaannya sekarang? Berikut hasil pengamatan dengan kacamata awam saya:

Yang paling sederhana soal bahasa, penggunaan bahasa asing khususnya Inggris sudah menjadi hal yang sangat lumrah bahkan hukumnya mengarah ke “sunah” sebagai bahasa pergaulan di kalangan pemuda.  Lihat saja para pemuda yang lebih familiar dengan istilah semacam download, apload, atau link dibandingkan dengan istilah unduh, unggah, atau tautan.  Tak sekedar familiar, tapi mereka juga lebih suka dan bangga menggunakan bahasa Inggris dibandingkan dengan Bahasa Indonesia.  Tak sedikit juga orang yang mengernyitkan dahi tanda kebingungan saat mendengar sebuah kata yang asing di telinga. Padahal kata itu adalah kata asli Indonesia yang langsung berasal dari Kamus Besar Bahasa Indonesia. Tapi ketika kata itu diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris mereka langsung menganggukkan kepala tanda faham maksudnya.

Soal bangsa dan tanah air, tampaknya sekarang tak sedikit orang yang malu menjadi orang Indonesia. Alih-alih bangga terhadap negerinya, mereka lebih banyak menyesal terlahir sebagai orang Indonesia asli.  Kalaupun tak malu atau menyesal menjadi orang Indonesia, tapi tak sedikit orang yang lebih bangga terhadap hal-hal berbau asing atau luar negeri dibandingkan negeri sendiri.  Contoh yang tentu sudah sering dibahas disana sini adalah soal penggunaan barang-barang atau produk.  Bagi kebanyakan orang produk asing atau merk asing dianggap lebih bagus, keren, dan bergengsi dibandingkan produk dalam negeri.  Contoh lain orang kita sering merasa rendah diri, minder jika berhadapan dengan orang asing khususnya “bule”.  Seringkali orang asing selalu dianggap lebih pintar, lebih jago, lebih hebat, dan lebih segalanya dibandingkan orang pribumi, hingga akhirnya orang-orang asing itu dipekerjakan dan digaji tinggi disini.

Contoh lain, banyak orang lebih bangga jika bisa berlibur atau sekedar berkunjung ke luar negeri dibandingkan jika berlibur di negeri sendiri.  Semakin jauh atau semakin besar atau semakin (dianggap) hebat negara yang dikunjungi, semakin banggalah dia. Padahal apa yang dikunjunginya disana sebenarnya mungkin juga ada disini.  Atau paling tidak keindahan dan kehebatan disini tak kalah dengan luar negeri.  Tapi tetap saja berlibur ke Paris dianggap jauh lebih hebat, lebih membanggakan, lebih bergengsi, dan lebih layak diceritakan pada orang-orang dibandingkan berlibur ke sebuah tempat di pedalaman Papua.

Itu semua hanyalah penilaian saya, yang semata-mata bersifat subjektif tanpa dasar ilmiah sedikitpun.  Itu hanyalah kegelisahan dan kekhawatiran saya, yang semoga tidak benar-benar terjadi.  Atau kalaupun sudah terjadi, tidak menjadi semakin menjadi-jadi.  Semoga semangat dan nilai-nilai luhur Sumpah Pemuda akan selalu tertanam terjaga didalam dada setiap warga negara Indonesia sampai kapanpun selama negara ini masih ada…

 
Leave a comment

Posted by on November 2, 2011 in Lain-lain, Uneg-uneg

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: