RSS

Atas Nama Tradisi

03 Apr

Semalam pulang dari kantor, sambil leyeh-leyeh dan bercengkerama dengan istri tercinta saya nonton berita.  Ada 1 berita yang membuat kening saya mengernyit.  Isi berita itu tentang aksi pembubaran paksa sebuah majelis tabligh berinisial MTA oleh penduduk sekitar yang sebagian besar –atau seluruhnya- adalah warga NU.  Kejadiannya di daerah Jogja, saya lupa tepatnya.  Salah satu alasannya karena MTA dituding melarang jamaahnya melakukan ritual “Tahlilan”.  Padahal menurut warga Tahlilan sudah menjadi tradisi warga secara turun-temurun.

Rasa penasaran saya pun membuncah.  Ada 2 hal yang memicunya.

Pertama.  Siapakah MTA ini?  Kenapa kehadirannya dianggap meresahkan hingga akhirnya warga membubarkan secara paksa pengajiannya.  Adakah MTA ini aliran semacam Ahmadiyah jenis baru?  Tapi kok saya baru mendengarnya sekarang.

Setelah browsing sana sini terungkaplah bahwa MTA adalah singkatan dari Majelis Tafsir Alquran.  Dari namanya ini saya pikir tidak ada yang salah.  Bahkan namanya luar biasa menurut saya.  Pencarian saya langsung diarahkan pada situs resmi jamaah ini.  Dari profil dalam situs resminya disebutkan bahwa MTA adalah sebuah yayasan yang bergerak di bidang pendidikan dan dakwah Islamiyah.  Yayasan ini didirikan sejak tahun 1972 (sudah tua juga ternyata).  Tujuan utamanya mengajak umat Islam kembali kepada ajaran Alquran.  Kegiatan utamanya berupa pengajian, baik pengajian khusus maupun umum, serta pendidikan baik formal maupun non formal.  Di samping itu mereka juga bergerak di bidang social, ekonomi, dan kesehatan.  Informasi lebih lengkapnya bisa dibaca disini.

Setelah membaca sekilas profilnya, saya masih tidak menemukan sesuatu yang ganjil.  Maka saya lanjutkan membaca salah satu tausiahnya yang berjudul “Terjebak Kebiasaan”.  Judul itu saya pilih karena letaknya paling atas dan saya pikir isinya cukup menarik dan cukup bisa memberikan gambaran tentang MTA itu sendiri.  Inti dari tausiah itu kurang lebih adalah mengajak manusia agar tidak terjebak melakukan kebiasaan-kebiasaan jelek, walaupun hal itu dianggap baik dan sudah umum dilakukan oleh kebanyakan orang secara turun temurun dan menjadi tradisi.  Sebagai manusia beriman setiap muslim haruslah mengembalikan segala sesuatu pada ajaran agama. Alquran dan Assunah.

Salah satu dalilnya adalah Surat Al-Kahfi ayat 103-104, yang artinya:

Katakanlah: “Apakah akan kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?”

Yaitu orang-orang yang Telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.

Sampai di sini saya masih belum juga menemukan sesuatu yang janggal hingga membuat jamaah ini layak dibubarkan paksa.  Oleh karena itu saya membuat kesimpulan sementara bahwa tidak ada yang salah pada MTA.  Dugaan awal bahwa MTA adalah aliran semacam Ahmadiyah dan sebangsanya saya buang jauh-jauh.

Kedua.  Alasan utama warga membubarkan jamaah itu adalah karena dianggap meresahkan.  Salah satu poin yang diungkapkan dalam berita itu adalah karena MTA melarang melakukan tahlilan, yang bagi warga sekitar sudah menjadi tradisi sejak jaman walisongo.

Hasil pencarian saya di dunia maya menunjukkan bahwa kasus pembubaran paksa jamaah MTA oleh warga bukan pertama kali terjadi.  Setidaknya saya menemukan ada 3 tempat yang pernah mengalami kejadian serupa, yaitu di Purworejo, Kudus, dan Ponorogo.  Dan ternyata alasannya tak jauh berbeda, yaitu sekitar masalah tahlilan dan ritual-ritual lainnya yang sudah menjadi tradisi.

Saya berhenti, berpikir sejenak.  Pencarian saya sepertinya mulai menemukan titik terang.  Tapi kemudian saya buru-buru menghapus lagi titik terang itu.  Semoga bukan itu jawaban atas pencarian saya.  Kenapa begitu? Karena yang saya maksud titik terang itu adalah saya teringat ayat Alquran tentang jawaban orang-orang kafir terhadap perintah untuk mengikuti ajaran Islam.  Mereka menolak ajaran yang datang dari Allah dan mengatakan bahwa mereka hanyalah mengikuti apa yang dilakukan oleh nenek moyang mereka.  Setelah mencari kesana kemari akhirnya saya menemukan ayatnya, yaitu Surat Al-Baqarah ayat 170, yang artinya:

Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. (Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?

Selain ayat tersebut, ternyata banyak ayat-ayat lain maupun hadits yang isinya hampir sama.  Yang intinya bahwa segala kebenaran hanya datang dari Allah dan disampaikan melalui rasulnya.  Bahwa kita dilarang mendasarkan amal perbuatan kita pada adat kebiasaan dan tradisi nenek moyang atau orang kebanyakan.  Bahkan tindakan dan amalan tokoh sekelas wali (atau sunan atau apapun namanya) tidak bisa dijadikan dasar (taklid) untuk membenarkan atau menyalahkan sesuatu.  Segala perbuatan harus dikembalikan pada ajaran Islam yang suci, yang bersumber dari Alquran dan Hadits.

Kenapa tadi saya katakan menghapus lagi titik terang yang mulai saya temukan? Karena saya berharap dan berdoa semoga tindakan pembubaran paksa yang dilandasi kebencian karena dilarang melakukan apa yang biasa mereka lakukan, yang juga dilakukan nenek moyang mereka, tidaklah termasuk dalam golongan yang diceritakan dalam Al-Baqarah 170 tersebut.  Saya berdoa semoga kejadian ini hanyalah akibat kesalahpahaman atau ulah provokator yang memanfaatkan kondisi keilmuan sebagian umat yang belum mendalam tentang ajaran Islam.

Kejadian ini sebenarnya juga saya alami di lingkungan sekitar, kampung dan kota, bahkan keluarga.  Betapa ritual-ritual tertentu  yang dianggap sebagai ibadah oleh sabagian saudara-saudara kita sudah begitu mendarah daging, menjadi budaya yang pantang untuk ditinggalkan.  Tak perlu saya sebutkan ritual apa yang saya maksud itu, karena sudah saya sebutkan di awal tadi.  Dan saya tak mau persoalan jadi semakin runyam.  Karena bukan tentang detail ritual-ritual itu yang menjadi penekanan saya.

Jawaban orang-orang kafir dalam Al-Baqarah 170 itulah yang menjadi fokus saya.  Maka marilah kita bermuhasabah, mengintrospeksi diri kita masing-masing.  Apakah setiap tindak dan laku kita khususnya menyangkut ubudiyah, walaupun tak meninggalkan urusan mauamalah, telah sesuai ajaran yang diturunkan Allah dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW?  Apakah amalan-amalan itu mempunyai dasar dalil yang kuat?  Ataukah kita selama ini mengamalkannya hanya karena orang tua kita, warga kampung kita, kiyai kita, para pendahulu kita, hingga –katanya- para wali juga mengamalkannya, tanpa dalil yang jelas dan kuat?

Lalu saat ada saudara kita yang mengajak dan menunjukkan kita pada ajaran yang suci, yang merujuk pada Alquran dan hadits, yang tentunya tak terbantahkan kebenarannya, bagaimana sikap dan apa jawaban kita? Apakah kita lebih memilih adat dan kebiasaan daripada kebenaran?  Adat, tradisi dan kebiasaan bukanlah terlarang untuk dijaga dan dilestarikan.  Tentu dengan catatan tak ada ajaran dan aturan yang dilanggar.  Tetapi ketika adat, tradisi, dan kebiasaan itu jelas-jelas melanggar, meninggalkannya adalah sebuah keharusan.  Bahkan ketika itu semua masih menjadi perdebatan, antara benar salahnya, boleh tidaknya, halal haramnya, maka meninggalkannya adalah pilihan yang lebih bijaksana.

Ya Allah… berikanlah petunjukmu dan bimbinglah aku agar selalu berada di jalanmu…

 
3 Comments

Posted by on April 3, 2012 in I'm Moslem, Uneg-uneg

 

3 responses to “Atas Nama Tradisi

  1. silo sedi

    July 14, 2012 at 12:55 am

    dari tulisannya saja saya yakin penulis adalah golongan oranga2 MTA,Semoga saya khilaf ,sekilas memang tidak memihak namun kalau diteliti banget tetap aja memihak,didalam alquran sdh disebutkan bahwa setiap golongan pasti memihak pada golongannya.dilain ayat disebutkan juga yang intinya”belum tentu golongan yang diolok olok lebih jelek daripada yang mengolok olok dst

    saya sendiri gak habis pikir kenapa sih orang2 seperti MTA dan sejenisnya selalu usil gak legowo dengan amalan2 yang sebagaian banyak dilakukan oleh warga nahdiyyin? karena saya sendiri juga sering browsing dari berbagai macam blok seperti salafi/wahabi,/http://mutiarazuhud.wordpress.com/dll.masing2 golongan sudah menerangkan dan menjelaska persoalan yang sering kali jadi topik perdebatan,tetapi tetap aja masing2 tidak mahu terima

    dimana persaudaraan sesama muslim kita? apakah kalau tidak golongannya bukan termasuk muslim?kalau ini benar,kita tunggu saja apakah suatu saat nanti islam di indonesia seperti islam di pakistan,india,afgnistan dan sebagian yang lain daerah timur tengah? naudhubillahimindalik

    semoga islam tetap jaya dengan ajaran2nya amin
    dan kita menjadi golongan yang benar2 menjalankan hadist nabi la tahasad wala tadabaru wal tajassasu dst

     
    • andy727

      October 9, 2012 at 2:09 pm

      Salam kenal n Terima kasih mas Silo sedi atas responnya.
      Pertama, saya tidak mengerti apa yg anda maksud dengan “golongan orang2 MTA”. Tapi saya tidak pernah dan tidak ingin tergabung dalam golongan apapun kecuali 1 golongan yg disebut Nabi Muhammad akan masuk surga, saat 72 golongan yg lain masuk neraka, yaitu golongan Ahlussunah wal Jama’ah.
      Kedua, setau saya saudara2 kita di MTA atau apapun sebutannya bukanlah usil. Mereka hanyalah melaksanakan salah satu kewajiban setiap kita semua sebagai seorang muslim, yaitu berdakwah. Saat saudara kita ada yang salah atau lupa, kewajiban kita untuk saling mengingatkan, bukan memaksa. Kalaupun ada golongan yg memaksakan ajaran mereka, lalu menjelek-jelekkan golongan yang lain, tentu itu lain urusannya.

      Wallaahu a’lam bisshowaf…

       
  2. ajust

    October 30, 2012 at 12:04 am

    jempol aja, semoga enantiasa diberi hidayah.

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: