RSS

Kepercayaan Diri ku dari Sepeda

13 Dec

Si Domi

Apa yang membuat anda merasa hebat? Apakah penampilan yang good looking; mulai wajah rupawan masuk kategori camera face, kulit putih mulus, tubuh langsing atletis dengan perut rata bermotif six-pack dan otot bergelombang menonjol disana-sini, hingga rambut hitam lurus lebat bak bintang iklan semir rambut. Ataukah gaya berpakaian anda yang selalu fashionable dan up-to-date, bermodal pakaian bermerk dengan model yang sedang menjadi trend, urusan cocok atau tidak itu bukan soal, karena trend adalah segalanya. Ataukah dukungan gadget pintar serba canggih seri terbaru dengan fitur lengkap yang bahkan jarang anda gunakan. Atau justru tunggangan anda lah yang menurut anda menentukan jati diri dan kepribadian anda. Motor sport berkapasitas mesin super besar, bodi bongsor, dan suara menggelegar, atau mobil mewah mentereng berpelek bling-bling yang harga 1 biji spionnya saja jutaan Rupiah.

Semua itukah yang membuat membangkitkan rasa percaya diri anda?

Tapi tidak bagi saya. Tak satupun dari semua itu.

Bukan karena semua itu salah, atau tidak penting, atau tidak cukup hebat hingga bisa memunculkan rasa percaya diri. Sekali lagi bukan. Tapi lebih karena tak satupun dari semua itu yang ada pada diri saya.

Penampilan dan wajah saya pas-pasan, hanya memenuhi standar deskripsi anatomi orang melayu sebagaimana dijelaskan dalam buku ilmu sosial. Tinggi sedang, kulit sawo matang, rambut ikal, hidung tak mancung (kalau tak mau disebut pesek).

Gaya berpakaian saya pun jauh dari kesan fashionable (kesan saja jauh). Rumus berpakaian saya sangat sederhana, hanya mengenal dua variabel: Nyaman dan Terjangkau, itu saja.

Urusan gadget juga bukan prioritas utama gaya hidup saya. Hanya satu hal yang bisa saya banggakan dari soal ini, saya adalah tipe laki-laki setia pada gadget. Telepon genggam, laptop, arloji, dan perlengkapan elektronik saya lainnya rata-rata panjang umur. Hampir semuanya saya gunakan hingga habis masa manfaatnya. Saat mereka tak lagi sanggup memberikan layanan minimalnya, atau keberadaan mereka justru menyusahkan saya, itulah saat gadget baru harus dibeli. Lagi-lagi rumusnya ada 2: Sesuai kebutuhan dan Terjangkau.

Apalagi soal tunggangan, sama sekali jauh dari kata hebat, atau mewah. Lagi-lagi saya termasuk tipe laki-laki setia. Satu-satunya motor saya, yang masih setia sampai detik ini menemani kemanapun saya ajak dia, hanyalah sebuah motor bebek pemberian orang tua saat kelas 3 SMA dulu. Itu artinya sudah lebih dari 10 tahun umurnya. Cukup renta untuk sebuah motor. Sedangkan mobil, hingga saat ini saya masih sangat menikmati peran sebagai penumpang –orang yang suka menumpang mobil orang lain.

Lalu apa yang menjadi sumber inspirasi pembangkit percaya diri saya? Jawabnya tentu sesuai judul tulisan ini: Sepeda.

Tapi tunggu dulu, bukan maksud saya untuk mengatakan bahwa sepeda saya adalah sepeda canggih buatan tangan berbahan material pilihan berharga belasan hingga puluhan juta Rupiah. Bukan pula sepeda saya adalah sepeda unik yang hanya ada beberapa biji di negeri ini. Atau sepeda kuno yang sudah cukup berumur dan telah digunakan dalam berbagai jenis perang. Karena sepeda saya hanyalah sebuah sepeda rakitan yang dibangun dengan budget mepet. Lalu dimodivikasi dan diakali untuk memenuhi unsure kenyamanan dan kebutuhan.

Maksud saya adalah bersepeda. Ya, bersepedalah yang membuat saya percaya diri, bahkan di hadapan siapapun. Saat bersepedalah yang menjadi saat saya merasa paling hebat, serasa menjadi seorang pemenang. Saat helm, kacamata, dan sarung tangan telah terpasang, tali sepatu pun telah terikat erat, tak lupa celana padding melindungi bagian vital, lalu sepeda pun meluncur di jalanan, serasa tak ada pengguna jalan lain yang lebih hebat, lebih keren dari saya. Kepada segala jenis motor yang mendahului, saya katakan: “Sehebat apapun engkau, saat tangki bahan bakarmu kosong, engkau hanyalah seonggok besi yang menggantungkan hidupmu pada minyak bumi.” Kepada mobil-mobil yang melaju dengan angkuh, saya sampaikan: “Semewah apapun engkau, saat jalan macet kau tetap harus berpartisipasi.”

Saat jalanan ibu kota berubah menjadi parkiran raksasa, mobil dan motor tak kuasa berpindah tempat, tapi sepeda saya masih bisa melaju menerobos tiap celah yang tersisa. Saat banjir menggenang, mobil dan motor memilih berbalik arah, tapi sepeda saya lebih memilih untuk menceburkan dirinya demi membawa tuannya ke tempat tujuan dengan cepat. Saat harga BBM melambung atau stoknya tiba-tiba hilang dari pasaran, sepeda saya pun tak perlu ikut mengantri hanya untuk bisa melaju.

Sepedalah yang membuat saya cukup percaya diri berangkat ke kantor tanpa mandi. Sepedalah yang memberikan saya cukup alasan untuk masuk ke lift kantor hanya dengan celana pendek dan kaos oblong penuh keringat. Jika ada yang bertanya: “Naik sepeda dari rumah mas?” maka inilah moment yang membanggakan bagi saya. Lalu saya pun akan menjawabnya denga penuh rasa bangga: “Betul Pak.” Kalau mereka menambahkan komentar: ”Wah hebat ya…!” Maka saat itulah saya akan tersenyum dan tersipu malu, walaupun hanya dalam hati. Sungguh kepuasan yang tak terkira.

 
1 Comment

Posted by on December 13, 2011 in Lain-lain, Sepeda

 

One response to “Kepercayaan Diri ku dari Sepeda

  1. hermanto

    July 10, 2015 at 7:57 am

    Tulisan bagus mas… mewakili banyak saya dan goweser lain

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: