RSS

Di Manakah Si Budi dan Keluarganya?

19 Mar

Hari Minggu ­­kemarin, saya mengunjungi pameran buku bertajuk Islamic Book Fair 2012 di Istora Senayan.  Hari itu adalah hari terakhir pameran maka wajar saja kalau pengujungnya membludak.  Di beberapa lokasi bahkan pengunjung harus berdesak-desakan dalam kemacetan layaknya Jalan Sudirman saat jam pulang kantor.   Untuk berjalan sejauh 10 meter saja membutuhkan waktu hingga beberapa menit.

Saya memang suka membeli buku, baik untuk dibaca maupun sekedar memenuhi rak buku yang memang sudah penuh.  Tapi kali ini tujuannya bukan untuk menambah koleksi buku saya.  Tawaran menyumbang buku untuk TK Islam baru di kampung lah yang menjadi motivasi saya.  Itupun karena istri saya yang bersikeras mengajak kesana, mumpung ada pameran kan pasti banyak diskon.  Padahal saat itu dia sedang kurang sehat.  Tapi itulah istri saya, motivasi berbuat untuk orang lain terkadang mengabaikan dirinya sendiri.  Mungkin itu juga salah satu yang membuat saya kagum kepadanya.

Karena mencari buku untuk TK maka fokus pencarian saya di bagian buku anak, dan tentunya yang menawarkan diskon besar-besaran.  Asyik mencari, tiba-tiba mata saya terusik oleh sebuah judul buku yang cukup kotroversial menurut saya.  “Persiapan Memasuki SD. Dilengkapi dengan soal-soal latihan.

Sekilas mungkin tidak ada yang aneh dengan judul buku itu.  Saat membaca judul utamanya “Persiapan Memasuki SD” saya coba menebak isinya.  Saya pikir isinya kurang lebih adalah panduan bagi orang tua untuk mempersiapkan segala sesuatu bagi anaknya yang akan masuk SD.  Entah seperti apa persiapan yang dimaksud tapi yang jelas buku itu adalah untuk orang tua, sama sekali bukan untuk anak yang akan masuk SD.  Tapi judul tambahannya “Dilengkapi soal-soal latihan” itu yang agak menggelitik benak saya.  Satu pertanyaan besar muncul: Memangnya masuk SD ada tes nya ya?

Sebenarnya saya tidak terlalu kaget juga.  Beberapa teman pernah bercerita bahwa sekarang ini untuk masuk SD setiap anak minimal harus sudah bisa membaca.  HAAA….!!! APA….!!! Itulah reaksi saya pertama kali mendengar kabar itu, walaupun hanya dalam hati sih.

Entah kenapa bisa begitu.  Mungkin anak-anak jaman sekarang dilahirkan jauh lebih cerdas sehingga sebelum masuk sekolah formal pun sudah bisa membaca.  Atau kemajuan teknologi yang begitu pesat menuntut anak-anak harus bisa membaca lebih awal agar minimal bisa mengikutinya.  Atau bangsa ini sudah merasa begitu terpuruk sehingga untuk mengejar ketertinggalannya dari bangsa lain, anak-anak harus sudah mulai membaca bahkan sebelum masuk SD.  Ah, entahlah.  Mungkin hanya Tuhan dan sang supir yang tahu, kemana bajaj hendak belok.

Jaman dulu, kalau ada anak yang sudah bisa membaca saat masuk SD maka semua orang akan kagum dan memujinya sebagai anak hebat, pintar, cerdas, dan segala macam pujian lainnya.  Walaupun kemudian saya justru kasihan dengan anak-anak semacam itu.  Karena begitu masuk SD, kelas 1, pelajaran utamanya ya hanya belajar membaca, menulis, dan berhitung.  Lha kalau anak sudah bisa membaca mau belajar apa lagi dia di kelas? Kasihan bukan? Bisa-bisa dia merasa bosan dan akhirnya tak mau lagi sekolah.

Kembali ke jaman sekarang, kemampuan membaca sebelum sekolah bukan hanya dianggap sesuatu yang lumrah, tapi justru menjadi syarat untuk masuk sekolah.  Mungkin memang tak semua SD yang mensyaratkan kemampuan membaca ini.  Pertanyaan saya masih sama, kalau masuk SD anak sudah mahir membaca, lalu di kelas 1 SD mereka mau belajar apa? Yang jelas sudah tak ada lagi pelajaran membaca yang diawali dengan pengenalan huruf.  Dilanjutkan dengan belajar mengeja, lalu membaca potongan kata yang akhirnya membentuk kalimat sederhana.

Bagian inilah bagian favorit saya.  Saat sudah mulai bisa membaca potongan kalimat, dikenalkanlah saya pada seorang tokoh legendaris sekaligus misterius.  Legendaris karena hampir semua buku untuk tingkatan itu selalu menyebut-nyebut namanya, dan saya yakin hampir seluruh anak di negeri ini pada masa itu kenal dengannya.  Misterius karena sampai saat ini saya tidak pernah tahu dari mana asal usulnya dan siapa sebenarnya tokoh ini.  Tak hanya sendirian, dia juga selalu membawa serta keluarganya.

Mungkin anda sudah bisa menebak, tokoh itu adalah si Budi dan keluarganya.  Mungkin anda mengernyitkan dahi sesaat…  Tapi sesaat kemudian anda pasti mengatakan: “Ohhh…”

Ya betul sekali, itulah maksud saya.  Pelajaran membaca pertama saya di SD –dan mungkin seluruh SD di Indonesia pada era itu- adalah kalimat “Ini Budi… Ini Ibu Budi… Ini Bapak Budi… Ini Adik Budi…”

Maka jika sekarang untuk masuk SD setiap anak harus sudah pandai membaca, maka tentu tak ada lagi pelajaran membaca seperti apa yang saya pelajari dulu itu.  Kalau sudah begitu, lalu bagaimana nasib si Budi dan Keluarganya yang legendaris tetapi misterius itu? Di manakah mereka sekarang berada?

 

 
Leave a comment

Posted by on March 19, 2012 in Lain-lain, Uneg-uneg

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: