RSS

Pemersatu itu bernama Sepakbola

14 Nov

Sore itu suasana di Stadion Utama Gelora Bung Karno terasa sedikit berbeda, jika dibandingkan 2 event serupa yang telah lewat.  Pada 2 pertandingan sebelumnya di ajang Sea Games 26 ini, hanya sekitar 5 ribu penonton yang menyaksikan langsung. Cukup lengang untuk Stadion berkapasitas 80 ribu lebih tempat duduk.  Tapi sore ini penonton membludak.  Masuk ke kompleks GBK, sejauh mata memandang hanya merah putih yang tampak, dengan segala bentuk dan aneka rupa pernak-pernik nya.  Tempat parkir di pintu masuk Masjid Al-Binna pun sampai tak muat lagi.  Lahan parkir di gedung seberang jalan pun jadi sasaran para penonton. Padahal pertandingan baru dimulai lebih dari 1,5 jam lagi. Berbeda dengan 2 pertandingan yang lalu, pertandingan sudah mulai pun saya masih bisa parkir disini.

Merahnya GBK sore itu

Entah karena hari Minggu, atau karena Thailand yang menjadi lawan kali ini cukup berat, atau karena trend permainan Garuda muda yang tampil impresif dan menuai hasil positif di 2 laga sebelumnya, kali ini penonton benar-benar membludak. Mulai pasangan muda mudi, sekeluarga lengkap bapak ibu dan anak-anaknya, seorang suporter Persela (atau Persekabpas ya…?) yang selalu tampil dengan dandanan nyentrik: kepala botak, bertelanjang dada berbalur body painting putih di sekujur tubuhnya, gerombolan suporter fanatik macam Aremania yang datang langsung dari Malang, hingga orang-orang kesepian yang datang sendirian macam saya, semuanya ada. Satu  yang pasti, seluruh yang hadir di GBK sore itu punya tujuan dan harapan yang sama: Kemenangan bagi Indonesia…

Suasana di dalam stadion begitu bergelora, sesuai nama stadion ini.  Lengkingan terompet, deru genderang, dan teriakan para penonton sahut menyahut tiada henti, bahkan sebelum kick-off dilakukan. Seluruh tempat duduk, mulai dari VIP hingga tribun atas berubah menjadi merah. Saat Indonesia Raya diperdengarkan dan seisi GBK ikut mengumandangkan, terasa dada bergetar hebat penuh rasa bangga. Saya yakin anda akan merasakan hal yang sama jika berada di sana. Sayang, banyak penonton yang belum hafal lagu kebangsaan sendiri.  Mereka sudah bertepuk tangan dan membunyikan terompetnya saat Indonesia Raya menyisakan satu bait terakhir. Mungkin mereka terlalu bersemangat hingga lupa bahwa bait terakhir Indonesia Raya itu dinyanyikan 2 kali. Satu lagi yang sangat disayangkan, saat lagu kebangsaan Thailand diperdengarkan masih banyak penonton yang berteriak dan membunyikan terompet. Perilaku yang sangat tidak pantas menurut saya. Coba bayangkan seandainya itu terjadi pada lagu kebangsaan kita.

Jalannya pertandingan cukup menarik. Tempo cepat dan permainan keras hingga berakibat wasit mengobral kartu. Perjuangan para Garuda muda, dengan dukungan puluhan ribu penonton berakhir manis. Kemenangan 3-1 memastikan langkah timnas melaju ke semifinal.

Tapi ada yang tak kalah menarik bagi saya selain permainan cantik yang diperagakan para Garuda muda. Ada yang lebih mengusik batin saya dari sekedar sebuah pertandingan cabang sepakbola Sea Games. Puluhan ribu orang dari berbagai latar belakang, golongan, daerah semuanya tumpah ruah menjadi satu. Mereka menyanyikan lagu yang sama, meneriakkan yel-yel yang sama, mengenakan kostum yang sama, mendukung tim yang sama, tanpa ada perintah, tanpa ada paksaan. Gerakan “Mexican Wave” pun bisa mengalir dari satu ujung tribun hingga ujung yang lain, tanpa ada sesi latihan bersama.

Saat bola mengalir ke pertahanan lawan, sontak semua orang beranjak dari duduknya dengan wajah penuh harap, tanpa ada komando dari siapapun. Saat bola berhasil dikuasai pemain lawan, serentak teriakan “Huuu….!!!” membahana di seluruh penjuru. Saat lesakan gol demi gol tercipta, lonjakan dan teriakan girang semua orang seolah mampu menggetarkan kokohnya salah satu stadion terbesar di Asia Tenggara ini. Saat peluang emas gagal berbuah gol, ekspresi kecewa tiba-tiba terpasang di wajah setiap orang. Saat keputusan wasit dianggap merugikan timnas atau saat pemain lawan melakukan pelanggaran keras, semua orang berteriak marah. Semuanya hanya untuk satu harapan, satu tujuan, Indonesia Juara.

Ternyata sore itu, di dalam stadion itu, demi sebuah pertandingan, demi sebuah kebanggaan, bangsa ini bisa bersatu. Ternyata bersatunya bangsa ini bukan hanya ada saat perjuangan melawan penjajah, sebagaimana tertulis dalam buku sejarah dan tertutur melalui cerita kakek nenek. Sebuah adagium bisa saya kemukakan: Pertandingan sepakbola bisa menyatukan bangsa.

Saya jadi berandai-andai, seandainya apa yang terjadi di dalam stadion sore itu bisa terjadi di luar stadion, di negeri tercinta ini, tentu dampaknya akan luar biasa. Ketika semua orang tak lagi mementingkan dari mana dia berasal, apa golongan dan kelompoknya, bagaimana latar belakangnya. Ketika semua sadar sedang menghadapi lawan yang sama, tak ada lagi pertempuran antar sesama. Ketika setiap peluang dan potensi dimanfaatkan untuk mencapai harapan yang sama, harapan bersama, bukan sebaliknya. Ketika setiap keberhasilan dirayakan dengan kegembiraan, dengan kebahagiaan semua orang, bukan sebaliknya. Ketika setiap kegagalan membuahkan kekecewaan, tapi tetap diiringi tekad, dukungan dan kemauan untuk kembali melawan. Bukan hujatan, cacian, dan omelan yang dilontarkan. Ketika pihak-pihak ingin mengacaukan, merugikan, mengambil keuntungan, semua orang marah lalu melawan.

Ah itu angan-angan yang terlalu berlebihan mungkin. Terlalu jauh. Mari berangan-angan yang lebih sederhana saja. Seandainya sepakbola berhasil menjadi juara dan kembali merajai, paling tidak di level Asia Tenggara. Seandainya suatu saat ketika hasil pertandingan tidak sesuai harapan, dukungan tak berkurang, tetap luar biasa seperti sore itu.

Hmmm… bukan seandainya, tapi SEMOGA.

 
Leave a comment

Posted by on November 14, 2011 in Lain-lain, Uneg-uneg

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: