RSS

Turunkan BBM…! Naikkan Rok Mini…!

16 Mar

Setiap kali ada paraturan baru yang akan dibuat, selalu ada protes dan penolakan.  Mungkin memang itulah tabiat sistem demokrasi.  Setidaknya itulah kesimpulan saya setelah mengamati sistem demokrasi bertabur kebebasan di Indonesia pada era reformasi ini.  Entah apa landasan teorinya, jangan tanyakan pada saya.  Bisa jadi teori itu tidak pernah dikemukakan oleh profesor manapun.

Akhir-akhir ini setidaknya ada 2 topik yang cukup menarik dan mengusik nalar saya.  Yang pertama adalah soal rencana kenaikan harga BBM.  Dari perkembangan terbaru, bisa jadi ini bukan lagi sekedar rencana tetapi sudah menjadi keputusan.  Tinggal menunggu tanggal mainnya saja.

Dengan besaran kenakan sebesar Rp1.500,- tentu saja protes, demo, kecaman, keributan, dan segala macam bentuk penolakan terjadi dimana-mana.  Jangankan sebesar itu, kenaikan 500 perak pun saya yakin tak akan kalah hiruk-pikuknya.  Walaupun pemerintah sudah menjanjikan kompensasi berupa santunan –atau apapun lah namanya- uang tunai kepada rakyat yang memang membutuhkan, tetapi hal ini tidak cukup menjadi penghibur.  Di mana-mana mahasiswa berdemo.  Motivasinya mungkin macam-macam.  Ada yang benar-benar karena idealismenya, karena jiwa pejuangnya, karena rasa solidaritasnya, atau sekedar takut dicap sebagai banci dan mendapat kiriman (maaf) pakaian dalam jika tidak ikut turun ke jalan.  Atau bahkan hanya motivasi pribadi karena takut uang sakunya tak cukup lagi untuk ongkos jika harga BBM naik.

Tak hanya mahasiswa yang bersuara, penolakan dari partai oposisi pun tak kalah hebatnya.  Kalau yang satu ini setahu saya apapun peraturannya pasti ditolak.  Untuk saat ini yang paling bersemangat menolak, siapa lagi kalau bukan partai yang ketuanya juga pernah jadi orang nomor satu di negeri ini.  Tidak peduli apapun rencana peraturan yang akan ditetapkan pemerintah, mereka ini selalu menolak dan tidak setuju.  Seolah-olah dulu saat mereka berkuasa telah melakukan sesuatu yang lebih baik.

Kembali lagi ke soal kenaikan BBM, saya tidak mau berpendapat setuju atau menolak.  Selain karena pendapat saya tidak ada pengaruhnya, saya juga mengalami dilema.  Di satu sisi kenaikan harga BBM bersubsidi tidak terlalu berdampak langsung pada saya.  Karena toh selama ini saya lebih banyak menggunakan BBM non subsidi untuk menghidupi motor saya.  Apakah karena motor saya masih baru sehingga begitu dimanjakan dengan BBM non subsidi?  Sama sekali bukan, karena anda mungkin kaget ketika tahu bahwa motor yang sedang saya bicarakan adalah sebuah Honda Astrea Supra keluaran tahun 2001 yang saya pakai sejak kelas 3 SMA.  Alasan utama semata-mata karena saya merasa tidak layak untuk menggunakan BBM bersubsidi.  Mungkin saya sudah terdoktrin oleh tulisan di spanduk-spanduk yang bertuliskan “BBM bersubsidi hanya untuk golongan tidak mampu”.  Sementara saya lebih suka merasa sebagai orang mampu, dan kenyataannya Alhamdulillah saya memang masih mampu membelinya.

Alasan lain saya menggunakan BBM non subsidi adalah agar bisa lebih hemat energi dan mengurangi polusi.  Kok bisa?  Dengan harga yang jauh lebih mahal hingga 2 kali lipat dibanding BBM subsidi, saya menjadi lebih “bijaksana” dalam pemakaiannya –kalau tidak boleh disebut “pelit”.  Misalnya untuk pergi ke kantor, saya tidak tiap hari menggunakan motor.  Setidaknya seminggu sekali saya bersepeda ke kantor.   Sesekali saya juga naik bus atau kereta.  Dengan begitu konsumsi BBM motor saya menjadi lebih hemat.  Selain itu setiap kali berhenti di lampu merah, saya lebih sering mematikan mesin motor, terutama lampu merah yang agak lama.  Mungkin penghematan yang saya dapat dari cara kedua ini hanya beberapa tetes BBM.  Tapi kelak ketika tak ada lagi sumber minyak yang bisa digali, barulah terasa manfaat tetesan-tetesan itu.

Di sisi lain, saya juga was-was dan galau dengan kenaikan harga BBM.  Selain membayangkan inflasi dan naiknya harga barang-barang sebagai dampak kenaikan ini, secara lebih spesifik yang membuat saya galau adalah kemungkinan naiknya harga bahan bangunan.  Jika kenaikan harga BBM ini memicu kenaikan harga bahan bangunan secara signifikan, maka bisa-bisa rencana KPR saya amburadul.  Semoga yang kedua ini tidak terjadi.  Amin…

Topik lain yang juga mengusik saya adalah rencana Ketua DPR untuk melarang pemakaian rok mini di lingkungan gedung DPR.  Berbagai reaksi muncul atas rencana peraturan ini.  Datangnya dari berbagai pihak, mulai sejawat anggota DPR, media, seniman, aktivis perempuan, hingga rakyat jelata.  Saya yakin sebenarnya banyak pihak yang setuju dan mendukung, tetapi tentu tidak menarik dan menjual jika headline beritanya adalah “Dukungan untuk Pelarangan Rok Mini” atau yang sejenisnya.  Makanya hampir semua media mengekspos pendapat yang menolak dan menentang.  Karena dari penolakan itulah banyak yang bisa digali dan menarik untuk dijual.

Yang lebih mengusik pikiran saya adalah siapa pihak-pihak yang selalu menolak ini?

Menurut saya, yang menolak sebuah peraturan adalah pihak-pihak yang akan terkena dampak baik secara langsung maupun tidak langsung.  Sebagai contoh saat muncul wacana hukuman mati bagi koruptor, yang menyuarakan penolakan paling lantang tentu saja para koruptor itu sendiri.  Koruptor yang saya maksud meliputi orang yang sudah melakukan, yang belum melakukan tetapi berniat untuk melakukannya suatu saat, serta orang yang tidak melakukan tetapi mendapat manfaat dari korupsi yang terjadi.  Sayangnya, tak sedikit dari mereka yang menggunakan jasa para aktivis HAM untuk menyuarakan penolakan itu.

Mungkin kondisi berbeda terjadi ketika ada wacana pelarangan rok mini di lingkungan kantor DPR.  Para pengguna rok mini mungkin ikut menyuarakan penolakan.  Yang juga ikut menolak mungkin adalah aktivis fashion, desainer, aktivis HAM, dan penjual rok mini.  Tetapi saya khawatir penolakan paling keras justru datang dari pihak yang bahkan tidak pernah menggunakan rok mini.  Mereka adalah para penikmat atau orang-orang yang banyak mendapat manfaat dari penggunaan rok mini.  Kenikmatan dan manfaat seperti apa yang mereka dapat? Biarkan imajinasi anda yang menjawabnya.

Daripada ribut-ribut terus, sebaiknya mari kita Turunkan BBM dan Naikkan Rok Mini….

 
Leave a comment

Posted by on March 16, 2012 in Lain-lain, Uneg-uneg

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: