RSS

Sepeda dilarang Masuk Jalur Cepat?

03 Jan

Suatu kesalahan yang dilakukan secara berulang dan dibiarkan hingga menjadi kebiasaan, akan menjadi seperti suatu kebenaran. Begitu pula tindakan pesepeda yang memasuki jalur cepat. Yang mana jalur cepat itu hanyalah diperuntukkan bagi mobil. Sedangkan sepeda harusnya ya menggunakan jalur khusus sepeda. Kalaupun toh belum tersedia jalur khusus sepeda, maka sepeda sepantasnyalah menggunakan jalur lambat. Bukankah sepeda itu kendaraan yang lambat lajunya.

Yang terjadi selama ini, setidaknya di jalur cepat Jl. Sudirman – Thamrin, banyak pesepeda yang masuk ke jalur cepat. Termasuk saya sendiri hampir selalu menggunakan jalur cepat saat ber-b2w maupun b2h. Hal ini sudah saya lakukan sejak saya pertama kali terjun ke dunia per-b2w-an lebih dari 2 tahun yang lalu. Saya lakukan itu karena seperti itulah yang saya dengar dari cerita teman-teman dan saya lihat sendiri di jalan. Kalau mau aman dan cepat saat bersepeda, masuklah ke jalur cepat.

Polisi sebagai aparat penegak hukum, selama inipun sepanjang pengetahuan dan pengalaman saya hanya “membiarkan” aksi yang dilakukan para pesepeda. Belum pernah saya alami dilarang masuk ataupun disuruh keluar dari jalur cepat oleh pak polisi. Padahal hampir setiap kali saya bersepeda selalu bertemu pak polisi yang sedang bertugas mengatur lalu lintas. Karena sudah berlangsung sekian lama, maka sayapun menganggap hal ini seolah sebagai suatu kebenaran.

Bukannya saya tidak tahu bahwa tindakan itu melanggar aturan. Bukan pula saya penganut paham anti kemapanan yang menikmati melanggar aturan. Apalagi berpendirian bahwa peraturan dibuat untuk dilanggar. Sama sekali bukan. Saya melakukan itu semata-mata karena alasan keamanan dan kenyamanan.

Keamanan karena di jalur cepat hanya dilalui oleh mobil pribadi, dan sedikit angkutan umum, yang lajunya cenderung stabil dalam suatu garis lurus. Sedangkan di jalur lambat, segala macam jenis kendaraan dengan aneka rupa gaya berkendara ada disana. Mulai dari besi tua bermesin yang bisa melaju secara zig-zag dan berhenti mendadak tanpa tanda, hingga motor-motor yang pengendaranya hanya tahu menarik gas dan menginjak rem, tanpa tahu apa fungsi lampu sein dan kaca spion. Kenyamanan karena semacet-macetnya jalur cepat biasanya masih cukup toleran dengan menyisakan sedikit celah untuk sepeda saya. Kenyamanan juga karena kondisi jalan di jalur cepat relatif lebih bagus daripada jalur lambat yang sering digali tanpa sebab yang jelas dan di saat yang tak tepat.

Maka ketika hari Jumat pagi, tanggal 30 Desember 2011, kemarin tepat di depan Pintu Satu GBK laju sepeda saya dihentikan oleh pak polisi dan diminta keluar dari jalur cepat, timbullah pertanyaan besar dalam hati saya. Saat itu yang terucap dari mulut saya hanya kata-kata “Kenapa Pak?”. Dan pak polisi pun menjawab: “Sepeda sekarang harus lewat jalur lambat Pak”. Saya pun berpindah ke jalur lambat. Menjelang terowongan Semanggi, terbersit niat jahat dalam hati. Saya berpindah ke kanan dengan maksud kembali masuk jalur cepat. Tapi aksi saya kembali dihadang oleh pak polisi yang lain. Kali ini rasa penasaran saya tak tertahan. Mengobrollah kami berdua. Dari obrolan itu saya dapatkan sedikit informasi bahwa polisi juga hanya menjalankan perintah dari atasan. Perintah ini tidak main-main, karena polisi yang bertugas akan kena sanksi jika masih ada pesepeda yang berkeliaran di jalur cepat. Untuk ke depannya aturan ini masih dalam penggodogan. Begitulah informasi yang saya dapat. Lalu saya pun melajutkan perjalanan menuju kantor. Malamnya saya pulang menumpang mobil teman, sedangkan sepeda saya tinggal di kantor. Jadi saya tidak tahu bagaimana perkembangan aturan baru ini.

Tadi malam saya pulang kantor dengan ber-b2h. Pukul 20.30 saya baru meluncur dari kantor. Begitu sampai di Jl. Sudirman, tanpa rasa bersalah sedikitpun saya masuk ke jalur cepat. Laju sepeda saya cukup lancar terkendali dan tak satupun polisi saya temui. Menjelang Jembatan Semanggi tepatnya di pos polisi depan kampus Atmajaya, 2 orang polisi tampak melambai-lambaikan lampu senter merahnya. Di depan saya seorang pesepeda pedagang kopi keliling berhenti lalu berdialog dengan seorang polisi. Seorang polisi lagi menghampiri saya dan menjelaskan bahwa per tanggal 1 Januari 2012 sepeda tidak boleh masuk jalur cepat kecuali saat Car Free Day. Dialog pun terjadi. Undang-undang nomor 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan pun sempat saya singgung. Disitu disebutkan bahwa setiap jalan umum harus dilengkapi beberapa fasilitas yang salah satunya adalah fasilitas untuk pesepeda. Lalu bagaimana nasib pesepeda kalau dilarang masuk jalur cepat tapi tidak disediakan jalur khusus.

Tapi lagi-lagi pak polisi itupun tak bisa berbuat banyak. Beliau hanyalah pelaksana lapangan yang harus menjalankan tugas. Tapi saya meminta aspirasi ini bisa disampaikan kepada atasannya dan beliau telah menyanggupinya. Saya pun berpindah ke jalur cepat dan bergabung dengan “seru” nya suasana berkendara di sana. Bekas-bekas pekerjaan galian yang sepertinya hanya memperburuk kondisi jalan seolah melatih konsentrasi dan keahlian saya dalam menghindari halang rintang. Alhamdulillah saya bisa sampai rumah dengan selamat sentosa.

Semoga peraturan baru ini bukan sebuah langkah mundur dalam perkembangan dunia persepedaan di Indonesia khusunya Jakarta. Semoga peraturan baru ini tidak menjadi penghalang dan menyurutkan semangat saya dan rekan-rekan semua untuk terus melanjutkan gerakan bersepeda.

 

 
Leave a comment

Posted by on January 3, 2012 in Sepeda, Uneg-uneg

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: