RSS

3.726 m dpl, pergantian tahun di puncak sang dewi (part #3 habis)

22 Dec

Mari kita lanjutkan cerita yang cukup lama tertunda…

Segara Anak from top

30 Desember 2008

Setelah kembali ke Pelawangan, kami langsung sarapan dengan menu hasil racikan 2 orang porter kami. Entah cerita orang yang bohong atau kami yang kurang beruntung memilih porter, masakan mereka tak seperti yang kami harapkan. Tapi beruntung rasa lapar menghipnotis kami sehingga saat itu masakan itulah makanan terlezat yang pernah kami santap. Setelah sarapan rencananya kami langsung packing lalu menuju ke Segara Anak. Tapi apalah daya, perut kenyang  dan rasa letih berdampak buruk pada mata. Kantuk hebat tiba-tiba menyerang. Tanpa komando siapapun kami semua terlelap. Entahlah dengan 2 porter, mungkin mereka terlelap juga.

Perut kenyang, kantuk datang

Tak lama kami sudah terbangun lagi. Kabut mulai menyelimuti. Kami pun segera bergegas packing. Para pendaki  lain yang juga menginap di Pelawangan ternyata sudah lebih dulu turun. Kami rombongan terakhir yang akan turun. Tapi ternyata kami tak sendirian. Saat kami mulai packing dan membersihkan sampah, segerombolan monyet gunung merangsek ke arah kami. Mata mereka menatap nanar penuh selidik mencari-cari barang apa yang bisa mereka gondol. Kami pun memasang sikap waspada.

Jangan kabur lu...

Saat kami lengah, sebotol minyak goring yang membeku berhasil mereka bawa kabur. Selain terganggu, kami pun sebenarnya cukup terhibur oleh mereka. Bahkan Hilman dan Ko Tepi sedikit bermain dengan mereka. Sambil takut-takut mereka mengulurkan cuilan kue dan biscuit kepada para monyet. Beberapa monyet besar pun menghampiri dan segera merenggut kue-kue yang disodorkan.

Harus rukun dengan saudara

Sang pawang beraksi

Puas bermain-main dengan penghuni lokal, sekitar pukul 11.00 WITA kamipun segera meluncur turun menuju Segara Anak. Saatnya berpesta menyambut tahun baru. Belum lama berjalan gerimis mulai turun. Trek berbatu yang licin karena hujan membuat langkah kami agak melambat. Hampir sepanjang perjalanan gerimis menemani kami. Beberapa saat reda tapi tak lama kemudian turun lagi rintik hujan. Begitu terus sepanjang perjalanan. Akhirnya sekira pukul 3 sore kami sampai juga di Segara Anak. Di situ sudah ada 3 tenda yang berdiri. Mereka memilih lokasi di tepi danau yang terbuka. Pilihan yang tepat jika anda mencari sensasi dan aroma air danau yang berkecipak. Tapi kami lebih memilih kenyamanan, mengingat cuaca saat itu cenderung hujan. Maka kami pun memilih lokasi tenda agak menjauh dari tepi danau, di tempat yang terlindung oleh rindang pohon. Kami juga memanfaatkan sebuah pos sebagai tempat memasak dan berkumpul. Kami benar-benar siap untuk berpesta.

Setelah tenda berdiri dan semua barang rapi di tempatnya, kami segera bersiap melakukan salah satu ritual wajib di Segara Anak: Mancing… satu alat pancing baru yang ketinggalan entah dimana tak menghalangi acara mancing kami. Beruntung persediaan senar dan mata kail cukup banyak. Mancing mania pun dimulai. Hingga gelap mulai menyelimuti, kami baru beranjak dari ritual mancing ini. Beberapa ekor ikan berhasil kami kumpulkan walaupun tak ada yang berukuran jumbo. Kecuali saya, sepertinya semua orang berhasil menaikkan minimal satu ekor ikan. Sedangkan saya, tak satu ekor ikan pun yang bisa saya dapat. Ah mungkin saya hanya kurang beruntung. Besok masih ada waktu.

Mancing mania

Malam hari tiba, saatnya pesta bakar ikan. Ekor demi ekor ikan mulai kami masak lalu langsung disantap. Para penghuni lokal pun sepertinya ingin ikut berpesta menyantap ikan. Kali ini bukan lagi monyet yang berkuasa, tapi anjing hutan. Sepertinya lebih menyeramkan. Tapi ternyata anjing lebih pemalu daripada monyet. Mereka cenderung menghindar saat berhadapan dengan manusia.

Puas pesta ikan, kamipun bergegas menuju peraduan. Tidur nyenyak malam itu. Besok pagi bangun bebas, tak ada acara kemana-mana. Seharian besok kami masih akan bertamasya di Segara Anak. Menghabiskan tahun 2008.

31 Desember 2011

Hari ini acara bebas. Tak ada rencana kemana-mana. Saatnya menjelajah.

Pagi ini dua porter kami pulang. Sesuai perjanjian kami hanya menggunakan jasa mereka sampai disini. Untuk turun besok kami tak perlu lagi porter karena barang bawaan kami jauh berkurang.

Tempat pertama yang kami sambangi adalah sumber air tawar. Untuk mencapainya cukup berjalan sekitar 20 menit pulang-pergi. Sumber air itu berupa sebuah mata air kecil dari celah bebatuan. Tak jauh dari sumber air itu terdapat pemandian air panas. Inilah salah satu tempat yang wajib dikunjungi di Segara Anak ini. Mata air di pemandian ini dialirkan melalui pipa-pipa besi. Kolamnya dibuat beberapa kotak dengan tingkat suhu yang berbeda. Dari yang paling panas hingga yang cukup hangat. Kami pun tak melewatkan acara berendam.

Kolam level 2

Puas berendam kami kembali ke tenda untuk makan dan bermalas-malasan. Sebagian kami melanjutkan ritual mancing. Sedangkan saya sendiri tak lagi ikut mancing, saya pikir ini bukan peruntungan saya.

Sore harinya saya dan Ari “Tompel” bersama teman pendaki dari Jogja (lupa namanya) mengunjungi air terjun. Mereka yang sudah tempatnya jadi kami ikut saja. Membutuhkan waktu sekitar 25 menit untuk mencapainya dari Segara Anak. Sepertinya jalan menuju ke air terjun ini jarang dilewati. Semak belukar menutupi beberapa bagian jalan. Bahkan kami harus meniti batang pohon untuk menyeberangi sebuah sungai kecil. Air terjun ini tak terlalu tinggi, mungkin hanya sekitar belasan meter. Yang menarik air terjun ini bukan air tawar tapi air belerang. Bekas belerang yang menempel di dinding batu membentuk gurat-gurat warna hijau bergradasi. Di samping air terjun terdapat ceruk-ceruk semacam gua kecil. Di beberapa bagian dihuni oleh monyet yang menatap curiga pada kami.

Air terjun

Puas borfoto dan menikmati suasana, kami kembali ke tenda. Tim pemancing berhasil mengumpulkan lebih banyak ikan. Mungkin itu untuk menyemarakkan pesta tahun baru nanti malam. Saya sih jadi penikmat saja. Setelah kemarin gagal mendapatkan ikan, hari ini saya lebih memilih tak memancing lagi. Mungkin ini bukan bidang saya. Lagian kalau semua orang mancing, terlalu banyak ikan yang ditangkap, siapa yang akan memakannya?

Malam hari tiba, saatnya pesta ikan lagi. Sayangnya kemampuan memancing ikan kami ternyata tidak diimbangi dengan kemampuan untuk menyantapnya. Atau mungkin jumlah ikan yang terlalu banyak. Ikan masih banyak tapi kami tak lagi sanggup melahapnya. Kami coba tawarkan ke tenda tetangga, tapi mereka juga punya menu yang sama. Semakin malam, cuaca kurang bersahabat. Angin kencang dan hujan terus mengguyur. Beberapa rombongan pendaki lagi yang datang. Satu rombongan sempat kehilangan beberapa anggotanya yang katanya posisi terakhir di depan tapi hingga sweeper datang mereka tak juga muncul. Kami pun bersiap melakukan pencarian. Tapi syukurlah tak lama kemudian mereka muncul dengan selamat. Segara Anak semakin ramai malam itu.

Tak sampai terlalu larut kami sudah membaringkan diri. Besok kami harus bangun pagi untuk packing dan melakukan perjalanan turun. Direncanakan paling lambat pukul 8.00 kami sudah meluncur.

1 Januari 2009

Hari pertama di 2009 kami bangun pagi-pagi. Tapi rasa malas menghinggapi. Setelah sarapan dan packing, baru sekitar pukul 8.30 kami siap meluncur. Beberapa rombongan sudah turun duluan, sementara masih ada juga yang tinggal. Cuaca cerah sekali hari ini. Rasanya masih ingin tinggal lebih lama di sini. Tapi waktu tak memungkinkan.

Awal perjalanan, tujuan kami adalah puncak di latar belakang

Rute turun kami adalah melalui Senaru. Bukan kembali ke Sembalun. Karena letak Segara Anak yang dikelilingi gunung, maka perjalanan turun kami tidak benar-benar turun. Perjalanan justru kami mulai dengan mendaki. Sebuah jalan bercabang sempat membingungkan dan membuat kami salah jalan. Setelah menerobos semak, dipimpin Hilman dan Ko Tepi, kami akhirnya kembali ke jalan yang benar. Cuaca cerah berarti juga panas. Ditambah trek yang masih terus mendaki, membuat kami cukup kelelahan. Sekitar pukul 12.00 kami sampai di Pelawangan Senaru. Mulai dari sini perjalanan turun yang sebenarnya baru dimulai.

Katanya mau turun tapi jalan malah nanjak terus

Hilman yang begitu jumawa saat mendaki kemarin, tak lagi tampak di depan. Kali ini dia berganti peran jadi sweeper, karena ada sedikit masalah pada kakinya. Walaupun jalan turun, dia tetap berjalan pelan. Sementara yang lain berlari.

Bahkan ada trek vertikal

Setelah melewati beberapa pos dan sempat bertemu dengan pendaki asing, sekitar pukul 16.30 kami sampai di pintu gerbang Senaru. Di situ kami melihat sebuah warung. Tanpa komando, kami semua langsung merapat. Teh manis hangat dan beberapa butir pisang menjadi suntikan energi untuk kami. Lalu kami lanjutkan perjalanan menuju Pos Senaru. Setengah jam kemudian kami sudah tiba di Pos. Hujan kembali turun saat kami tiba di Pos. Setelah sholat Ashar kami sempatkan belanja beberapa merchandise di Pos. Sementara Ko Tepi –dengan kemampuan negosiasinya- mencari mobil carteran untuk membawa kami menuju Mataram, ke tempat Mas Tamim.

Pintu gerbang Senaru

Menjelang maghrib mobil carteran didapat dan kamipun langsung meluncur.

Malam tahun baru yang tak kan pernah terlupakan…

Terima kasih untuk Ari Tompel-695, Hilman-722, Iyok-736, Uhe-768, dan Ko Tepi-829 atas perjalanan hebat ini…

 
2 Comments

Posted by on December 22, 2011 in Uncategorized

 

2 responses to “3.726 m dpl, pergantian tahun di puncak sang dewi (part #3 habis)

  1. mydamayanti

    December 22, 2011 at 7:54 am

    lama banget…2008

     
  2. fashion photography

    January 5, 2012 at 12:35 am

    Thanks a ton for stating your opinions. Being a writer, I am always in need of unique and different solutions to think about a topic. I actually uncover fantastic creativity in doing this. Many thanks

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: