RSS

Monthly Archives: April 2012

Atas Nama Tradisi

Semalam pulang dari kantor, sambil leyeh-leyeh dan bercengkerama dengan istri tercinta saya nonton berita.  Ada 1 berita yang membuat kening saya mengernyit.  Isi berita itu tentang aksi pembubaran paksa sebuah majelis tabligh berinisial MTA oleh penduduk sekitar yang sebagian besar –atau seluruhnya- adalah warga NU.  Kejadiannya di daerah Jogja, saya lupa tepatnya.  Salah satu alasannya karena MTA dituding melarang jamaahnya melakukan ritual “Tahlilan”.  Padahal menurut warga Tahlilan sudah menjadi tradisi warga secara turun-temurun.

Rasa penasaran saya pun membuncah.  Ada 2 hal yang memicunya.

Pertama.  Siapakah MTA ini?  Kenapa kehadirannya dianggap meresahkan hingga akhirnya warga membubarkan secara paksa pengajiannya.  Adakah MTA ini aliran semacam Ahmadiyah jenis baru?  Tapi kok saya baru mendengarnya sekarang.

Setelah browsing sana sini terungkaplah bahwa MTA adalah singkatan dari Majelis Tafsir Alquran.  Dari namanya ini saya pikir tidak ada yang salah.  Bahkan namanya luar biasa menurut saya.  Pencarian saya langsung diarahkan pada situs resmi jamaah ini.  Dari profil dalam situs resminya disebutkan bahwa MTA adalah sebuah yayasan yang bergerak di bidang pendidikan dan dakwah Islamiyah.  Yayasan ini didirikan sejak tahun 1972 (sudah tua juga ternyata).  Tujuan utamanya mengajak umat Islam kembali kepada ajaran Alquran.  Kegiatan utamanya berupa pengajian, baik pengajian khusus maupun umum, serta pendidikan baik formal maupun non formal.  Di samping itu mereka juga bergerak di bidang social, ekonomi, dan kesehatan.  Informasi lebih lengkapnya bisa dibaca disini.

Setelah membaca sekilas profilnya, saya masih tidak menemukan sesuatu yang ganjil.  Maka saya lanjutkan membaca salah satu tausiahnya yang berjudul “Terjebak Kebiasaan”.  Judul itu saya pilih karena letaknya paling atas dan saya pikir isinya cukup menarik dan cukup bisa memberikan gambaran tentang MTA itu sendiri.  Inti dari tausiah itu kurang lebih adalah mengajak manusia agar tidak terjebak melakukan kebiasaan-kebiasaan jelek, walaupun hal itu dianggap baik dan sudah umum dilakukan oleh kebanyakan orang secara turun temurun dan menjadi tradisi.  Sebagai manusia beriman setiap muslim haruslah mengembalikan segala sesuatu pada ajaran agama. Alquran dan Assunah.

Salah satu dalilnya adalah Surat Al-Kahfi ayat 103-104, yang artinya:

Katakanlah: “Apakah akan kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?”

Yaitu orang-orang yang Telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.

Sampai di sini saya masih belum juga menemukan sesuatu yang janggal hingga membuat jamaah ini layak dibubarkan paksa.  Oleh karena itu saya membuat kesimpulan sementara bahwa tidak ada yang salah pada MTA.  Dugaan awal bahwa MTA adalah aliran semacam Ahmadiyah dan sebangsanya saya buang jauh-jauh.

Kedua.  Alasan utama warga membubarkan jamaah itu adalah karena dianggap meresahkan.  Salah satu poin yang diungkapkan dalam berita itu adalah karena MTA melarang melakukan tahlilan, yang bagi warga sekitar sudah menjadi tradisi sejak jaman walisongo.

Hasil pencarian saya di dunia maya menunjukkan bahwa kasus pembubaran paksa jamaah MTA oleh warga bukan pertama kali terjadi.  Setidaknya saya menemukan ada 3 tempat yang pernah mengalami kejadian serupa, yaitu di Purworejo, Kudus, dan Ponorogo.  Dan ternyata alasannya tak jauh berbeda, yaitu sekitar masalah tahlilan dan ritual-ritual lainnya yang sudah menjadi tradisi.

Saya berhenti, berpikir sejenak.  Pencarian saya sepertinya mulai menemukan titik terang.  Tapi kemudian saya buru-buru menghapus lagi titik terang itu.  Semoga bukan itu jawaban atas pencarian saya.  Kenapa begitu? Karena yang saya maksud titik terang itu adalah saya teringat ayat Alquran tentang jawaban orang-orang kafir terhadap perintah untuk mengikuti ajaran Islam.  Mereka menolak ajaran yang datang dari Allah dan mengatakan bahwa mereka hanyalah mengikuti apa yang dilakukan oleh nenek moyang mereka.  Setelah mencari kesana kemari akhirnya saya menemukan ayatnya, yaitu Surat Al-Baqarah ayat 170, yang artinya:

Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. (Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?

Selain ayat tersebut, ternyata banyak ayat-ayat lain maupun hadits yang isinya hampir sama.  Yang intinya bahwa segala kebenaran hanya datang dari Allah dan disampaikan melalui rasulnya.  Bahwa kita dilarang mendasarkan amal perbuatan kita pada adat kebiasaan dan tradisi nenek moyang atau orang kebanyakan.  Bahkan tindakan dan amalan tokoh sekelas wali (atau sunan atau apapun namanya) tidak bisa dijadikan dasar (taklid) untuk membenarkan atau menyalahkan sesuatu.  Segala perbuatan harus dikembalikan pada ajaran Islam yang suci, yang bersumber dari Alquran dan Hadits.

Kenapa tadi saya katakan menghapus lagi titik terang yang mulai saya temukan? Karena saya berharap dan berdoa semoga tindakan pembubaran paksa yang dilandasi kebencian karena dilarang melakukan apa yang biasa mereka lakukan, yang juga dilakukan nenek moyang mereka, tidaklah termasuk dalam golongan yang diceritakan dalam Al-Baqarah 170 tersebut.  Saya berdoa semoga kejadian ini hanyalah akibat kesalahpahaman atau ulah provokator yang memanfaatkan kondisi keilmuan sebagian umat yang belum mendalam tentang ajaran Islam.

Kejadian ini sebenarnya juga saya alami di lingkungan sekitar, kampung dan kota, bahkan keluarga.  Betapa ritual-ritual tertentu  yang dianggap sebagai ibadah oleh sabagian saudara-saudara kita sudah begitu mendarah daging, menjadi budaya yang pantang untuk ditinggalkan.  Tak perlu saya sebutkan ritual apa yang saya maksud itu, karena sudah saya sebutkan di awal tadi.  Dan saya tak mau persoalan jadi semakin runyam.  Karena bukan tentang detail ritual-ritual itu yang menjadi penekanan saya.

Jawaban orang-orang kafir dalam Al-Baqarah 170 itulah yang menjadi fokus saya.  Maka marilah kita bermuhasabah, mengintrospeksi diri kita masing-masing.  Apakah setiap tindak dan laku kita khususnya menyangkut ubudiyah, walaupun tak meninggalkan urusan mauamalah, telah sesuai ajaran yang diturunkan Allah dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW?  Apakah amalan-amalan itu mempunyai dasar dalil yang kuat?  Ataukah kita selama ini mengamalkannya hanya karena orang tua kita, warga kampung kita, kiyai kita, para pendahulu kita, hingga –katanya- para wali juga mengamalkannya, tanpa dalil yang jelas dan kuat?

Lalu saat ada saudara kita yang mengajak dan menunjukkan kita pada ajaran yang suci, yang merujuk pada Alquran dan hadits, yang tentunya tak terbantahkan kebenarannya, bagaimana sikap dan apa jawaban kita? Apakah kita lebih memilih adat dan kebiasaan daripada kebenaran?  Adat, tradisi dan kebiasaan bukanlah terlarang untuk dijaga dan dilestarikan.  Tentu dengan catatan tak ada ajaran dan aturan yang dilanggar.  Tetapi ketika adat, tradisi, dan kebiasaan itu jelas-jelas melanggar, meninggalkannya adalah sebuah keharusan.  Bahkan ketika itu semua masih menjadi perdebatan, antara benar salahnya, boleh tidaknya, halal haramnya, maka meninggalkannya adalah pilihan yang lebih bijaksana.

Ya Allah… berikanlah petunjukmu dan bimbinglah aku agar selalu berada di jalanmu…

Advertisements
 
3 Comments

Posted by on April 3, 2012 in I'm Moslem, Uneg-uneg

 

Menyingkap Keindahan yang Terabaikan dengan Fotografi Makro

Fotografi adalah seni.  Seni adalah tentang keindahan.  Itulah salah satu alasan saya menyukai fotografi.  Dengan fotografi saya tak hanya menikmati sendiri keindahan itu, tetapi juga berbagi dengan orang lain.  Keindahan yang belum pernah anda lihat sendiri.  Keindahan yang pernah anda lihat tanpa sempat mengabadikannya.  Keindahan yang sering anda lihat tanpa menyadarinya.  Atau bahkan keindahan –yang tanpa fotografi- anda anggap itu menjijikkan.

Salah satu cabang fotografi yang sangat menarik bagi saya adalah fotografi makro (atau mikro).  Apa itu fotografi makro bisa anda lihat disini.  Saya sendiri juga tak terlalu paham definisi teknis nya.  Ah tapi mungkin itu tak terlalu relevan.  Saya hanya berusaha mengaplikasikannya untuk memotret keindahan-keindahan yang tersembunyi dan terabaikan, karena ukurannya yang mungkin terlalu kecil.

Objek favorit saya adalah binatang-binatang kecil seperti serangga, laba-laba, dan binatang lainnya.  Apapun binatang kecil yang saya temui saat “berburu” tak jadi soal.  Yang jelas mereka harus benar-benar alami.  Tak ada proses pengarahan gaya apalagi pembunuhan, hanya untuk mendapatkan pose yang saya inginkan.  Semua binatang yang saya potret dalam keadaan hidup, sedang melakukan aktivitas alaminya, dan di habitat aslinya.  Tak ada proses rekayasa apapun.  Saya tidak mengatakan bahwa membunuh binatang sebelum memotretnya adalah sebuah kesalahan.  Semua itu tergantung tujuan masing-masing.

Bagi sebagian orang, alih-alih menakjubkan binatang-binatang ini mungkin lebih dianggap menjijikkan.  Tapi bagi saya organisme yang terdiri dari struktur yang unik, dibalur permainan komposisi warna yang mencolok, dan mempunyai tingkah laku yang yang tak biasa ini adalah sebuah keindahan yang luar biasa.  Jika anda bisa menikmatinya, rasa jijik bisa berubah menjadi takjub.

Salah satu teknik yang saya pelajari dalam memotret binatang-binatang kecil khususnya serangga adalah fokus pada bagian mata.  Ini karena bagian mata biasanya mempunyai bentuk dan warna yang menarik.  Selain itu, binatang yang sedang melakukan aktivitas tertentu merupakan objek yang lebih menarik dibandingkan binatang yang sedang tidak melakukan aktivitas apa-apa.  Aktivitas seperti berburu, berpose unik, atau bahkan sedang bereproduksi merupakan momen yang sangat menarik untuk diabadikan.  Untuk mendapatkan momen-momen seperti itu tentu membutuhkan kesabaran, kecepatan, kejelian, dan sedikit keberuntungan.

 

 

 

 

 

 

Ada banyak metode dan peralatan yang bisa digunakan untuk mengaplikasikan fotografi makro.  Dari yang rumit hingga yang sederhana.  Dari yang mahal hingga yang murah meriah.  Untuk saat ini fotografi makro dipermudah oleh kemajuan teknologi digital.  Sebagian besar kamera poket digital sudah dilengkapi fitur makro, walaupun kualitas gambar dan perbesaran yang dihasilkan masih terbatas.

 

 

Senjata andalan saya

Saya sendiri selama ini hanya menggunakan peralatan “seadanya”.  Seadanya karena saya hanya menggunakan kamera D40 kesayangan saya, sebuah lensa fixed 50mm seri E yang umurnya mungkin lebih tua daripada saya, dan sebuah reversing ring untuk membalik lensa.  Dengan peralatan seperti itu, semua settingan kamera menjadi manual, mulai dari light meter hingga focusing. 

 

 

 

Anda tertarik? Selamat mencoba…

 
2 Comments

Posted by on April 2, 2012 in Fotografi, Lain-lain

 

Movie Review “The Raid”

Beberapa bulan lalu saat tahu ada film baru Iko Uwais, tak sabar hati ini ingin segera menikmatinya. Begitu tahu film itu menggondol beberapa penghargaan di berbagai festival, rasa penasaran semakin tak tertahan. Apalagi konon kabarnya film itu adalah film Indonesia pertama yang diputar serentak di seluruh dunia.

Malam minggu ini, yang ditunggu-tunggu datang juga. Bersama istri tercinta dan seorang sahabat setia, di Gandaria tempatnya.

Langsug saja reviu nya.

Film yang cukup berani menurut saya. Berani mengambil setting hanya di satu lokasi dan satu waktu sepanjang cerita, bahkan tanpa permainan alur maju maupun mundur. Setahu saya tak banyak film macam ini, dan seingat saya semuanya luar biasa. Sebut saja “Phone Booth” nya Colin Farrel yang hampir sepanjang film hanya menampilkan adegan di dalam sebuah kotak telepon umum.

Sebagai film action yang didominasi adegan perkelahian, tangan kosong maupun bersenjata, film ini sempurna. Memang agak terlalu banyak sadisme dan darah. Tapi apa lagi yang anda harapkan dari sebuah perang? Makanya sebelum film mulai saya berpesan pada istri, “Siap-siap ya, agak sadis filmnya…”

Secara umum Film ini cukup memenuhi ekspektasi saya. Selain wajah pribumi para aktor dan tulisan “Merantau Films”, mungkin anda tak akan mengira ini bukan film Hollywood.

Tapi tentu secara keseluruhan film ini tak sempurna. Beberapa hal ini sebabnya:

1. Kurangnya detail cerita yang bersifat teknis.

Misalnya apa nama kesatuan pasukan ini, bagaimana strategi penyerbuan ini, tak adanya orientasi medan, tak adanya komando dari luar gedung, mobil pengangkut pasukan yang parkir begitu saja di tempat terbuka, dan hal-hal sejenisnya.

2. Penggunaan nama “Mad Dog” yang menurut saya kurang pantas dan tak perlu.

Dengan wajah yang 100% pribumi dan kemampuan beladiri didominasi jurus-jurus silat, nickname dengan bahasa lokal lebih tepat dan terkesan lebih menakutkan menurut saya.

3. Wajah Rama yang terlalu bersih dan fisik yang begitu bugar di akhir cerita.

Setelah begitu banyak perkelahian, saya rasa hanya Chuck Norris dan Steven Seagal yang akan tetap klimis dan rapi di akhir cerita. Apalagi luka sayat di pipinya yang sebelumnya tampak bengkak, secara aneh tiba-tiba hilang tak berbekas.

4. Paket aktor utama yang itu-itu lagi.

Ketika seorang aktor identik dengan satu genre film tertentu, itu sah-sah saja. Memang kebanyakan aktor dikenal seperti itu. Ada aktor watak, aktor laga, aktor komedi, dan lain sebagainya. Tapi ketika beberapa aktor selalu bermain dalam satu film dengan genre yang sama dan peran yang juga itu-itu saja, bagi saya ini bukan hal yang baik. Dalam film ini setidaknya ada 3 aktor utama yang juga bermain dalam film Merantau, dengan peran yang persis dan hampir sama. Ketiga aktor itu adalah Iko Uwais sendiri dan Donny Alamsyah, yang sama-sama berperan sebagai kakak-adik, serta Yayan Ruhian yang sama-sama berperan sebagai jagoan tokoh antagonis. Saya berharap semoga film-film berikutnya bisa menghadirkan variasi aktor yang lebih kreatif. Atau kalaupun aktornya sama, perannya bisa lebih diexplore lagi. Jangan sampai era Barry Prima dan Advent Bangun terulang lagi.

Bagaimanapun juga, kekurangan itu tak seberapa jika dibanding prestasinya. Prestasi terbesar menurut saya bukanlah penghargaan dari berbagai festival, tetapi menyelamatkan wajah perfilman Indonesia, yang selama ini saya kira hanya ada Cinta (yang tidak menyentuh), Humor (yang sama sekali tidak lucu), dan Horor (yang selalu “kreatif” menghadirkan jenis-jenis dedemit baru).

Selamat Menonton…

 
Leave a comment

Posted by on April 1, 2012 in Resensi Buku & Film