RSS

Negeri Bilingual (bagian pertama)

11 May

Beberapa hari yang lalu, ada sebuah salinan peraturan teronggok di meja kerja. Penetapan peraturan itu belum lama berselang. Sebut saja peraturan itu berjudul “Peraturan Inspektur Jenderal Nomor sekian tentang Perencanaan Pengawasan dan seterusnya…”.  Bukan isi peraturan itu yang ingin saya bahas, karena saya baru baca halaman pertama. Kalaupun saya baca sampai khatam belum tentu juga saya jadi paham. Kalau saya tidak paham lalu saya coba ceritakan pada anda, bagaimana anda bisa paham?

Ah sudahlah, kan saya bilang tidak akan membahas isinya. Yang mengusik pikiran saya adalah –bahkan di halaman pertama, di bagian “Menimbang”- penggunaan bahasa asing (baca: bahasa Inggris) dalam peraturan itu.  Setidaknya ada 2 kata yang digunakan pada bagian ini –entahlah di halaman berikut, apalagi di bagian lampiran- yaitu assurance dan consulting. Dalam ranah audit atau pengawasan, 2 kata ini memang mengacu pada istilah yang spesifik dan mempunyai definisi tertentu. Definisi itu tidak bisa semata-mata diperoleh dari terjemahan bebas kedua kata ini ke dalam Bahasa Indonesia, walaupun sebenarnya tidak sama sekali bertentangan. Ketika 2 kata ini harus diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, dengan tetap memepertahankan definisi spesifiknya dalam konteks audit, mungkin memang agak susah.

Tapi dalam sebuah peraturan, baik berupa undang-undang maupun bentuk peraturan yang lain, perbedaan makna karena penggunaan istilah-istilah bukanlah sesuatu yang tidak bisa diselesaikan. Sesuatu yang sangat lumrah dalam segala jenis peraturan adalah daftar definisi atau pengertian. Biasanya letaknya pada bab tentang Ketentuan Umum. Bunyinya kurang lebih seperti ini: “Dalam peraturan ini yang dimaksud dengan:” dan seterusnya. Lalu diikuti dengan istilah-istilah yang digunakan dalam peraturan yang bersangkutan beserta definisinya. Walaupun menggunakan bahasa asing pun sebenarnya belum tentu bisa menggantikan fungsi daftar definisi ini.

Yang menjadi kurang sreg bagi saya adalah penggunaan bahasa asing –yang sebenarnya bisa menggunakan Bahasa Indonesia- dalam sebuah dokumen resmi yang penyusunannya seharusnya mengikuti kaidah Bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai dengan EYD dan mengacu pada KBBI (semoga anda semua masih ingat apa itu EYD dan KBBI). Saya rasa bukan sekali ini saja bahasa asing digunakan dalam dokumen-dokumen resmi semacam peraturan perundang-undangan maupun dokumen lain, yang notabene mengatur urusan dalam negeri dan berlaku di dalam negeri.

Jika dalam dokumen-dokumen resmi saja penggunaan bahasa asing sudah menjadi kelaziman, bagaimana dengan dokumen-dokumen tidak resmi maupun dalam bahasa verbal? Rupanya intensitas penggunaan bahasa asing lebih tinggi lagi pada keduanya. Sering kita jumpai penggunaan bahasa asing dalam berbagai tulisan non formal mulai dari berita, artikel, tulisan di blog, hingga update status di berbagai jejaring sosial. Begitu pula dalam berbagai bentuk komunikasi verbal mulai dari percakapan, diskusi, rapat, bahkan hingga pidato-pidato resmi. Alih-alih menggunakan Bahasa Indonesia banyak orang yang lebih suka menggunakan bahasa asing untuk menyampaikan maksudnya.

Itu semua tentu bukan tanpa alasan. Rupa-rupa alasannya. Bagi sebagian orang, Bahasa Indonesia mempunyai banyak keterbatasan dalam menterjemahkan bahasa asing. Bisa jadi suatu istilah bahasa asing menimbulkan interpretasi yang berbeda dengan terjemahan bebasnya ke dalam Bahasa Indonesia. Bisa juga suatu istilah bahasa asing belum ada terjemahan bebasnya dalam Bahasa Indonesia. Dalam kondisi seperti ini menggunakan bahasa asing akan lebih efektif dan efisien dalam komunikasi. Contohnya, lagi-lagi di kantor saya, ada sebuah ruangan yang berlabel “R. JANITOR”. Ada yang aneh dari penamaan ruangan ini. Huruf R merupakan singkatan dari kata “Ruang”. Ini berarti penamaan ruangan ini menggunakan Bahasa Indonesia, begitu pikir saya. Lalu saya penasaran dengan kata “Janitor”. Saya cari di KBBI online versi Kemdiknas, hasilnya ternyata seperti ini: “Tidak menemukan kata yang sesuai dengan kriteria pencarian!!!”. Lalu pencarian saya alihkan ke salah satu website kamus bahasa Inggris online, hasilnya “Janitor: pesuruh; petugas kebersihan; pembersih kantor”. Ternyata Janitor adalah kata dalam bahasa Inggris, yang entah sudah diserap secara resmi dalam Bahasa Indonesia atau belum.

(bersambung…)

 
1 Comment

Posted by on May 11, 2012 in Lain-lain, Uneg-uneg

 

One response to “Negeri Bilingual (bagian pertama)

  1. Bayu Ratri

    May 11, 2012 at 11:08 am

    baca manga juga lebih sreg klo pake bahasa inggris daripada indo. klo pake indo, serasa ga dapat kesan yang ingin disampaikan dari manga itu. padahal manga itu sendiri aslinya bahasa jepun.

    begitu juga dengan film. lebih asyik dan ‘kena’ klo nonton film yang masih pake bahasa bule, meski ada terjemahan teksnya daripada nonton yg udah full dubbing (halah, bilingual meneh).

    kadang bertanya2 juga. apa karena kesalahan translator atau memang ada ‘sesuatu’ yang kurang dari bahasa indonesia?

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: