RSS

Antara Top Speed dan Average Speed

15 Feb

Februari ini dunia hiburan khususnya musik kembali berduka dengan meninggalnya salah satu diva pop terbaik dunia, Whitney Houston.  Tak hanya berduka, dunia juga dibuat tersentak oleh berita meninggalnya sang pelantun tembang-tembang romantis ini.  Bukan karena kematiannya, karena kematian adalah sesuatu yang mutlak dan pasti, tetapi karena caranya.

Kematian Whitney memang terbilang cukup tragis.  Saya katakan tragis bukan sekedar karena adanya dugaan overdosis narkotika.  Terlepas apa penyebab kematiannya, di akhir hidupnya mendiang memang sempat mengakui mengalami kecanduan narkotika.  Yang lebih memilukan lagi, saat-saat akhir hidupnya diwarnai dengan kebangkrutan dan lilitan hutang.  Meninggal dalam kondisi seperti itu tentu bukanlah cara meninggal yang diharapkan oleh siapapun.  Apalagi seorang artis papan atas yang pernah mencapai puncak prestasi dan kenikmatan materi.

Di masa jayanya, siapa yang tak kenal penyanyi bersuara tinggi ini.  Siapa yang tak familiar dengan lagu-lagu macam “I Will Always Love You”, “Miracle”, “One Moment In Time”, dan sederet lagu-lagu hits lainnya.  Kalaupun ada orang yang tak pernah mendengar namanya, paling tidak pernah mendengar lagu-lagunya saat itu, entah dimana dan dinyanyikan oleh siapa.

Di mata saya, kisah kehidupan sang diva saya analogikan sebagai sebuah kurva normal.  Sebuah kurva yang garisnya dimulai dari titik terbawah, lalu mengalami tren positif, terus naik perlahan hingga mencapai titik tertinggi, lalu kembali turun lagi hingga menyentuh titik terendah.  Bahkan untuk kasus Whitney Houston, tren menurunnya begitu curam dan drastic hingga dia terhempas.

Memang itu sesuatu yang normal.  Kata orang begitulah hidup, seperti roda, terus berputar, kadang di atas kadang di bawah.  Bukan seperti kurva.  Itu hanya istilah saya untuk menggambarkan kehidupan yang jatuh, bukan berputar.  Jatuh dan tidak pernah naik lagi.  Mungkin terlalu berat untuk kembali naik lagi.  Karena titik tertingginya terlalu tinggi, terlalu jauh di atas.  Hingga tak pernah sanggup untuk digapai lagi.

Jika boleh saya analogikan lagi kurva kehidupan itu dengan sepeda (tentu boleh saja, ini kan tulisan saya, terserah saya dong…).  Kembali lagi soal analogi sepeda.  Kurva normal itu layaknya seseorang yang sedang menggowes sepedanya.  Mulai dari titik nol, mengayuh perlahan hingga mencapai kecepatan tertentu, hingga di saat jalanan menurun, atau saat begitu bersemangat mengayuh, kecepatan meningkat terus semakin cepat hingga mencapai top speed.  Lalu pada saatnya dia pasti akan melambat dan kembali berhenti.  Entah karena telah tiba di tujuannya, karena macet, karena lelah, karena terjatuh, atau entah karena sebab apa.

Dalam bersepeda, apapun jenis dan tujuannya, sesungguhnya bukanlah top speed semata yang paling utama.  Bukan sekedar soal berapa kecepatan tertinggi yang pernah anda capai.  Bukan sekedar soal seberapa cepat anda mampu mengayuh sepeda anda.  Yang tak kalah penting dari itu, bahkan mungkin jauh lebih penting, adalah soal average speed.  Berapa kecepatan rata-rata yang mampu anda tempuh selama bersepeda.  Seberapa konsisten anda memutar pedal untuk menggerakkan roda sepeda anda.  Karena itulah yang akan menentukan bagaimana perjalanan anda.  Itulah yang menentukan berapa waktu yang anda butuhkan untuk mencapai suatu tujuan.  Itulah yang harus anda perhitungkan dalam merencanakan sebuah perjalanan.

Saat bersepeda jarak jauh, atau yang secara awam biasa disebut touring, kecepatan rata-rata adalah sesuatu yang sangat penting.  Saat harus menempuh jarak puluhan bahkan ratusan kilometer, kecepatan rata-rata adalah sesuatu yang wajib anda perhitungkan.  Berapa lama waktu yang anda butuhkan untuk mencapai kota berikutnya.  Dimana anda akan singgah sebelum malam hari tiba.  Bagaimana anda harus tiba di suatu tempat pada saat yang tepat.  Semua itu akan lebih mudah diperhitungkan jika anda memperhatikan kecepatan rata-rata anda.  Memacu sepeda sekuat tenaga saat jalanan turun atau mendatar hingga mencapai kecepatan yang fantastis menurut anda, tapi kemudian tak sanggup melahap tanjakan yang menghadang di depan, atau kehabisan tenaga hingga harus beristirahat lama, tentu bukanlah sesuatu yang bijaksana.

Jadi, saat hidup terasa begitu mudah, segala urusan berjalan lancar, semua masalah teratasi, tak ada hambatan berarti, mungkin saat itu kita sedang melewati jalanan yang lebar, mulus, datar, bahkan cenderung menurun.  Kayuhan pun terasa ringan.  Tak jarang kita tergoda untuk memacu sepeda secepat-cepatnya, hingga mencapai kecepatan tertinggi.  Tapi ingatlah tak selamanya jalanan seperti itu.  Akan tiba saatnya kita dihadapkan pada jalan yang rusak, sempit, menanjak, dan banyak aral melintang.  Saat itu terjadi, jangan sampai kita kehabisan semangat, energi, bahkan konsentrasi.  Pedal harus tetap dikayuh.  Roda tetap harus berputar.  Kecepatan rata-rata tetap harus dijaga.  Hingga saatnya kita harus berhenti, berhentilah dengan perlahan, tenang, dan puas karena semua tujuan telah tercapai.

 
Leave a comment

Posted by on February 15, 2012 in Lain-lain, Sepeda

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: