RSS

Category Archives: Uncategorized

Memulai B2W lagi

Dalam ingatan saya, terakhir kali saya bersepeda ke tempat kerja (bike to work – b2w) adalah di tahun 2012. Saat itu saya masih tinggal di wilayah Cipulir, Jakarta Selatan. Jarak rumah – kantor hanya sekitar 15 km. Setidaknya hampir seminggu sekali saya b2w.

Tahun 2012 akhir saya pindah ke Depok. Jarak rumah – kantor menjadi dua kali lipat, 30 km lebih. Tahun 2013 saya berkesempatan melanjutkan studi di sebuah universitas yang letaknya tak jauh dari rumah. Aktivitas b2w pun terpaksa saya hentikan dulu sampai batas waktu yang tak tentu.  Sepeda pun lebih banyak terparkir di garasi. Hanya sesekali gowes santai di akhir pekan bersama istri. Tahun 2015 akhir saya kembali ke kantor. “Nyaman” nya KRL Commuterline membuat saya semakin berat untuk kembali mengayuh sepeda.

Hingga akhirnya hari ini, sebuah lompatan besar dalam hidup saya lalui (halah… lebay… ). Setelah hampir 5 tahun, saya berkesempatan merasakan kembali sensasi bersepeda di pagi hari. Menuju tempat kerja di tengah semrawutnya lalu lintas jalanan ibu kota. Bergumul dengan asap buangan pembakaran mesin yang menyesakkan paru-paru. Ketiadaan jalur khusus sepeda memaksa sepedaku harus bersanding dengan motor dan mobil yang semua tampak terburu-buru seolah ingin jadi nomor satu.

Tapi, sensasi itu masih sama, tiada dua dan tak pernah terganti. Di sini saya tidak lebay. Ini asli tulus dari hati. Sensasi inilah yang saya yakin menjadi motivator utama bagi para pegiat sepeda, khusunya genre b2w, untuk terus mengayuh sepeda mereka. Sensasi sejuknya terpaan angin saat sepeda melaju. Sensasi nafas yang terengah dan detak jantung yang memburu saat tanjakan tak terelakkan. Sensasi kekeluargaan saat bertemu sesama pesepeda, yang tiba-tiba langsung akrab meski belum pernah bersua sebelumnya. Sensasi saat tiba di tempat kerja lalu orang-orang menatap dengan pandangan bertanya-tanya, heran, kagum, atau tak peduli sekalipun. Dan masih banyak sensasi lainnya yang hanya bisa dirasakan tanpa bisa diceritakan.

Kebetulan hari ini saya sedang mendapatkan tugas ke kantor lain di bilangan Otista Raya, Jakarta Timur. Setelah saya cek di peta ternyata jaraknya 23 km dari rumah. Jarak yang tak terlalu jauh sebenarnya. Tapi bagi saya yang sudah cukup lama tak bersepeda jarak jauh, jarak ini menjadi cukup ideal dan masuk akal untuk memulai kembali aktivitas b2w. Persiapan pun sudah saya lakukan sejak semalam. Pengecekan sepeda, packing baju ganti dan peralatan mandi, hingga pemilihan kostum yang tepat harus dilakukan dengan cermat. Karena hari ini akan menjadi hari yang bersejarah.

Pagi ini cuaca pun cukup cerah. Meski dini hari tadi gerimis sempat turun membasahi bumi, selepas subuh langit kembali cerah. Hasil pengecekan website prakiraan cuaca pun menunjukkan hasil yang sama. Akhirnya keputusan saya pun bulat. Mari kita berangkat…

Sepeda yang saya gunakan dalam peristiwa bersejarah kali ini adalah sepeda yang tak kalah bersejarah. Alasan pertama adalah karena sepeda itu adalah sepeda yang dulu pernah digunakan oleh istri saya saat masih bersekolah di MTS. Alasan ini mungkin bersifat pribadi. Alasan kedua, dan ini menurut saya adalah alasan tingkat bangsa dan negara, adalah karena sepeda itu adalah Federal. Anda yang setuju dengan alasan kedua berarti mungkin usia anda minimal sudah di akhir kepala tiga.

20170304_090534-01

Menjelang jam 6 saya baru meluncur dari rumah. Agak kesiangan memang. Efek ditinggal mudik istri ternyata cukup signifikan. Rute yang saya lalui adalah Tanah Baru – Kahfi II – Pasar Minggu – Volvo – Rawajati Timur – Kalibata – Dewi Sartika – Otista. Jarak 23 km saya tempuh selama 1 jam 32 menit dengan kecepatan rata-rata “hanya” 15 kpj. Target saya sebenarnya adalah (atau setidaknya mendekati) 20 kpj. Tapi ternyata ada 3 titik kemacetan di jalur yang saya lalui, yaitu sebelum stasiun Tanjung Barat hingga menjelang kolong TB Simatupang, Pasar Minggu menjelang Volvo hingga perlintasan rel kereta api, dan pertemuan Dewi Sartika – Otista. Jam 7.30 sampailah saya di tujuan dengan selamat dan riang gembira.

Tantangan lebih berat mungkin adalah perjalanan pulang nanti. Meski rute dan jarak tempuh sama, tapi kemacetan mungkin akan lebih parah dan merata. Kondisi fisik pun tak seprima tadi pagi. Semoga Allah tetap memberikan kekuatan dan pertolonganNya. Semoga akan ada cerita perjalanan berikutnya.

Advertisements
 
3 Comments

Posted by on April 6, 2017 in Uncategorized

 

Back to School

Study in a university is a dream comes true for me. Indeed, I have graduated my diploma and undergraduate as well at STAN.  As the name implies, STAN is not a university at all. The study system and the overall process are totally different to that of a university in general. It’s not until now when I’m awarded a scholarship from SPIRIT programme and then I’m accepted at Universitas Indonesia in postgraduate Double Degree Program majoring in economics science.

As a postgraduate student, one should be familiar with campus’ life and all of its activities. However, for me it’s not to be the case. For instance I haven’t even know what IRS is, not to mention how to fill it in. Since in my previous school (STAN is closer to be classified as a school than a university) all I need to do was just came and sat in the class, did all the assignment, passed the exam, then I’d graduated. There was no IRS since what courses I had to take in each semester were all packed. Now in UI, the story is rather different. All students should register their accounts in an online system so called SIAKNG (Student Administration System – Next Generation) and fill in IRS before classes begin.

All application and submission process is done now. I’m so excited and enthusiastic that I’m ready to study economics. Hopefully this will be a pathway to drive me to success.

Depok, more than a semester ago.

 
Leave a comment

Posted by on February 24, 2014 in Uncategorized

 

Tags: ,

3.726 m dpl, pergantian tahun di puncak sang dewi (part #3 habis)

Mari kita lanjutkan cerita yang cukup lama tertunda…

Segara Anak from top

30 Desember 2008

Setelah kembali ke Pelawangan, kami langsung sarapan dengan menu hasil racikan 2 orang porter kami. Entah cerita orang yang bohong atau kami yang kurang beruntung memilih porter, masakan mereka tak seperti yang kami harapkan. Tapi beruntung rasa lapar menghipnotis kami sehingga saat itu masakan itulah makanan terlezat yang pernah kami santap. Setelah sarapan rencananya kami langsung packing lalu menuju ke Segara Anak. Tapi apalah daya, perut kenyang  dan rasa letih berdampak buruk pada mata. Kantuk hebat tiba-tiba menyerang. Tanpa komando siapapun kami semua terlelap. Entahlah dengan 2 porter, mungkin mereka terlelap juga.

Perut kenyang, kantuk datang

Tak lama kami sudah terbangun lagi. Kabut mulai menyelimuti. Kami pun segera bergegas packing. Para pendaki  lain yang juga menginap di Pelawangan ternyata sudah lebih dulu turun. Kami rombongan terakhir yang akan turun. Tapi ternyata kami tak sendirian. Saat kami mulai packing dan membersihkan sampah, segerombolan monyet gunung merangsek ke arah kami. Mata mereka menatap nanar penuh selidik mencari-cari barang apa yang bisa mereka gondol. Kami pun memasang sikap waspada.

Jangan kabur lu...

Saat kami lengah, sebotol minyak goring yang membeku berhasil mereka bawa kabur. Selain terganggu, kami pun sebenarnya cukup terhibur oleh mereka. Bahkan Hilman dan Ko Tepi sedikit bermain dengan mereka. Sambil takut-takut mereka mengulurkan cuilan kue dan biscuit kepada para monyet. Beberapa monyet besar pun menghampiri dan segera merenggut kue-kue yang disodorkan.

Harus rukun dengan saudara

Sang pawang beraksi

Puas bermain-main dengan penghuni lokal, sekitar pukul 11.00 WITA kamipun segera meluncur turun menuju Segara Anak. Saatnya berpesta menyambut tahun baru. Belum lama berjalan gerimis mulai turun. Trek berbatu yang licin karena hujan membuat langkah kami agak melambat. Hampir sepanjang perjalanan gerimis menemani kami. Beberapa saat reda tapi tak lama kemudian turun lagi rintik hujan. Begitu terus sepanjang perjalanan. Akhirnya sekira pukul 3 sore kami sampai juga di Segara Anak. Di situ sudah ada 3 tenda yang berdiri. Mereka memilih lokasi di tepi danau yang terbuka. Pilihan yang tepat jika anda mencari sensasi dan aroma air danau yang berkecipak. Tapi kami lebih memilih kenyamanan, mengingat cuaca saat itu cenderung hujan. Maka kami pun memilih lokasi tenda agak menjauh dari tepi danau, di tempat yang terlindung oleh rindang pohon. Kami juga memanfaatkan sebuah pos sebagai tempat memasak dan berkumpul. Kami benar-benar siap untuk berpesta.

Setelah tenda berdiri dan semua barang rapi di tempatnya, kami segera bersiap melakukan salah satu ritual wajib di Segara Anak: Mancing… satu alat pancing baru yang ketinggalan entah dimana tak menghalangi acara mancing kami. Beruntung persediaan senar dan mata kail cukup banyak. Mancing mania pun dimulai. Hingga gelap mulai menyelimuti, kami baru beranjak dari ritual mancing ini. Beberapa ekor ikan berhasil kami kumpulkan walaupun tak ada yang berukuran jumbo. Kecuali saya, sepertinya semua orang berhasil menaikkan minimal satu ekor ikan. Sedangkan saya, tak satu ekor ikan pun yang bisa saya dapat. Ah mungkin saya hanya kurang beruntung. Besok masih ada waktu.

Mancing mania

Malam hari tiba, saatnya pesta bakar ikan. Ekor demi ekor ikan mulai kami masak lalu langsung disantap. Para penghuni lokal pun sepertinya ingin ikut berpesta menyantap ikan. Kali ini bukan lagi monyet yang berkuasa, tapi anjing hutan. Sepertinya lebih menyeramkan. Tapi ternyata anjing lebih pemalu daripada monyet. Mereka cenderung menghindar saat berhadapan dengan manusia.

Puas pesta ikan, kamipun bergegas menuju peraduan. Tidur nyenyak malam itu. Besok pagi bangun bebas, tak ada acara kemana-mana. Seharian besok kami masih akan bertamasya di Segara Anak. Menghabiskan tahun 2008.

31 Desember 2011

Hari ini acara bebas. Tak ada rencana kemana-mana. Saatnya menjelajah.

Pagi ini dua porter kami pulang. Sesuai perjanjian kami hanya menggunakan jasa mereka sampai disini. Untuk turun besok kami tak perlu lagi porter karena barang bawaan kami jauh berkurang.

Tempat pertama yang kami sambangi adalah sumber air tawar. Untuk mencapainya cukup berjalan sekitar 20 menit pulang-pergi. Sumber air itu berupa sebuah mata air kecil dari celah bebatuan. Tak jauh dari sumber air itu terdapat pemandian air panas. Inilah salah satu tempat yang wajib dikunjungi di Segara Anak ini. Mata air di pemandian ini dialirkan melalui pipa-pipa besi. Kolamnya dibuat beberapa kotak dengan tingkat suhu yang berbeda. Dari yang paling panas hingga yang cukup hangat. Kami pun tak melewatkan acara berendam.

Kolam level 2

Puas berendam kami kembali ke tenda untuk makan dan bermalas-malasan. Sebagian kami melanjutkan ritual mancing. Sedangkan saya sendiri tak lagi ikut mancing, saya pikir ini bukan peruntungan saya.

Sore harinya saya dan Ari “Tompel” bersama teman pendaki dari Jogja (lupa namanya) mengunjungi air terjun. Mereka yang sudah tempatnya jadi kami ikut saja. Membutuhkan waktu sekitar 25 menit untuk mencapainya dari Segara Anak. Sepertinya jalan menuju ke air terjun ini jarang dilewati. Semak belukar menutupi beberapa bagian jalan. Bahkan kami harus meniti batang pohon untuk menyeberangi sebuah sungai kecil. Air terjun ini tak terlalu tinggi, mungkin hanya sekitar belasan meter. Yang menarik air terjun ini bukan air tawar tapi air belerang. Bekas belerang yang menempel di dinding batu membentuk gurat-gurat warna hijau bergradasi. Di samping air terjun terdapat ceruk-ceruk semacam gua kecil. Di beberapa bagian dihuni oleh monyet yang menatap curiga pada kami.

Air terjun

Puas borfoto dan menikmati suasana, kami kembali ke tenda. Tim pemancing berhasil mengumpulkan lebih banyak ikan. Mungkin itu untuk menyemarakkan pesta tahun baru nanti malam. Saya sih jadi penikmat saja. Setelah kemarin gagal mendapatkan ikan, hari ini saya lebih memilih tak memancing lagi. Mungkin ini bukan bidang saya. Lagian kalau semua orang mancing, terlalu banyak ikan yang ditangkap, siapa yang akan memakannya?

Malam hari tiba, saatnya pesta ikan lagi. Sayangnya kemampuan memancing ikan kami ternyata tidak diimbangi dengan kemampuan untuk menyantapnya. Atau mungkin jumlah ikan yang terlalu banyak. Ikan masih banyak tapi kami tak lagi sanggup melahapnya. Kami coba tawarkan ke tenda tetangga, tapi mereka juga punya menu yang sama. Semakin malam, cuaca kurang bersahabat. Angin kencang dan hujan terus mengguyur. Beberapa rombongan pendaki lagi yang datang. Satu rombongan sempat kehilangan beberapa anggotanya yang katanya posisi terakhir di depan tapi hingga sweeper datang mereka tak juga muncul. Kami pun bersiap melakukan pencarian. Tapi syukurlah tak lama kemudian mereka muncul dengan selamat. Segara Anak semakin ramai malam itu.

Tak sampai terlalu larut kami sudah membaringkan diri. Besok kami harus bangun pagi untuk packing dan melakukan perjalanan turun. Direncanakan paling lambat pukul 8.00 kami sudah meluncur.

1 Januari 2009

Hari pertama di 2009 kami bangun pagi-pagi. Tapi rasa malas menghinggapi. Setelah sarapan dan packing, baru sekitar pukul 8.30 kami siap meluncur. Beberapa rombongan sudah turun duluan, sementara masih ada juga yang tinggal. Cuaca cerah sekali hari ini. Rasanya masih ingin tinggal lebih lama di sini. Tapi waktu tak memungkinkan.

Awal perjalanan, tujuan kami adalah puncak di latar belakang

Rute turun kami adalah melalui Senaru. Bukan kembali ke Sembalun. Karena letak Segara Anak yang dikelilingi gunung, maka perjalanan turun kami tidak benar-benar turun. Perjalanan justru kami mulai dengan mendaki. Sebuah jalan bercabang sempat membingungkan dan membuat kami salah jalan. Setelah menerobos semak, dipimpin Hilman dan Ko Tepi, kami akhirnya kembali ke jalan yang benar. Cuaca cerah berarti juga panas. Ditambah trek yang masih terus mendaki, membuat kami cukup kelelahan. Sekitar pukul 12.00 kami sampai di Pelawangan Senaru. Mulai dari sini perjalanan turun yang sebenarnya baru dimulai.

Katanya mau turun tapi jalan malah nanjak terus

Hilman yang begitu jumawa saat mendaki kemarin, tak lagi tampak di depan. Kali ini dia berganti peran jadi sweeper, karena ada sedikit masalah pada kakinya. Walaupun jalan turun, dia tetap berjalan pelan. Sementara yang lain berlari.

Bahkan ada trek vertikal

Setelah melewati beberapa pos dan sempat bertemu dengan pendaki asing, sekitar pukul 16.30 kami sampai di pintu gerbang Senaru. Di situ kami melihat sebuah warung. Tanpa komando, kami semua langsung merapat. Teh manis hangat dan beberapa butir pisang menjadi suntikan energi untuk kami. Lalu kami lanjutkan perjalanan menuju Pos Senaru. Setengah jam kemudian kami sudah tiba di Pos. Hujan kembali turun saat kami tiba di Pos. Setelah sholat Ashar kami sempatkan belanja beberapa merchandise di Pos. Sementara Ko Tepi –dengan kemampuan negosiasinya- mencari mobil carteran untuk membawa kami menuju Mataram, ke tempat Mas Tamim.

Pintu gerbang Senaru

Menjelang maghrib mobil carteran didapat dan kamipun langsung meluncur.

Malam tahun baru yang tak kan pernah terlupakan…

Terima kasih untuk Ari Tompel-695, Hilman-722, Iyok-736, Uhe-768, dan Ko Tepi-829 atas perjalanan hebat ini…

 
2 Comments

Posted by on December 22, 2011 in Uncategorized

 

Cita-citaku: Jadi orang sukses

Saat kecil dulu, pernahkah anda ditanya tentang cita-cita anda kalau sudah dewasa kelak? Bisa dipastikan hampir semua orang pernah ditanyakan pertanyaan semacam ini. Guru, orang tua, dan keluarga lainnya suka sekali menanyakan pertanyaan ini. Formulir isian biodata atau identitas untuk anak-anak sering kali juga meminta anda memberitahukan cita-cita anda. Dan mungkin bagi anak-anak, pertanyaan tentang cita-cita adalah salah satu yang paling menyenangkan. Tetapi tidak bagi saya, karena saya selalu bingung menjawab apa.

Lalu apa jawaban anda?

Menjadi dokter, arsitek, pilot, tentara, polisi, pengusaha, atlet,artis atau bahkan presiden adalah jawaban yang akan menduduki peringkat tertinggi seandainya ada yang mau melakukan survey atas jawaban cita-cita masa kecil kita. Mungkin ada diantara anda yang mempunyai cita-cita lain, tetapi mungkin juga tidak banyak anak lain yang mempunyai cita-cita seperti anda. Kenapa profesi-profesi itu begitu disukai oleh anak-anak? Bisa jadi karena di mata anak-anak, orang-orang dengan profesi tersebut tampak begitu gagah, keren, berwibawa, dihormati dan disegani. Atau mungkin karena profesi-profesi itulah yang familiar bagi anak-anak.

Saya coba mengingat-ingat lagi apa jawaban saya dulu jika ditanya tentang cita-cita. Sepertinya jawaban saya tidak ada dalam daftar yang saya sebut di atas. Karena ternyata jawaban saya bukanlah sebuah profesi. Jawaban saya ternyata hanyalah ingin menjadi orang sukses. Ah, jawaban yang begitu sederhana. Jawaban yang menunjukkan bahwa pemiliknya tidak berani bermimpi tentang masa depannya, tidak mempunyai gambaran yang jelas tentang ingin menjadi apa dia nanti. Jawaban yang menunjukkan bahwa pemiliknya adalah orang yang tidak berani mengambil risiko, orang yang “nrimo” menjadi apapun. Mungkin begitu kata ahli ilmu kejiwaan.

Pendapat itu ada benarnya juga. Cita-cita itu muncul karena dulu saya bingung mau memilih cita-cita yang mana. Padahal kita semua bebas memilih untuk menjadi apa. Tinggal memilih salah satu saja masih bingung juga.

Tetapi sekarang ternyata saya masih konsisten dengan cita-cita itu. Saya masih tetap ingin menjadi orang sukses. Bukan tanpa alasan itu terjadi. Bukan karena saya masih bingung ingin menjadi apa. Bukan pula karena saya pasrah dengan jalan hidup yang telah digariskan. Tetapi bagi saya sukses adalah sebuah cita-cita yang sangat tinggi dan mulia. Bahkan lebih tinggi daripada cita-cita menjadi presiden. Kenapa bisa begitu?

Ketika dulu saya bercita-cita menjadi orang sukses, yang ada dalam benak saya saat itu tentang sukses adalah jadi apa saja yang penting hidup enak. Hanya itu saja. Saat itu tak ada definisi yang jelas tentang apa itu sukses. Seiring berjalannya waktu dan bertambahnya umur, tak sulit mencari definisi sukses dari berbagai versi. Tapi saya mencoba membuat definisi sendiri. Definisi yang juga menjadi indikator pencapaian cita-cita saya.

Dari hasil penerawangan, pemikiran, dan pergumulan batin yang saya jalani, saya mendefinisikan orang yang sukses itu adalah orang yang bisa bersyukur dan bermanfaat. Hanya sesederhana itu saja.

Bisa bersyukur artinya bisa menerima dengan ikhlas, lapang dada, tanpa ada penyesalan dan kekecewaan atas segala apapun yang telah diamanahkan Allah padanya, segala yang telah diraihnya, serta segala yang ada pada dirinya. Tak hanya bisa menerima, bersyukur juga berarti bisa memanfaatkan dan menggunakan segala sesuatu itu sesuai dengan peruntukannya, tetap memenuhi hak dan kewajibannya, sesuai dengan aturan main yang telah ditetapkan Nya. Jadi, untuk sukses anda tak harus banyak harta. Hidup pas-pasan pun bisa sukses. Untuk sukses anda tak harus punya jabatan tinggi. Pegawai rendah pun bisa sukses. Untuk sukses anda tak harus punya otak jenius, kecerdasan, dan rentetan gelar di belakang nama anda. Orang putus sekolah pun bisa sukses. Karena kesuksesan tidak diukur dari apa yang anda miliki atau anda capai, tetapi bagaimana anda menyikapi dan memanfaatkannya.

Bermanfaat adalah ketika apa yang ada pada anda tak hanya memberikan kesenangan dan kebahagiaan pada diri anda sendiri, tetapi juga memberikan kesenangan dan kebahagiaan pada orang lain, lingkungan, dan bahkan alam sekitar. Bermanfaat adalah ketika kehadiran anda begitu dinantikan dan disambut dengan senyuman. Bermanfaat adalah ketika kepergian anda ditangisi. Bermanfaat adalah ketika keberadaan anda bisa memperbaiki keadaan, bukan malah sebaliknya. Bermanfaat adalah ketika kisah hidup anda menjadi inspirasi. Bermanfaat adalah ketika orang-orang hanya sibuk membicarakan kebaikan anda, dan bingung ketika mencari kejelekan anda.

Dengan 2 kriteria itu, sukses bisa diraih siapapun. Sukses bukan milik golongan tertentu saja. Untuk sukses anda hanya perlu untuk bisa bersyukur dan menjadi manusia yang bermanfaat dimanapun. Sukses di dunia, dan sukses di akhirat tentunya.

Ah…ternyata jalan saya masih sangat panjang untuk menuju kesuksesan.

 
1 Comment

Posted by on August 3, 2011 in Uncategorized