RSS

Monthly Archives: December 2011

Hore… Kantorku Punya Parkir Sepeda

Akhir tahun adalah saat yang paling tepat untuk melakukan pengadaan, pembangunan, maupun renovasi berbagai macam barang dan bangunan. Setidaknya itulah kepercayaan yang dianut oleh hampir seluruh institusi pemerintah di negeri ini, termasuk institusi tempat saya mengabdi (sebut saja sebuah kementerian di kawasan Lapangan Banteng).  Entah apa dasar pemikirannya, tak tahu dari mana landasan teorinya, hingga muncul keyakinan seperti itu. Yang jelas itulah realita yang nyata-nyata terjadi di sini. Meja kursi baru berdatangan, gedung-gedung lama dipercantik, taman-taman didesain ulang, jalan raya digali, dan masih banyak lagi hal serupa.

Dari sekian banyak pengadaan, hanya satu hal kecil yang menarik bagi saya. Ya, apalagi kalau bukan parkiran sepeda. Ahay…. Kantor ini sekarang punya parkiran sepeda…!

Ada 3 buah benda semacam ini, di lokasi yang berbeda

Lalu ada hubungan apa antara keyakinan tentang akhir tahun dengan parkiran sepeda itu? Begini ceritanya:

Gerakan bersepeda ke tempat kerja (b2w) di lingkungan kantor saya sempat mengalami pasang surut. Sekira 3 tahun yang lalu gerakan ini sempat menempati rating yang tinggi. Ada beberapa pegawai yang cukup aktif bersepeda ke kantor. Walaupun tak terlalu banyak jumlahnya, tapi paling tidak saat kami berkumpul sudah tampak seperti sebuah komunitas atau rombongan sepeda. Saat itu kami sempat membuat kostum/jersey seragam. Dengan sering “ngumpul-ngumpul” apalagi dengan jersey seragam, semakin nyata lah eksistensi gerakan b2w ini. Target selanjutnya adalah memperjuangkan tempat parkir khusus sepeda. Menurut informasi yang saya dapat, saat itu beberapa teman sudah sempat mengajukan permohonan secara resmi untuk pembuatan tempat parkir khusus sepeda.

Seiring berjalannya waktu, gerakan b2w di kantor saya mengalami pasang surut. Tak tampak lagi para pegawai bersepeda berkumpul di hari Jumat pagi. Setali tiga uang nasib tempat parkirnya, permohonan yang sudah diajukan tak kunjung berbalas. Hanya sesekali tampak satu dua orang yang masih setia dengan sepedanya setiap kali pergi ke kantor.

Kemudian 1 tahun terakhir ini gerakan b2w mulai menggeliat lagi. Teman-teman yang sudah lama menggantung sepedanya di gudang, terpanggil lagi untuk kembali mengayuhnya ke kantor. Teman-teman –terutama pegawai baru- yang belum punya sepeda tergugah untuk menebus sepeda idaman. Bahkan ada seorang teman yang sebelumnya alih-alih bersepeda ke kantor, naik sepeda saja tidak bisa, ikut terprovokasi untuk membeli sepeda. Walaupun dalam pada akhirnya beberapa bulan kemudian teman saya itu menjual lagi sepedanya. Namun setidaknya kini dia sudah bisa dan berani naik sepeda di jalan raya.

Melihat peminat sepeda yang semakin meningkat, kami pikir inilah momen yang tepat untuk kembali melanjutkan program yang tertunda, pembuatan tempat parkir sepeda. Kalaupun sampai perlu acara demo segala, massa kami sudah cukup banyak. Haha… Maka setelah menggalang dukungan dan melakukan lobi kesana kemari, kami kembali mengajukan permohonan secara resmi kepada pihak yang berwenang.

Singkat kata, entah karena apa, tren bersepeda di kantor saya mulai meredup lagi. Tinggallah segelintir orang yang belum sembuh “gila” nya dan semakin parah kecanduannya pada sepeda. Mungkin termasuk saya. Tempat parkir yang kami tunggu-tunggu tak kunjung ada. Bahkan kabar berita dan perkembanga sudah sejauh mananyapun tak terdengar lagi. Saya sudah pasrah saja.

Tapi ternyata doa dan harapan kami tak sia-sia. Beberapa hari yang lalu saya melihat sebuah benda aneh berwarna kuning. Setelah saya amati terdapat simbol sepeda pada di bagian atasnya, saya menyimpulkan dengan penuh keyakinan bahwa ini adalah sebuah tempat parkir sepeda. Hurray…!!!

Demi tidak mengklaim bahwa tempat parkir ini adalah hasil usaha kami, maka saya anggap pembuatan tempat parkir ini adalah buah manis dari keyakinan tentang akhir tahun yang saya ceritakan di awal tadi. Dan dengan mengabaikan soal desain dimana jarak antar palang terlalu lebar sehingga kurang bisa menahan sepeda yang bersandar, keberadaan tempat parkir ini adalah sebuah langkah maju, kalau tak boleh disebut sebuah lompatan. Semoga dengan keberadaan tempat parkir ini, semangat kehidupan bersepeda di kantor saya kembali bergelora. Dan kalau boleh berkhayal, semoga suatu saat nanti tempat parkir motor dan mobil tergusur, berubah menjadi benda kuning aneh berlogo sepeda seperti ini.

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on December 29, 2011 in Sepeda

 

3.726 m dpl, pergantian tahun di puncak sang dewi (part #3 habis)

Mari kita lanjutkan cerita yang cukup lama tertunda…

Segara Anak from top

30 Desember 2008

Setelah kembali ke Pelawangan, kami langsung sarapan dengan menu hasil racikan 2 orang porter kami. Entah cerita orang yang bohong atau kami yang kurang beruntung memilih porter, masakan mereka tak seperti yang kami harapkan. Tapi beruntung rasa lapar menghipnotis kami sehingga saat itu masakan itulah makanan terlezat yang pernah kami santap. Setelah sarapan rencananya kami langsung packing lalu menuju ke Segara Anak. Tapi apalah daya, perut kenyang  dan rasa letih berdampak buruk pada mata. Kantuk hebat tiba-tiba menyerang. Tanpa komando siapapun kami semua terlelap. Entahlah dengan 2 porter, mungkin mereka terlelap juga.

Perut kenyang, kantuk datang

Tak lama kami sudah terbangun lagi. Kabut mulai menyelimuti. Kami pun segera bergegas packing. Para pendaki  lain yang juga menginap di Pelawangan ternyata sudah lebih dulu turun. Kami rombongan terakhir yang akan turun. Tapi ternyata kami tak sendirian. Saat kami mulai packing dan membersihkan sampah, segerombolan monyet gunung merangsek ke arah kami. Mata mereka menatap nanar penuh selidik mencari-cari barang apa yang bisa mereka gondol. Kami pun memasang sikap waspada.

Jangan kabur lu...

Saat kami lengah, sebotol minyak goring yang membeku berhasil mereka bawa kabur. Selain terganggu, kami pun sebenarnya cukup terhibur oleh mereka. Bahkan Hilman dan Ko Tepi sedikit bermain dengan mereka. Sambil takut-takut mereka mengulurkan cuilan kue dan biscuit kepada para monyet. Beberapa monyet besar pun menghampiri dan segera merenggut kue-kue yang disodorkan.

Harus rukun dengan saudara

Sang pawang beraksi

Puas bermain-main dengan penghuni lokal, sekitar pukul 11.00 WITA kamipun segera meluncur turun menuju Segara Anak. Saatnya berpesta menyambut tahun baru. Belum lama berjalan gerimis mulai turun. Trek berbatu yang licin karena hujan membuat langkah kami agak melambat. Hampir sepanjang perjalanan gerimis menemani kami. Beberapa saat reda tapi tak lama kemudian turun lagi rintik hujan. Begitu terus sepanjang perjalanan. Akhirnya sekira pukul 3 sore kami sampai juga di Segara Anak. Di situ sudah ada 3 tenda yang berdiri. Mereka memilih lokasi di tepi danau yang terbuka. Pilihan yang tepat jika anda mencari sensasi dan aroma air danau yang berkecipak. Tapi kami lebih memilih kenyamanan, mengingat cuaca saat itu cenderung hujan. Maka kami pun memilih lokasi tenda agak menjauh dari tepi danau, di tempat yang terlindung oleh rindang pohon. Kami juga memanfaatkan sebuah pos sebagai tempat memasak dan berkumpul. Kami benar-benar siap untuk berpesta.

Setelah tenda berdiri dan semua barang rapi di tempatnya, kami segera bersiap melakukan salah satu ritual wajib di Segara Anak: Mancing… satu alat pancing baru yang ketinggalan entah dimana tak menghalangi acara mancing kami. Beruntung persediaan senar dan mata kail cukup banyak. Mancing mania pun dimulai. Hingga gelap mulai menyelimuti, kami baru beranjak dari ritual mancing ini. Beberapa ekor ikan berhasil kami kumpulkan walaupun tak ada yang berukuran jumbo. Kecuali saya, sepertinya semua orang berhasil menaikkan minimal satu ekor ikan. Sedangkan saya, tak satu ekor ikan pun yang bisa saya dapat. Ah mungkin saya hanya kurang beruntung. Besok masih ada waktu.

Mancing mania

Malam hari tiba, saatnya pesta bakar ikan. Ekor demi ekor ikan mulai kami masak lalu langsung disantap. Para penghuni lokal pun sepertinya ingin ikut berpesta menyantap ikan. Kali ini bukan lagi monyet yang berkuasa, tapi anjing hutan. Sepertinya lebih menyeramkan. Tapi ternyata anjing lebih pemalu daripada monyet. Mereka cenderung menghindar saat berhadapan dengan manusia.

Puas pesta ikan, kamipun bergegas menuju peraduan. Tidur nyenyak malam itu. Besok pagi bangun bebas, tak ada acara kemana-mana. Seharian besok kami masih akan bertamasya di Segara Anak. Menghabiskan tahun 2008.

31 Desember 2011

Hari ini acara bebas. Tak ada rencana kemana-mana. Saatnya menjelajah.

Pagi ini dua porter kami pulang. Sesuai perjanjian kami hanya menggunakan jasa mereka sampai disini. Untuk turun besok kami tak perlu lagi porter karena barang bawaan kami jauh berkurang.

Tempat pertama yang kami sambangi adalah sumber air tawar. Untuk mencapainya cukup berjalan sekitar 20 menit pulang-pergi. Sumber air itu berupa sebuah mata air kecil dari celah bebatuan. Tak jauh dari sumber air itu terdapat pemandian air panas. Inilah salah satu tempat yang wajib dikunjungi di Segara Anak ini. Mata air di pemandian ini dialirkan melalui pipa-pipa besi. Kolamnya dibuat beberapa kotak dengan tingkat suhu yang berbeda. Dari yang paling panas hingga yang cukup hangat. Kami pun tak melewatkan acara berendam.

Kolam level 2

Puas berendam kami kembali ke tenda untuk makan dan bermalas-malasan. Sebagian kami melanjutkan ritual mancing. Sedangkan saya sendiri tak lagi ikut mancing, saya pikir ini bukan peruntungan saya.

Sore harinya saya dan Ari “Tompel” bersama teman pendaki dari Jogja (lupa namanya) mengunjungi air terjun. Mereka yang sudah tempatnya jadi kami ikut saja. Membutuhkan waktu sekitar 25 menit untuk mencapainya dari Segara Anak. Sepertinya jalan menuju ke air terjun ini jarang dilewati. Semak belukar menutupi beberapa bagian jalan. Bahkan kami harus meniti batang pohon untuk menyeberangi sebuah sungai kecil. Air terjun ini tak terlalu tinggi, mungkin hanya sekitar belasan meter. Yang menarik air terjun ini bukan air tawar tapi air belerang. Bekas belerang yang menempel di dinding batu membentuk gurat-gurat warna hijau bergradasi. Di samping air terjun terdapat ceruk-ceruk semacam gua kecil. Di beberapa bagian dihuni oleh monyet yang menatap curiga pada kami.

Air terjun

Puas borfoto dan menikmati suasana, kami kembali ke tenda. Tim pemancing berhasil mengumpulkan lebih banyak ikan. Mungkin itu untuk menyemarakkan pesta tahun baru nanti malam. Saya sih jadi penikmat saja. Setelah kemarin gagal mendapatkan ikan, hari ini saya lebih memilih tak memancing lagi. Mungkin ini bukan bidang saya. Lagian kalau semua orang mancing, terlalu banyak ikan yang ditangkap, siapa yang akan memakannya?

Malam hari tiba, saatnya pesta ikan lagi. Sayangnya kemampuan memancing ikan kami ternyata tidak diimbangi dengan kemampuan untuk menyantapnya. Atau mungkin jumlah ikan yang terlalu banyak. Ikan masih banyak tapi kami tak lagi sanggup melahapnya. Kami coba tawarkan ke tenda tetangga, tapi mereka juga punya menu yang sama. Semakin malam, cuaca kurang bersahabat. Angin kencang dan hujan terus mengguyur. Beberapa rombongan pendaki lagi yang datang. Satu rombongan sempat kehilangan beberapa anggotanya yang katanya posisi terakhir di depan tapi hingga sweeper datang mereka tak juga muncul. Kami pun bersiap melakukan pencarian. Tapi syukurlah tak lama kemudian mereka muncul dengan selamat. Segara Anak semakin ramai malam itu.

Tak sampai terlalu larut kami sudah membaringkan diri. Besok kami harus bangun pagi untuk packing dan melakukan perjalanan turun. Direncanakan paling lambat pukul 8.00 kami sudah meluncur.

1 Januari 2009

Hari pertama di 2009 kami bangun pagi-pagi. Tapi rasa malas menghinggapi. Setelah sarapan dan packing, baru sekitar pukul 8.30 kami siap meluncur. Beberapa rombongan sudah turun duluan, sementara masih ada juga yang tinggal. Cuaca cerah sekali hari ini. Rasanya masih ingin tinggal lebih lama di sini. Tapi waktu tak memungkinkan.

Awal perjalanan, tujuan kami adalah puncak di latar belakang

Rute turun kami adalah melalui Senaru. Bukan kembali ke Sembalun. Karena letak Segara Anak yang dikelilingi gunung, maka perjalanan turun kami tidak benar-benar turun. Perjalanan justru kami mulai dengan mendaki. Sebuah jalan bercabang sempat membingungkan dan membuat kami salah jalan. Setelah menerobos semak, dipimpin Hilman dan Ko Tepi, kami akhirnya kembali ke jalan yang benar. Cuaca cerah berarti juga panas. Ditambah trek yang masih terus mendaki, membuat kami cukup kelelahan. Sekitar pukul 12.00 kami sampai di Pelawangan Senaru. Mulai dari sini perjalanan turun yang sebenarnya baru dimulai.

Katanya mau turun tapi jalan malah nanjak terus

Hilman yang begitu jumawa saat mendaki kemarin, tak lagi tampak di depan. Kali ini dia berganti peran jadi sweeper, karena ada sedikit masalah pada kakinya. Walaupun jalan turun, dia tetap berjalan pelan. Sementara yang lain berlari.

Bahkan ada trek vertikal

Setelah melewati beberapa pos dan sempat bertemu dengan pendaki asing, sekitar pukul 16.30 kami sampai di pintu gerbang Senaru. Di situ kami melihat sebuah warung. Tanpa komando, kami semua langsung merapat. Teh manis hangat dan beberapa butir pisang menjadi suntikan energi untuk kami. Lalu kami lanjutkan perjalanan menuju Pos Senaru. Setengah jam kemudian kami sudah tiba di Pos. Hujan kembali turun saat kami tiba di Pos. Setelah sholat Ashar kami sempatkan belanja beberapa merchandise di Pos. Sementara Ko Tepi –dengan kemampuan negosiasinya- mencari mobil carteran untuk membawa kami menuju Mataram, ke tempat Mas Tamim.

Pintu gerbang Senaru

Menjelang maghrib mobil carteran didapat dan kamipun langsung meluncur.

Malam tahun baru yang tak kan pernah terlupakan…

Terima kasih untuk Ari Tompel-695, Hilman-722, Iyok-736, Uhe-768, dan Ko Tepi-829 atas perjalanan hebat ini…

 
2 Comments

Posted by on December 22, 2011 in Uncategorized

 

Kepercayaan Diri ku dari Sepeda

Si Domi

Apa yang membuat anda merasa hebat? Apakah penampilan yang good looking; mulai wajah rupawan masuk kategori camera face, kulit putih mulus, tubuh langsing atletis dengan perut rata bermotif six-pack dan otot bergelombang menonjol disana-sini, hingga rambut hitam lurus lebat bak bintang iklan semir rambut. Ataukah gaya berpakaian anda yang selalu fashionable dan up-to-date, bermodal pakaian bermerk dengan model yang sedang menjadi trend, urusan cocok atau tidak itu bukan soal, karena trend adalah segalanya. Ataukah dukungan gadget pintar serba canggih seri terbaru dengan fitur lengkap yang bahkan jarang anda gunakan. Atau justru tunggangan anda lah yang menurut anda menentukan jati diri dan kepribadian anda. Motor sport berkapasitas mesin super besar, bodi bongsor, dan suara menggelegar, atau mobil mewah mentereng berpelek bling-bling yang harga 1 biji spionnya saja jutaan Rupiah.

Semua itukah yang membuat membangkitkan rasa percaya diri anda?

Tapi tidak bagi saya. Tak satupun dari semua itu.

Bukan karena semua itu salah, atau tidak penting, atau tidak cukup hebat hingga bisa memunculkan rasa percaya diri. Sekali lagi bukan. Tapi lebih karena tak satupun dari semua itu yang ada pada diri saya.

Penampilan dan wajah saya pas-pasan, hanya memenuhi standar deskripsi anatomi orang melayu sebagaimana dijelaskan dalam buku ilmu sosial. Tinggi sedang, kulit sawo matang, rambut ikal, hidung tak mancung (kalau tak mau disebut pesek).

Gaya berpakaian saya pun jauh dari kesan fashionable (kesan saja jauh). Rumus berpakaian saya sangat sederhana, hanya mengenal dua variabel: Nyaman dan Terjangkau, itu saja.

Urusan gadget juga bukan prioritas utama gaya hidup saya. Hanya satu hal yang bisa saya banggakan dari soal ini, saya adalah tipe laki-laki setia pada gadget. Telepon genggam, laptop, arloji, dan perlengkapan elektronik saya lainnya rata-rata panjang umur. Hampir semuanya saya gunakan hingga habis masa manfaatnya. Saat mereka tak lagi sanggup memberikan layanan minimalnya, atau keberadaan mereka justru menyusahkan saya, itulah saat gadget baru harus dibeli. Lagi-lagi rumusnya ada 2: Sesuai kebutuhan dan Terjangkau.

Apalagi soal tunggangan, sama sekali jauh dari kata hebat, atau mewah. Lagi-lagi saya termasuk tipe laki-laki setia. Satu-satunya motor saya, yang masih setia sampai detik ini menemani kemanapun saya ajak dia, hanyalah sebuah motor bebek pemberian orang tua saat kelas 3 SMA dulu. Itu artinya sudah lebih dari 10 tahun umurnya. Cukup renta untuk sebuah motor. Sedangkan mobil, hingga saat ini saya masih sangat menikmati peran sebagai penumpang –orang yang suka menumpang mobil orang lain.

Lalu apa yang menjadi sumber inspirasi pembangkit percaya diri saya? Jawabnya tentu sesuai judul tulisan ini: Sepeda.

Tapi tunggu dulu, bukan maksud saya untuk mengatakan bahwa sepeda saya adalah sepeda canggih buatan tangan berbahan material pilihan berharga belasan hingga puluhan juta Rupiah. Bukan pula sepeda saya adalah sepeda unik yang hanya ada beberapa biji di negeri ini. Atau sepeda kuno yang sudah cukup berumur dan telah digunakan dalam berbagai jenis perang. Karena sepeda saya hanyalah sebuah sepeda rakitan yang dibangun dengan budget mepet. Lalu dimodivikasi dan diakali untuk memenuhi unsure kenyamanan dan kebutuhan.

Maksud saya adalah bersepeda. Ya, bersepedalah yang membuat saya percaya diri, bahkan di hadapan siapapun. Saat bersepedalah yang menjadi saat saya merasa paling hebat, serasa menjadi seorang pemenang. Saat helm, kacamata, dan sarung tangan telah terpasang, tali sepatu pun telah terikat erat, tak lupa celana padding melindungi bagian vital, lalu sepeda pun meluncur di jalanan, serasa tak ada pengguna jalan lain yang lebih hebat, lebih keren dari saya. Kepada segala jenis motor yang mendahului, saya katakan: “Sehebat apapun engkau, saat tangki bahan bakarmu kosong, engkau hanyalah seonggok besi yang menggantungkan hidupmu pada minyak bumi.” Kepada mobil-mobil yang melaju dengan angkuh, saya sampaikan: “Semewah apapun engkau, saat jalan macet kau tetap harus berpartisipasi.”

Saat jalanan ibu kota berubah menjadi parkiran raksasa, mobil dan motor tak kuasa berpindah tempat, tapi sepeda saya masih bisa melaju menerobos tiap celah yang tersisa. Saat banjir menggenang, mobil dan motor memilih berbalik arah, tapi sepeda saya lebih memilih untuk menceburkan dirinya demi membawa tuannya ke tempat tujuan dengan cepat. Saat harga BBM melambung atau stoknya tiba-tiba hilang dari pasaran, sepeda saya pun tak perlu ikut mengantri hanya untuk bisa melaju.

Sepedalah yang membuat saya cukup percaya diri berangkat ke kantor tanpa mandi. Sepedalah yang memberikan saya cukup alasan untuk masuk ke lift kantor hanya dengan celana pendek dan kaos oblong penuh keringat. Jika ada yang bertanya: “Naik sepeda dari rumah mas?” maka inilah moment yang membanggakan bagi saya. Lalu saya pun akan menjawabnya denga penuh rasa bangga: “Betul Pak.” Kalau mereka menambahkan komentar: ”Wah hebat ya…!” Maka saat itulah saya akan tersenyum dan tersipu malu, walaupun hanya dalam hati. Sungguh kepuasan yang tak terkira.

 
1 Comment

Posted by on December 13, 2011 in Lain-lain, Sepeda