RSS

Monthly Archives: January 2012

Akhirnya Jatuh Juga

Ketiadaan jalur khusus sepeda di Jakarta, membuat pesepeda harus berbaur tumplek blek jadi satu dengan sepeda motor, mobil, bus, dan segala macam kendaraan lain dalam satu jalur yang sama. Ditambah lagi perilaku dan sikap mayoritas pengguna lalu lintas yang minim rasa peduli dan saling menghargai, membuat pesepeda harus rela “bersaing” secara terbuka dengan semua kendaraan itu. Tentu ini sebuah persaingan yang tidak imbang. Karena secara kodrat, sepeda memang diciptakan lebih lemah dibandingkan motor, mobil, apalagi bus. Ketika terjadi kontak fisik antar jenis kendaraan itu, besar kemungkinan sepeda dan pengendaranya lah yang akan menderita kerusakan dan kerugian paling besar.

Pagi ini, seperti biasa hari Jumat lainnya saatnya b2w ke kantor. Tapi hari ini saya berangkat sedikit lebih pagi karena kebetulan ada acara di kantor. Kondisi lalu lintas sudah cukup ramai. Beberapa menit mengayuh sepeda, sampailah saya di bekas SPBU Pakubuwono. Kondisi jalan cukup lancar dan agak menurun mempercepat laju sepeda saya. Maksud hati ingin menikmati suasana pagi maka saya menebar pandangan ke sekitar. Mata saya tak lagi fokus ke depan, kemana saya seharusnya fokus. Sedang asyik-asyiknya menikmati pemandangan sekitar, tepat di depan SMK 30 tiba-tiba saya dikagetkan oleh pengendara motor yang entah sejak kapan ada disitu. Motor itu melaju sangat pelan –antara berhenti dan jalan lambat- di sisi paling kiri. Beberapa saat kemudian saya tersadar, motor itu berada dalam satu garis lurus dengan posisi sepeda saya, yang saat itu sedang melaju cukup kencang. Bersamaan dengan itu saya juga berpikir “bisa nubruk nih kalo kayak gini”.

Sayangnya ketika itu jarak saya dengan si pengendara motor hanya tinggal beberapa cm saja. Jari-jari tangan saya terlambat menarik tuas rem. Handlebar pun tak sempat saya banting ke kanan. Saya hanya pasrah saja saat itu. Dan benar saja, kontak fisik tak seimbang itu tak terhindarkan.

GUBRAKKK….!!!

Tiba-tiba saya sudah berguling-guling di atas aspal. Sementara si pengendara motor dengan angkuhnya tetap dalam posisinya semula. Dia hanya kaget lalu memandang dengan penuh perasaan aneh pada saya. Saya pun langsung bangun. Sepeda saya tuntun ke pinggir. Ada bapak satpam yang menolong saya. Yang pertama saya lihat kondisi sepeda. Sepertinya semua masih berada di tempatnya, kecuali lampu depan yang copot. Alhamdulillah badan saya juga masih utuh, hanya sedikit nyeri di lutut kiri.

Mengobati rasa malu, saya berusaha mencari-cari kesalahan pengendara motor. Dan satu yang saya ingat, dia tidak menyalakan lampu sein. Aha… Itulah senjata saya untuk menyerangnya. “Berhenti gak nyalain lampu sein sih mas…!” Hardik saya (sebelum dia menghardik saya). Tak mau kalah, dia pun balas menghardik saya “Kan saya sudah berhenti dari tadi”. Beberapa saat kami berdua tetap bersikukuh dengan pendapat masing-masing. Ah sudahlah, tak ada gunanya berdebat, apalagi sampai rebut. Lagipula ini memang salah saya. Akhirnya saya memilih untuk memeriksa lagi kondisi sepeda saya. Ternyata ban depan kempes pes. Mungkin sobek, karena ketika saya coba pompa tak ada udara yang masuk sama sekali. Beruntung saya bawa ban cadangan. Langsung ganti ban dalam. Saat ban terpasang kembali baru sadar ternyata rim juga sedikit peyang.

Tak apalah, yang penting masih bisa melanjutkan perjalanan ke kantor. Dan sampai kantor Alhamdulillah belum terlambat.

Advertisements
 
1 Comment

Posted by on January 20, 2012 in Sepeda

 

Sepeda dilarang Masuk Jalur Cepat?

Suatu kesalahan yang dilakukan secara berulang dan dibiarkan hingga menjadi kebiasaan, akan menjadi seperti suatu kebenaran. Begitu pula tindakan pesepeda yang memasuki jalur cepat. Yang mana jalur cepat itu hanyalah diperuntukkan bagi mobil. Sedangkan sepeda harusnya ya menggunakan jalur khusus sepeda. Kalaupun toh belum tersedia jalur khusus sepeda, maka sepeda sepantasnyalah menggunakan jalur lambat. Bukankah sepeda itu kendaraan yang lambat lajunya.

Yang terjadi selama ini, setidaknya di jalur cepat Jl. Sudirman – Thamrin, banyak pesepeda yang masuk ke jalur cepat. Termasuk saya sendiri hampir selalu menggunakan jalur cepat saat ber-b2w maupun b2h. Hal ini sudah saya lakukan sejak saya pertama kali terjun ke dunia per-b2w-an lebih dari 2 tahun yang lalu. Saya lakukan itu karena seperti itulah yang saya dengar dari cerita teman-teman dan saya lihat sendiri di jalan. Kalau mau aman dan cepat saat bersepeda, masuklah ke jalur cepat.

Polisi sebagai aparat penegak hukum, selama inipun sepanjang pengetahuan dan pengalaman saya hanya “membiarkan” aksi yang dilakukan para pesepeda. Belum pernah saya alami dilarang masuk ataupun disuruh keluar dari jalur cepat oleh pak polisi. Padahal hampir setiap kali saya bersepeda selalu bertemu pak polisi yang sedang bertugas mengatur lalu lintas. Karena sudah berlangsung sekian lama, maka sayapun menganggap hal ini seolah sebagai suatu kebenaran.

Bukannya saya tidak tahu bahwa tindakan itu melanggar aturan. Bukan pula saya penganut paham anti kemapanan yang menikmati melanggar aturan. Apalagi berpendirian bahwa peraturan dibuat untuk dilanggar. Sama sekali bukan. Saya melakukan itu semata-mata karena alasan keamanan dan kenyamanan.

Keamanan karena di jalur cepat hanya dilalui oleh mobil pribadi, dan sedikit angkutan umum, yang lajunya cenderung stabil dalam suatu garis lurus. Sedangkan di jalur lambat, segala macam jenis kendaraan dengan aneka rupa gaya berkendara ada disana. Mulai dari besi tua bermesin yang bisa melaju secara zig-zag dan berhenti mendadak tanpa tanda, hingga motor-motor yang pengendaranya hanya tahu menarik gas dan menginjak rem, tanpa tahu apa fungsi lampu sein dan kaca spion. Kenyamanan karena semacet-macetnya jalur cepat biasanya masih cukup toleran dengan menyisakan sedikit celah untuk sepeda saya. Kenyamanan juga karena kondisi jalan di jalur cepat relatif lebih bagus daripada jalur lambat yang sering digali tanpa sebab yang jelas dan di saat yang tak tepat.

Maka ketika hari Jumat pagi, tanggal 30 Desember 2011, kemarin tepat di depan Pintu Satu GBK laju sepeda saya dihentikan oleh pak polisi dan diminta keluar dari jalur cepat, timbullah pertanyaan besar dalam hati saya. Saat itu yang terucap dari mulut saya hanya kata-kata “Kenapa Pak?”. Dan pak polisi pun menjawab: “Sepeda sekarang harus lewat jalur lambat Pak”. Saya pun berpindah ke jalur lambat. Menjelang terowongan Semanggi, terbersit niat jahat dalam hati. Saya berpindah ke kanan dengan maksud kembali masuk jalur cepat. Tapi aksi saya kembali dihadang oleh pak polisi yang lain. Kali ini rasa penasaran saya tak tertahan. Mengobrollah kami berdua. Dari obrolan itu saya dapatkan sedikit informasi bahwa polisi juga hanya menjalankan perintah dari atasan. Perintah ini tidak main-main, karena polisi yang bertugas akan kena sanksi jika masih ada pesepeda yang berkeliaran di jalur cepat. Untuk ke depannya aturan ini masih dalam penggodogan. Begitulah informasi yang saya dapat. Lalu saya pun melajutkan perjalanan menuju kantor. Malamnya saya pulang menumpang mobil teman, sedangkan sepeda saya tinggal di kantor. Jadi saya tidak tahu bagaimana perkembangan aturan baru ini.

Tadi malam saya pulang kantor dengan ber-b2h. Pukul 20.30 saya baru meluncur dari kantor. Begitu sampai di Jl. Sudirman, tanpa rasa bersalah sedikitpun saya masuk ke jalur cepat. Laju sepeda saya cukup lancar terkendali dan tak satupun polisi saya temui. Menjelang Jembatan Semanggi tepatnya di pos polisi depan kampus Atmajaya, 2 orang polisi tampak melambai-lambaikan lampu senter merahnya. Di depan saya seorang pesepeda pedagang kopi keliling berhenti lalu berdialog dengan seorang polisi. Seorang polisi lagi menghampiri saya dan menjelaskan bahwa per tanggal 1 Januari 2012 sepeda tidak boleh masuk jalur cepat kecuali saat Car Free Day. Dialog pun terjadi. Undang-undang nomor 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan pun sempat saya singgung. Disitu disebutkan bahwa setiap jalan umum harus dilengkapi beberapa fasilitas yang salah satunya adalah fasilitas untuk pesepeda. Lalu bagaimana nasib pesepeda kalau dilarang masuk jalur cepat tapi tidak disediakan jalur khusus.

Tapi lagi-lagi pak polisi itupun tak bisa berbuat banyak. Beliau hanyalah pelaksana lapangan yang harus menjalankan tugas. Tapi saya meminta aspirasi ini bisa disampaikan kepada atasannya dan beliau telah menyanggupinya. Saya pun berpindah ke jalur cepat dan bergabung dengan “seru” nya suasana berkendara di sana. Bekas-bekas pekerjaan galian yang sepertinya hanya memperburuk kondisi jalan seolah melatih konsentrasi dan keahlian saya dalam menghindari halang rintang. Alhamdulillah saya bisa sampai rumah dengan selamat sentosa.

Semoga peraturan baru ini bukan sebuah langkah mundur dalam perkembangan dunia persepedaan di Indonesia khusunya Jakarta. Semoga peraturan baru ini tidak menjadi penghalang dan menyurutkan semangat saya dan rekan-rekan semua untuk terus melanjutkan gerakan bersepeda.

 

 
Leave a comment

Posted by on January 3, 2012 in Sepeda, Uneg-uneg