RSS

Memulai B2W lagi

06 Apr

Dalam ingatan saya, terakhir kali saya bersepeda ke tempat kerja (bike to work – b2w) adalah di tahun 2012. Saat itu saya masih tinggal di wilayah Cipulir, Jakarta Selatan. Jarak rumah – kantor hanya sekitar 15 km. Setidaknya hampir seminggu sekali saya b2w.

Tahun 2012 akhir saya pindah ke Depok. Jarak rumah – kantor menjadi dua kali lipat, 30 km lebih. Tahun 2013 saya berkesempatan melanjutkan studi di sebuah universitas yang letaknya tak jauh dari rumah. Aktivitas b2w pun terpaksa saya hentikan dulu sampai batas waktu yang tak tentu.  Sepeda pun lebih banyak terparkir di garasi. Hanya sesekali gowes santai di akhir pekan bersama istri. Tahun 2015 akhir saya kembali ke kantor. “Nyaman” nya KRL Commuterline membuat saya semakin berat untuk kembali mengayuh sepeda.

Hingga akhirnya hari ini, sebuah lompatan besar dalam hidup saya lalui (halah… lebay… ). Setelah hampir 5 tahun, saya berkesempatan merasakan kembali sensasi bersepeda di pagi hari. Menuju tempat kerja di tengah semrawutnya lalu lintas jalanan ibu kota. Bergumul dengan asap buangan pembakaran mesin yang menyesakkan paru-paru. Ketiadaan jalur khusus sepeda memaksa sepedaku harus bersanding dengan motor dan mobil yang semua tampak terburu-buru seolah ingin jadi nomor satu.

Tapi, sensasi itu masih sama, tiada dua dan tak pernah terganti. Di sini saya tidak lebay. Ini asli tulus dari hati. Sensasi inilah yang saya yakin menjadi motivator utama bagi para pegiat sepeda, khusunya genre b2w, untuk terus mengayuh sepeda mereka. Sensasi sejuknya terpaan angin saat sepeda melaju. Sensasi nafas yang terengah dan detak jantung yang memburu saat tanjakan tak terelakkan. Sensasi kekeluargaan saat bertemu sesama pesepeda, yang tiba-tiba langsung akrab meski belum pernah bersua sebelumnya. Sensasi saat tiba di tempat kerja lalu orang-orang menatap dengan pandangan bertanya-tanya, heran, kagum, atau tak peduli sekalipun. Dan masih banyak sensasi lainnya yang hanya bisa dirasakan tanpa bisa diceritakan.

Kebetulan hari ini saya sedang mendapatkan tugas ke kantor lain di bilangan Otista Raya, Jakarta Timur. Setelah saya cek di peta ternyata jaraknya 23 km dari rumah. Jarak yang tak terlalu jauh sebenarnya. Tapi bagi saya yang sudah cukup lama tak bersepeda jarak jauh, jarak ini menjadi cukup ideal dan masuk akal untuk memulai kembali aktivitas b2w. Persiapan pun sudah saya lakukan sejak semalam. Pengecekan sepeda, packing baju ganti dan peralatan mandi, hingga pemilihan kostum yang tepat harus dilakukan dengan cermat. Karena hari ini akan menjadi hari yang bersejarah.

Pagi ini cuaca pun cukup cerah. Meski dini hari tadi gerimis sempat turun membasahi bumi, selepas subuh langit kembali cerah. Hasil pengecekan website prakiraan cuaca pun menunjukkan hasil yang sama. Akhirnya keputusan saya pun bulat. Mari kita berangkat…

Sepeda yang saya gunakan dalam peristiwa bersejarah kali ini adalah sepeda yang tak kalah bersejarah. Alasan pertama adalah karena sepeda itu adalah sepeda yang dulu pernah digunakan oleh istri saya saat masih bersekolah di MTS. Alasan ini mungkin bersifat pribadi. Alasan kedua, dan ini menurut saya adalah alasan tingkat bangsa dan negara, adalah karena sepeda itu adalah Federal. Anda yang setuju dengan alasan kedua berarti mungkin usia anda minimal sudah di akhir kepala tiga.

20170304_090534-01

Menjelang jam 6 saya baru meluncur dari rumah. Agak kesiangan memang. Efek ditinggal mudik istri ternyata cukup signifikan. Rute yang saya lalui adalah Tanah Baru – Kahfi II – Pasar Minggu – Volvo – Rawajati Timur – Kalibata – Dewi Sartika – Otista. Jarak 23 km saya tempuh selama 1 jam 32 menit dengan kecepatan rata-rata “hanya” 15 kpj. Target saya sebenarnya adalah (atau setidaknya mendekati) 20 kpj. Tapi ternyata ada 3 titik kemacetan di jalur yang saya lalui, yaitu sebelum stasiun Tanjung Barat hingga menjelang kolong TB Simatupang, Pasar Minggu menjelang Volvo hingga perlintasan rel kereta api, dan pertemuan Dewi Sartika – Otista. Jam 7.30 sampailah saya di tujuan dengan selamat dan riang gembira.

Tantangan lebih berat mungkin adalah perjalanan pulang nanti. Meski rute dan jarak tempuh sama, tapi kemacetan mungkin akan lebih parah dan merata. Kondisi fisik pun tak seprima tadi pagi. Semoga Allah tetap memberikan kekuatan dan pertolonganNya. Semoga akan ada cerita perjalanan berikutnya.

Advertisements
 
3 Comments

Posted by on April 6, 2017 in Uncategorized

 

3 responses to “Memulai B2W lagi

  1. dhanichagi

    April 6, 2017 at 10:54 am

    Stasiun Tanjung Barat – Volvo bisa lawan arah om :p

     
  2. iman

    April 13, 2017 at 6:39 am

    Salam kenal dr Tanah Baru, Depok…saya juga baru mulai B2w lagi setelah bbrp tahun beku. Sayang jalurnya ga ketemu ya…saya Tanah Baru-Menteng.

     
  3. kompor mledug

    April 19, 2017 at 12:29 am

    FEDERAL banget ya mas andekk…
    aku tau looh, tapi aku MASIH MUDAAA wakakakakakaka

     

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: