RSS

Category Archives: Sepeda

Gowes Pelan Bintaro – Cisarua

Si Domi Fully Loaded

Sejak terakhir kali (dan pertama kalinya) touring sepeda Bintaro – Bandung via Cariu bulan Juli 2009 lalu, belum pernah lagi saya touring.  Padahal keinginan untuk touring itu terus membayangi pikiran saya.  Bahkan keinginan itu telah menjelma menjadi kerinduan yang sulit ditahan.  Maka saat ada kesempatan, tak akan saya sia-siakan.

Dan kesempatan itu akhirnya datang juga.  Sarasehan Stapala tahun ini digelar di kawasan Puncak, Bogor.  Lokasi tepatnya ternyata di daerah Villa Aquarius Orange, Cisarua, dekat Curug Cilember.  Aha…! Inilah kesempatan saya.  Tapi saya belum yakin.  Apa sebab?

Sudah 2 bulan lebih kegiatan gowes saya berhenti total.  Si Domi pun teronggok berdebu di parkiran basement kantor.  Ditambah lagi seminggu yang lalu sempat terserang flu ringan.  Dengan kondisi seperti itu, sanggupkah saya melahap tanjakan Puncak?

Setelah menengok google map, ternyata lokasi villa itu tak jauh dari pintu tol Ciawi.  Jalan raya nya pun tampak masih relatif lurus.  Kalau begitu adanya, berarti tanjakannya juga belum terlalu ekstrim.  Jaraknya pun dari pintu tol Ciawi tak sampai 10 km.  Sedangkan total jaraknya dari Posko Stapala di Kampus STAN Bintaro pun hanya +/- 64 km via Parung.  Insya Allah masih terjangkau lah.  Ditambah lagi ternyata istri saya di detik-detik terakhir memutuskan untuk tidak jadi ikut acara itu.  Tak ada alasan lagi untuk membatalkan rencana touring kali ini.

Tapi rasanya tak nikmat kalau gowes sendirian.  Setidaknya untuk saat ini saya belum siap.  Tapi suatu saat nanti ingin juga gowes touring sendirian.  Maka saya lemparlah ide ini ke forum grup Stapala.  Hanya 2 orang yang konfirmasi akan bergabung,  Prabu (Kus-kus 761) dan  Adryan (Alot  872).  Tak apalah, karena saya memang tak berharap banyak.  1 atau 2 orang teman juga sudah cukup.  Yang penting saya tak sendirian.

Karena acara akan dilaksanakan mulai Sabtu siang hingga malam, maka kami sepakat untuk berangkat jam 6 pagi.  Dan sebagai titik start disepakati adalah Posko Stapala di kampus STAN Bintaro.  Itu berarti saya harus gowes dari kontrakan saya di Kebayoran Lama ke Posko yang jaraknya sekitar 7 km.  Tak apalah, itung-itung pemanasan.   Alot malah menginap di kos-kosan  Kus-kus, yang letaknya masih di area kampus, karena rumahnya di Tangerang.

Narsis dulu sebelum berangkat

Berangkat bertiga

Malam harinya saya sudah packing, agar besok pagi abis subuh bisa langsung siap-siap dan meluncur.  Tapi apa daya, Sabtu pagi sejak subuh hujan pun datang.  Rasanya tak nikmat kalau gowes hujan-hujanan, apalagi baru berangkat sudah langsung basah-basahan.  Akhirnya kami sepakat untuk menunda keberangkatan hingga hujan reda.

Secangkir kopi dan sepotong roti yang disuguhkan istri menjadi sarapan saya pagi itu.  Pukul 6.30 saya baru meluncur dari kontrakan menuju Posko.  Pukul 7.30 akhirnya kami bertiga mulai meluncur.  Cuaca pagi itu masih agak mendung dan berkabut.  Kalau sampai siang begini terus enak nih, asal gak hujan aja, pikir saya.  Perjalanan dimulai dengan sangat santai.  Gowes perlahan sambil menikmati udara pagi yang berkabut terasa begitu nikmatnya.  Yang paling nikmat sesungguhnya adalah sensasi bahwa kali ini saya benar-benar melakukan touring (walaupun jaraknya hanya 64 km).  Bukan hanya bike to work sambil membayangkan sedang touring, seperti yang selama ini saya lakukan.  Kegembiraan saya benar-benar membuncah.  Maka saat keluar dari Kampus kami bertemu dengan rombongan pesepeda, lalu salah satu pesepeda yang sudah sepuh menyapa saya “Kemana Om?”, saya jawab dengan lantang “Ke Puncak Om…!”. “Wah mantab…!” sahutnya.  “Emang mantab om…!”, Jawab saya, tapi hanya dalam hati.

Ngaso dulu sambil ngisi bahan bakar

Perjalanan cukup lancar walaupun jalanan sudah agak ramai.  Tapi anehnya kecepatan kami tetap segitu-gitu saja, bahkan cenderung melambat.  Padahal saya pikir sudah cukup pemanasannya.  Ternyata  Alot tampak sudah kelelahan.  Saya dan  Kus-kus otomatis menyesuaikan kecepatan.  Kami tak memakai speedometer, tapi perkiraan saya laju kami tak lebih dari 10 kpj.  Wah, padahal cuaca mendukung dan jalanan datar.  Harusnya kecepatan kami bisa 2 kali lebih cepat.  Karena kalau dengan kecepatan seperti ini terus, prediksi waktu tempuh sekitar 4-5 jam tak akan tercapai.

Beberapa kali saya menyemangati  Alot dan memintanya sedikit menambah kecepatan.  Tapi sepertinya dia benar-benar sudah kelelahan.  Diketahui kemudian ternyata  Alot belum pernah bersepeda jarak jauh.  Biasanya dia hanya bersepeda keliling kompleks nya.

Nyampe Lanud Atang Sendjaya

Inilah tantangannya.  Saya bilang ke  Kus-kus, sepertinya dalam perjalanan ini kesabaran kita yang diuji.  Bagi kami yang terpenting adalah kebersamaan.  Berangkat bersama sampai tujuan juga harus bersama.  Selain itu, sayalah yang mencetuskan ide touring ini.  Lalu saya mengajak siapapun anggota Stapala yang mau ikut.  Maka saya juga harus bertanggung jawab atas seluruh anggota tim kecil ini.  Saat ada anggota tim yang mulai melambat, opsi nya adalah menyemangati dan mendorongnya agar menambah kecepatan atau kami yang menyesuaikan dengan kecepatannya.  Kami buang jauh-jauh ego untuk terus melaju meninggalkannya di belakang.  Setidaknya itulah sedikit pelajaran yang kami peroleh di Stapala selama ini.

Beberapa kali kami istirahat untuk sekedar meneguk serta menghilangkan rasa panas di pantat dan selangkangan.  Tiap kali selesai istirahat,  Alot meminta untuk melanjutkan lebih dulu.  Dia bilang toh nanti tak terlalu jauh kami pasti akan menyusul.  Dengan begitu waktu istirahat kami jadi lebih lama.

Dengan kondisi sangat kelelahan seperti itu, saya pikir  Alot tak akan bertahan lebih lama.  Saya pikir dia akan memutuskan untuk kembali.  Tapi saya salah.  Semangatnya untuk melanjutkan perjalanan sungguh luar biasa.  Walaupun kayuhannya kadang tak stabil.  Hanya beberapa kayuhan lalu berhenti, mengayuh lagi lalu berhenti lagi, begitu terus sepanjang jalan.  Padahal dengan kayuhan seperti itu, labih menguras tenaga.  Kita tidak bisa memanfaatkan momentum perputaran roda dan laju sepeda.  Tapi rupanya dengan tetap melanjutkan kayuhan seperti itu sudah merupakan perjuangan yang sangat berat bagi  Alot.  Salut untuk semangatnya…

Tetap semangat…! sudah sampai Kota Bogor kita…

Pukul 11.30 akhirnya kami sampai di Kebun Raya Bogor.  Kami memutuskan untuk berhenti makan siang, karena bunyi keroncongan dari perut semakin keras dan tak dapat ditahan lagi.  Ayam goreng dan soto di daerah Kebun Raya jadi menu pilihan kami.  Selesai melahap makan siang, secara mengejutkan  Alot memutuskan untuk tak melanjutkan perjalanan sampai Puncak.  Dia memutuskan untuk mampir ke rumah saudaranya di Kota Bogor.  Saya dan  Kus-kus berusaha membujuknya agar tetap melanjutkan perjalanan.  Karena garis finish sudah tak terlalu jauh lagi.  tapi memang kondisinya akan berbeda.  Sebentar lagi kami harus menghadapi tanjakan, dan sayangnya mendung juga mulai menghilang, digantikan oleh teriknya matahari siang bolong yang menyengat.

Makan siang, titik finish untuk Alot

Akhirnya tinggal kami berdua yang melanjutkan perjalanan.  Selesai makan siang kami mencari masjid untuk sholat dzuhur dan memberi waktu pada pencernaan kami untuk bekerja.  Setelah sholat dzuhur di Masjid Nurul Maal, PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor, kami melanjutkan perjalanan sambil menyiapkan mental untuk mulai menghadapi tanjakan.

Tak lama kemudian kami mulai memasuki Jalan Raya Puncak.  Kondisi lalu lintas cukup lancar.  Pemberlakuan buka tutup jalur cukup menguntungkan kami.  Saat jalan hanya dibuka 1 jalur, volume kendaraan cenderung lebih sedikit.  Tapi sebenarnya itu tak banyak berpengaruh juga, karena saat itu kami mulai ngicik.  Bonus turunan tak saya sia-siakan.  Saat jalan menurun, sepeda saya geber segeber-gebernya.  Dengan harapan saat turunan berakhir dan berganti tanjakan, saya dapat memanfaatkan momentum untuk mengawali ngicik lagi.

Panas dan nanjak, duet maut yang benar-benar mantab

Selama di tanjakan ini, kami jadi lebih sering berhenti untuk istirahat.  Apalagi setelah  Kus-kus merasakan kaki kanannya hampir kram.  Banyak pesepeda yang kami temui, tapi semuanya berlawanan arah dengan kami.  Semuanya melaju turun.  Tampaknya mereka baru saja melahap jalur XC atau downhill.  Satu-satunya pesepeda yang searah dengan kami adalah seorang  yang sudah cukup berumur sedang nanjak sendirian.  Saat kami ngicik dia berhenti istirahat, sebaliknya saat kami istirahat dia tampak lewat sambil menyapa.

Tanjakan masih panjang

Waktu menunjukkan jam 3 lebih saat tampak di depan kami ada Hotel Grand Usu, yang artinya kami sudah sampai di gang masuk ke arah Villa Aquarius Orange.  Dan ternyata benar, ada petunjuk arah menuju Curug Cilember.  Masuk gang beberapa ratus meter, akhirnya kami sampai juga di lokasi.  Jam menunjukkan pukul 15.30 WIB.  Total perjalanan kami selama 8 jam menempuh +/- 64 km.  Perjalanan yang cukup lama, tapi kami menikmatinya.

Menjelang finish, jalan semakin miring, TTB pun tak terelakkan

Alhamdulillah nyampe juga, setelah 8 jam

Keesokan harinya, kami pulang menumpang bus yang membawa rombongan ke posko.  Setelah malamnya kami begadang, gowes lagi ke Bintaro sepertinya tidak memungkinkan dan memang tidak kami rencanakan.

Bersih-bersih dulu sebelum pulang

Terima kasih untuk  Kus-kus dan  Alot untuk perjalanan yang menyenangkan.

Terima kasih untuk rombongan bus Posko untuk tumpangannya.

Salut untuk  Alot atas semangat dan perjuangannya.

Lain waktu kita touring lagi, tapi harus sampai finish ya Om…

Advertisements
 
7 Comments

Posted by on June 19, 2012 in Perjalanan, Sepeda

 

Antara Top Speed dan Average Speed

Februari ini dunia hiburan khususnya musik kembali berduka dengan meninggalnya salah satu diva pop terbaik dunia, Whitney Houston.  Tak hanya berduka, dunia juga dibuat tersentak oleh berita meninggalnya sang pelantun tembang-tembang romantis ini.  Bukan karena kematiannya, karena kematian adalah sesuatu yang mutlak dan pasti, tetapi karena caranya.

Kematian Whitney memang terbilang cukup tragis.  Saya katakan tragis bukan sekedar karena adanya dugaan overdosis narkotika.  Terlepas apa penyebab kematiannya, di akhir hidupnya mendiang memang sempat mengakui mengalami kecanduan narkotika.  Yang lebih memilukan lagi, saat-saat akhir hidupnya diwarnai dengan kebangkrutan dan lilitan hutang.  Meninggal dalam kondisi seperti itu tentu bukanlah cara meninggal yang diharapkan oleh siapapun.  Apalagi seorang artis papan atas yang pernah mencapai puncak prestasi dan kenikmatan materi.

Di masa jayanya, siapa yang tak kenal penyanyi bersuara tinggi ini.  Siapa yang tak familiar dengan lagu-lagu macam “I Will Always Love You”, “Miracle”, “One Moment In Time”, dan sederet lagu-lagu hits lainnya.  Kalaupun ada orang yang tak pernah mendengar namanya, paling tidak pernah mendengar lagu-lagunya saat itu, entah dimana dan dinyanyikan oleh siapa.

Di mata saya, kisah kehidupan sang diva saya analogikan sebagai sebuah kurva normal.  Sebuah kurva yang garisnya dimulai dari titik terbawah, lalu mengalami tren positif, terus naik perlahan hingga mencapai titik tertinggi, lalu kembali turun lagi hingga menyentuh titik terendah.  Bahkan untuk kasus Whitney Houston, tren menurunnya begitu curam dan drastic hingga dia terhempas.

Memang itu sesuatu yang normal.  Kata orang begitulah hidup, seperti roda, terus berputar, kadang di atas kadang di bawah.  Bukan seperti kurva.  Itu hanya istilah saya untuk menggambarkan kehidupan yang jatuh, bukan berputar.  Jatuh dan tidak pernah naik lagi.  Mungkin terlalu berat untuk kembali naik lagi.  Karena titik tertingginya terlalu tinggi, terlalu jauh di atas.  Hingga tak pernah sanggup untuk digapai lagi.

Jika boleh saya analogikan lagi kurva kehidupan itu dengan sepeda (tentu boleh saja, ini kan tulisan saya, terserah saya dong…).  Kembali lagi soal analogi sepeda.  Kurva normal itu layaknya seseorang yang sedang menggowes sepedanya.  Mulai dari titik nol, mengayuh perlahan hingga mencapai kecepatan tertentu, hingga di saat jalanan menurun, atau saat begitu bersemangat mengayuh, kecepatan meningkat terus semakin cepat hingga mencapai top speed.  Lalu pada saatnya dia pasti akan melambat dan kembali berhenti.  Entah karena telah tiba di tujuannya, karena macet, karena lelah, karena terjatuh, atau entah karena sebab apa.

Dalam bersepeda, apapun jenis dan tujuannya, sesungguhnya bukanlah top speed semata yang paling utama.  Bukan sekedar soal berapa kecepatan tertinggi yang pernah anda capai.  Bukan sekedar soal seberapa cepat anda mampu mengayuh sepeda anda.  Yang tak kalah penting dari itu, bahkan mungkin jauh lebih penting, adalah soal average speed.  Berapa kecepatan rata-rata yang mampu anda tempuh selama bersepeda.  Seberapa konsisten anda memutar pedal untuk menggerakkan roda sepeda anda.  Karena itulah yang akan menentukan bagaimana perjalanan anda.  Itulah yang menentukan berapa waktu yang anda butuhkan untuk mencapai suatu tujuan.  Itulah yang harus anda perhitungkan dalam merencanakan sebuah perjalanan.

Saat bersepeda jarak jauh, atau yang secara awam biasa disebut touring, kecepatan rata-rata adalah sesuatu yang sangat penting.  Saat harus menempuh jarak puluhan bahkan ratusan kilometer, kecepatan rata-rata adalah sesuatu yang wajib anda perhitungkan.  Berapa lama waktu yang anda butuhkan untuk mencapai kota berikutnya.  Dimana anda akan singgah sebelum malam hari tiba.  Bagaimana anda harus tiba di suatu tempat pada saat yang tepat.  Semua itu akan lebih mudah diperhitungkan jika anda memperhatikan kecepatan rata-rata anda.  Memacu sepeda sekuat tenaga saat jalanan turun atau mendatar hingga mencapai kecepatan yang fantastis menurut anda, tapi kemudian tak sanggup melahap tanjakan yang menghadang di depan, atau kehabisan tenaga hingga harus beristirahat lama, tentu bukanlah sesuatu yang bijaksana.

Jadi, saat hidup terasa begitu mudah, segala urusan berjalan lancar, semua masalah teratasi, tak ada hambatan berarti, mungkin saat itu kita sedang melewati jalanan yang lebar, mulus, datar, bahkan cenderung menurun.  Kayuhan pun terasa ringan.  Tak jarang kita tergoda untuk memacu sepeda secepat-cepatnya, hingga mencapai kecepatan tertinggi.  Tapi ingatlah tak selamanya jalanan seperti itu.  Akan tiba saatnya kita dihadapkan pada jalan yang rusak, sempit, menanjak, dan banyak aral melintang.  Saat itu terjadi, jangan sampai kita kehabisan semangat, energi, bahkan konsentrasi.  Pedal harus tetap dikayuh.  Roda tetap harus berputar.  Kecepatan rata-rata tetap harus dijaga.  Hingga saatnya kita harus berhenti, berhentilah dengan perlahan, tenang, dan puas karena semua tujuan telah tercapai.

 
Leave a comment

Posted by on February 15, 2012 in Lain-lain, Sepeda

 

Akhirnya Jatuh Juga

Ketiadaan jalur khusus sepeda di Jakarta, membuat pesepeda harus berbaur tumplek blek jadi satu dengan sepeda motor, mobil, bus, dan segala macam kendaraan lain dalam satu jalur yang sama. Ditambah lagi perilaku dan sikap mayoritas pengguna lalu lintas yang minim rasa peduli dan saling menghargai, membuat pesepeda harus rela “bersaing” secara terbuka dengan semua kendaraan itu. Tentu ini sebuah persaingan yang tidak imbang. Karena secara kodrat, sepeda memang diciptakan lebih lemah dibandingkan motor, mobil, apalagi bus. Ketika terjadi kontak fisik antar jenis kendaraan itu, besar kemungkinan sepeda dan pengendaranya lah yang akan menderita kerusakan dan kerugian paling besar.

Pagi ini, seperti biasa hari Jumat lainnya saatnya b2w ke kantor. Tapi hari ini saya berangkat sedikit lebih pagi karena kebetulan ada acara di kantor. Kondisi lalu lintas sudah cukup ramai. Beberapa menit mengayuh sepeda, sampailah saya di bekas SPBU Pakubuwono. Kondisi jalan cukup lancar dan agak menurun mempercepat laju sepeda saya. Maksud hati ingin menikmati suasana pagi maka saya menebar pandangan ke sekitar. Mata saya tak lagi fokus ke depan, kemana saya seharusnya fokus. Sedang asyik-asyiknya menikmati pemandangan sekitar, tepat di depan SMK 30 tiba-tiba saya dikagetkan oleh pengendara motor yang entah sejak kapan ada disitu. Motor itu melaju sangat pelan –antara berhenti dan jalan lambat- di sisi paling kiri. Beberapa saat kemudian saya tersadar, motor itu berada dalam satu garis lurus dengan posisi sepeda saya, yang saat itu sedang melaju cukup kencang. Bersamaan dengan itu saya juga berpikir “bisa nubruk nih kalo kayak gini”.

Sayangnya ketika itu jarak saya dengan si pengendara motor hanya tinggal beberapa cm saja. Jari-jari tangan saya terlambat menarik tuas rem. Handlebar pun tak sempat saya banting ke kanan. Saya hanya pasrah saja saat itu. Dan benar saja, kontak fisik tak seimbang itu tak terhindarkan.

GUBRAKKK….!!!

Tiba-tiba saya sudah berguling-guling di atas aspal. Sementara si pengendara motor dengan angkuhnya tetap dalam posisinya semula. Dia hanya kaget lalu memandang dengan penuh perasaan aneh pada saya. Saya pun langsung bangun. Sepeda saya tuntun ke pinggir. Ada bapak satpam yang menolong saya. Yang pertama saya lihat kondisi sepeda. Sepertinya semua masih berada di tempatnya, kecuali lampu depan yang copot. Alhamdulillah badan saya juga masih utuh, hanya sedikit nyeri di lutut kiri.

Mengobati rasa malu, saya berusaha mencari-cari kesalahan pengendara motor. Dan satu yang saya ingat, dia tidak menyalakan lampu sein. Aha… Itulah senjata saya untuk menyerangnya. “Berhenti gak nyalain lampu sein sih mas…!” Hardik saya (sebelum dia menghardik saya). Tak mau kalah, dia pun balas menghardik saya “Kan saya sudah berhenti dari tadi”. Beberapa saat kami berdua tetap bersikukuh dengan pendapat masing-masing. Ah sudahlah, tak ada gunanya berdebat, apalagi sampai rebut. Lagipula ini memang salah saya. Akhirnya saya memilih untuk memeriksa lagi kondisi sepeda saya. Ternyata ban depan kempes pes. Mungkin sobek, karena ketika saya coba pompa tak ada udara yang masuk sama sekali. Beruntung saya bawa ban cadangan. Langsung ganti ban dalam. Saat ban terpasang kembali baru sadar ternyata rim juga sedikit peyang.

Tak apalah, yang penting masih bisa melanjutkan perjalanan ke kantor. Dan sampai kantor Alhamdulillah belum terlambat.

 
1 Comment

Posted by on January 20, 2012 in Sepeda

 

Sepeda dilarang Masuk Jalur Cepat?

Suatu kesalahan yang dilakukan secara berulang dan dibiarkan hingga menjadi kebiasaan, akan menjadi seperti suatu kebenaran. Begitu pula tindakan pesepeda yang memasuki jalur cepat. Yang mana jalur cepat itu hanyalah diperuntukkan bagi mobil. Sedangkan sepeda harusnya ya menggunakan jalur khusus sepeda. Kalaupun toh belum tersedia jalur khusus sepeda, maka sepeda sepantasnyalah menggunakan jalur lambat. Bukankah sepeda itu kendaraan yang lambat lajunya.

Yang terjadi selama ini, setidaknya di jalur cepat Jl. Sudirman – Thamrin, banyak pesepeda yang masuk ke jalur cepat. Termasuk saya sendiri hampir selalu menggunakan jalur cepat saat ber-b2w maupun b2h. Hal ini sudah saya lakukan sejak saya pertama kali terjun ke dunia per-b2w-an lebih dari 2 tahun yang lalu. Saya lakukan itu karena seperti itulah yang saya dengar dari cerita teman-teman dan saya lihat sendiri di jalan. Kalau mau aman dan cepat saat bersepeda, masuklah ke jalur cepat.

Polisi sebagai aparat penegak hukum, selama inipun sepanjang pengetahuan dan pengalaman saya hanya “membiarkan” aksi yang dilakukan para pesepeda. Belum pernah saya alami dilarang masuk ataupun disuruh keluar dari jalur cepat oleh pak polisi. Padahal hampir setiap kali saya bersepeda selalu bertemu pak polisi yang sedang bertugas mengatur lalu lintas. Karena sudah berlangsung sekian lama, maka sayapun menganggap hal ini seolah sebagai suatu kebenaran.

Bukannya saya tidak tahu bahwa tindakan itu melanggar aturan. Bukan pula saya penganut paham anti kemapanan yang menikmati melanggar aturan. Apalagi berpendirian bahwa peraturan dibuat untuk dilanggar. Sama sekali bukan. Saya melakukan itu semata-mata karena alasan keamanan dan kenyamanan.

Keamanan karena di jalur cepat hanya dilalui oleh mobil pribadi, dan sedikit angkutan umum, yang lajunya cenderung stabil dalam suatu garis lurus. Sedangkan di jalur lambat, segala macam jenis kendaraan dengan aneka rupa gaya berkendara ada disana. Mulai dari besi tua bermesin yang bisa melaju secara zig-zag dan berhenti mendadak tanpa tanda, hingga motor-motor yang pengendaranya hanya tahu menarik gas dan menginjak rem, tanpa tahu apa fungsi lampu sein dan kaca spion. Kenyamanan karena semacet-macetnya jalur cepat biasanya masih cukup toleran dengan menyisakan sedikit celah untuk sepeda saya. Kenyamanan juga karena kondisi jalan di jalur cepat relatif lebih bagus daripada jalur lambat yang sering digali tanpa sebab yang jelas dan di saat yang tak tepat.

Maka ketika hari Jumat pagi, tanggal 30 Desember 2011, kemarin tepat di depan Pintu Satu GBK laju sepeda saya dihentikan oleh pak polisi dan diminta keluar dari jalur cepat, timbullah pertanyaan besar dalam hati saya. Saat itu yang terucap dari mulut saya hanya kata-kata “Kenapa Pak?”. Dan pak polisi pun menjawab: “Sepeda sekarang harus lewat jalur lambat Pak”. Saya pun berpindah ke jalur lambat. Menjelang terowongan Semanggi, terbersit niat jahat dalam hati. Saya berpindah ke kanan dengan maksud kembali masuk jalur cepat. Tapi aksi saya kembali dihadang oleh pak polisi yang lain. Kali ini rasa penasaran saya tak tertahan. Mengobrollah kami berdua. Dari obrolan itu saya dapatkan sedikit informasi bahwa polisi juga hanya menjalankan perintah dari atasan. Perintah ini tidak main-main, karena polisi yang bertugas akan kena sanksi jika masih ada pesepeda yang berkeliaran di jalur cepat. Untuk ke depannya aturan ini masih dalam penggodogan. Begitulah informasi yang saya dapat. Lalu saya pun melajutkan perjalanan menuju kantor. Malamnya saya pulang menumpang mobil teman, sedangkan sepeda saya tinggal di kantor. Jadi saya tidak tahu bagaimana perkembangan aturan baru ini.

Tadi malam saya pulang kantor dengan ber-b2h. Pukul 20.30 saya baru meluncur dari kantor. Begitu sampai di Jl. Sudirman, tanpa rasa bersalah sedikitpun saya masuk ke jalur cepat. Laju sepeda saya cukup lancar terkendali dan tak satupun polisi saya temui. Menjelang Jembatan Semanggi tepatnya di pos polisi depan kampus Atmajaya, 2 orang polisi tampak melambai-lambaikan lampu senter merahnya. Di depan saya seorang pesepeda pedagang kopi keliling berhenti lalu berdialog dengan seorang polisi. Seorang polisi lagi menghampiri saya dan menjelaskan bahwa per tanggal 1 Januari 2012 sepeda tidak boleh masuk jalur cepat kecuali saat Car Free Day. Dialog pun terjadi. Undang-undang nomor 22 tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan pun sempat saya singgung. Disitu disebutkan bahwa setiap jalan umum harus dilengkapi beberapa fasilitas yang salah satunya adalah fasilitas untuk pesepeda. Lalu bagaimana nasib pesepeda kalau dilarang masuk jalur cepat tapi tidak disediakan jalur khusus.

Tapi lagi-lagi pak polisi itupun tak bisa berbuat banyak. Beliau hanyalah pelaksana lapangan yang harus menjalankan tugas. Tapi saya meminta aspirasi ini bisa disampaikan kepada atasannya dan beliau telah menyanggupinya. Saya pun berpindah ke jalur cepat dan bergabung dengan “seru” nya suasana berkendara di sana. Bekas-bekas pekerjaan galian yang sepertinya hanya memperburuk kondisi jalan seolah melatih konsentrasi dan keahlian saya dalam menghindari halang rintang. Alhamdulillah saya bisa sampai rumah dengan selamat sentosa.

Semoga peraturan baru ini bukan sebuah langkah mundur dalam perkembangan dunia persepedaan di Indonesia khusunya Jakarta. Semoga peraturan baru ini tidak menjadi penghalang dan menyurutkan semangat saya dan rekan-rekan semua untuk terus melanjutkan gerakan bersepeda.

 

 
Leave a comment

Posted by on January 3, 2012 in Sepeda, Uneg-uneg

 

Hore… Kantorku Punya Parkir Sepeda

Akhir tahun adalah saat yang paling tepat untuk melakukan pengadaan, pembangunan, maupun renovasi berbagai macam barang dan bangunan. Setidaknya itulah kepercayaan yang dianut oleh hampir seluruh institusi pemerintah di negeri ini, termasuk institusi tempat saya mengabdi (sebut saja sebuah kementerian di kawasan Lapangan Banteng).  Entah apa dasar pemikirannya, tak tahu dari mana landasan teorinya, hingga muncul keyakinan seperti itu. Yang jelas itulah realita yang nyata-nyata terjadi di sini. Meja kursi baru berdatangan, gedung-gedung lama dipercantik, taman-taman didesain ulang, jalan raya digali, dan masih banyak lagi hal serupa.

Dari sekian banyak pengadaan, hanya satu hal kecil yang menarik bagi saya. Ya, apalagi kalau bukan parkiran sepeda. Ahay…. Kantor ini sekarang punya parkiran sepeda…!

Ada 3 buah benda semacam ini, di lokasi yang berbeda

Lalu ada hubungan apa antara keyakinan tentang akhir tahun dengan parkiran sepeda itu? Begini ceritanya:

Gerakan bersepeda ke tempat kerja (b2w) di lingkungan kantor saya sempat mengalami pasang surut. Sekira 3 tahun yang lalu gerakan ini sempat menempati rating yang tinggi. Ada beberapa pegawai yang cukup aktif bersepeda ke kantor. Walaupun tak terlalu banyak jumlahnya, tapi paling tidak saat kami berkumpul sudah tampak seperti sebuah komunitas atau rombongan sepeda. Saat itu kami sempat membuat kostum/jersey seragam. Dengan sering “ngumpul-ngumpul” apalagi dengan jersey seragam, semakin nyata lah eksistensi gerakan b2w ini. Target selanjutnya adalah memperjuangkan tempat parkir khusus sepeda. Menurut informasi yang saya dapat, saat itu beberapa teman sudah sempat mengajukan permohonan secara resmi untuk pembuatan tempat parkir khusus sepeda.

Seiring berjalannya waktu, gerakan b2w di kantor saya mengalami pasang surut. Tak tampak lagi para pegawai bersepeda berkumpul di hari Jumat pagi. Setali tiga uang nasib tempat parkirnya, permohonan yang sudah diajukan tak kunjung berbalas. Hanya sesekali tampak satu dua orang yang masih setia dengan sepedanya setiap kali pergi ke kantor.

Kemudian 1 tahun terakhir ini gerakan b2w mulai menggeliat lagi. Teman-teman yang sudah lama menggantung sepedanya di gudang, terpanggil lagi untuk kembali mengayuhnya ke kantor. Teman-teman –terutama pegawai baru- yang belum punya sepeda tergugah untuk menebus sepeda idaman. Bahkan ada seorang teman yang sebelumnya alih-alih bersepeda ke kantor, naik sepeda saja tidak bisa, ikut terprovokasi untuk membeli sepeda. Walaupun dalam pada akhirnya beberapa bulan kemudian teman saya itu menjual lagi sepedanya. Namun setidaknya kini dia sudah bisa dan berani naik sepeda di jalan raya.

Melihat peminat sepeda yang semakin meningkat, kami pikir inilah momen yang tepat untuk kembali melanjutkan program yang tertunda, pembuatan tempat parkir sepeda. Kalaupun sampai perlu acara demo segala, massa kami sudah cukup banyak. Haha… Maka setelah menggalang dukungan dan melakukan lobi kesana kemari, kami kembali mengajukan permohonan secara resmi kepada pihak yang berwenang.

Singkat kata, entah karena apa, tren bersepeda di kantor saya mulai meredup lagi. Tinggallah segelintir orang yang belum sembuh “gila” nya dan semakin parah kecanduannya pada sepeda. Mungkin termasuk saya. Tempat parkir yang kami tunggu-tunggu tak kunjung ada. Bahkan kabar berita dan perkembanga sudah sejauh mananyapun tak terdengar lagi. Saya sudah pasrah saja.

Tapi ternyata doa dan harapan kami tak sia-sia. Beberapa hari yang lalu saya melihat sebuah benda aneh berwarna kuning. Setelah saya amati terdapat simbol sepeda pada di bagian atasnya, saya menyimpulkan dengan penuh keyakinan bahwa ini adalah sebuah tempat parkir sepeda. Hurray…!!!

Demi tidak mengklaim bahwa tempat parkir ini adalah hasil usaha kami, maka saya anggap pembuatan tempat parkir ini adalah buah manis dari keyakinan tentang akhir tahun yang saya ceritakan di awal tadi. Dan dengan mengabaikan soal desain dimana jarak antar palang terlalu lebar sehingga kurang bisa menahan sepeda yang bersandar, keberadaan tempat parkir ini adalah sebuah langkah maju, kalau tak boleh disebut sebuah lompatan. Semoga dengan keberadaan tempat parkir ini, semangat kehidupan bersepeda di kantor saya kembali bergelora. Dan kalau boleh berkhayal, semoga suatu saat nanti tempat parkir motor dan mobil tergusur, berubah menjadi benda kuning aneh berlogo sepeda seperti ini.

 
Leave a comment

Posted by on December 29, 2011 in Sepeda

 

Kepercayaan Diri ku dari Sepeda

Si Domi

Apa yang membuat anda merasa hebat? Apakah penampilan yang good looking; mulai wajah rupawan masuk kategori camera face, kulit putih mulus, tubuh langsing atletis dengan perut rata bermotif six-pack dan otot bergelombang menonjol disana-sini, hingga rambut hitam lurus lebat bak bintang iklan semir rambut. Ataukah gaya berpakaian anda yang selalu fashionable dan up-to-date, bermodal pakaian bermerk dengan model yang sedang menjadi trend, urusan cocok atau tidak itu bukan soal, karena trend adalah segalanya. Ataukah dukungan gadget pintar serba canggih seri terbaru dengan fitur lengkap yang bahkan jarang anda gunakan. Atau justru tunggangan anda lah yang menurut anda menentukan jati diri dan kepribadian anda. Motor sport berkapasitas mesin super besar, bodi bongsor, dan suara menggelegar, atau mobil mewah mentereng berpelek bling-bling yang harga 1 biji spionnya saja jutaan Rupiah.

Semua itukah yang membuat membangkitkan rasa percaya diri anda?

Tapi tidak bagi saya. Tak satupun dari semua itu.

Bukan karena semua itu salah, atau tidak penting, atau tidak cukup hebat hingga bisa memunculkan rasa percaya diri. Sekali lagi bukan. Tapi lebih karena tak satupun dari semua itu yang ada pada diri saya.

Penampilan dan wajah saya pas-pasan, hanya memenuhi standar deskripsi anatomi orang melayu sebagaimana dijelaskan dalam buku ilmu sosial. Tinggi sedang, kulit sawo matang, rambut ikal, hidung tak mancung (kalau tak mau disebut pesek).

Gaya berpakaian saya pun jauh dari kesan fashionable (kesan saja jauh). Rumus berpakaian saya sangat sederhana, hanya mengenal dua variabel: Nyaman dan Terjangkau, itu saja.

Urusan gadget juga bukan prioritas utama gaya hidup saya. Hanya satu hal yang bisa saya banggakan dari soal ini, saya adalah tipe laki-laki setia pada gadget. Telepon genggam, laptop, arloji, dan perlengkapan elektronik saya lainnya rata-rata panjang umur. Hampir semuanya saya gunakan hingga habis masa manfaatnya. Saat mereka tak lagi sanggup memberikan layanan minimalnya, atau keberadaan mereka justru menyusahkan saya, itulah saat gadget baru harus dibeli. Lagi-lagi rumusnya ada 2: Sesuai kebutuhan dan Terjangkau.

Apalagi soal tunggangan, sama sekali jauh dari kata hebat, atau mewah. Lagi-lagi saya termasuk tipe laki-laki setia. Satu-satunya motor saya, yang masih setia sampai detik ini menemani kemanapun saya ajak dia, hanyalah sebuah motor bebek pemberian orang tua saat kelas 3 SMA dulu. Itu artinya sudah lebih dari 10 tahun umurnya. Cukup renta untuk sebuah motor. Sedangkan mobil, hingga saat ini saya masih sangat menikmati peran sebagai penumpang –orang yang suka menumpang mobil orang lain.

Lalu apa yang menjadi sumber inspirasi pembangkit percaya diri saya? Jawabnya tentu sesuai judul tulisan ini: Sepeda.

Tapi tunggu dulu, bukan maksud saya untuk mengatakan bahwa sepeda saya adalah sepeda canggih buatan tangan berbahan material pilihan berharga belasan hingga puluhan juta Rupiah. Bukan pula sepeda saya adalah sepeda unik yang hanya ada beberapa biji di negeri ini. Atau sepeda kuno yang sudah cukup berumur dan telah digunakan dalam berbagai jenis perang. Karena sepeda saya hanyalah sebuah sepeda rakitan yang dibangun dengan budget mepet. Lalu dimodivikasi dan diakali untuk memenuhi unsure kenyamanan dan kebutuhan.

Maksud saya adalah bersepeda. Ya, bersepedalah yang membuat saya percaya diri, bahkan di hadapan siapapun. Saat bersepedalah yang menjadi saat saya merasa paling hebat, serasa menjadi seorang pemenang. Saat helm, kacamata, dan sarung tangan telah terpasang, tali sepatu pun telah terikat erat, tak lupa celana padding melindungi bagian vital, lalu sepeda pun meluncur di jalanan, serasa tak ada pengguna jalan lain yang lebih hebat, lebih keren dari saya. Kepada segala jenis motor yang mendahului, saya katakan: “Sehebat apapun engkau, saat tangki bahan bakarmu kosong, engkau hanyalah seonggok besi yang menggantungkan hidupmu pada minyak bumi.” Kepada mobil-mobil yang melaju dengan angkuh, saya sampaikan: “Semewah apapun engkau, saat jalan macet kau tetap harus berpartisipasi.”

Saat jalanan ibu kota berubah menjadi parkiran raksasa, mobil dan motor tak kuasa berpindah tempat, tapi sepeda saya masih bisa melaju menerobos tiap celah yang tersisa. Saat banjir menggenang, mobil dan motor memilih berbalik arah, tapi sepeda saya lebih memilih untuk menceburkan dirinya demi membawa tuannya ke tempat tujuan dengan cepat. Saat harga BBM melambung atau stoknya tiba-tiba hilang dari pasaran, sepeda saya pun tak perlu ikut mengantri hanya untuk bisa melaju.

Sepedalah yang membuat saya cukup percaya diri berangkat ke kantor tanpa mandi. Sepedalah yang memberikan saya cukup alasan untuk masuk ke lift kantor hanya dengan celana pendek dan kaos oblong penuh keringat. Jika ada yang bertanya: “Naik sepeda dari rumah mas?” maka inilah moment yang membanggakan bagi saya. Lalu saya pun akan menjawabnya denga penuh rasa bangga: “Betul Pak.” Kalau mereka menambahkan komentar: ”Wah hebat ya…!” Maka saat itulah saya akan tersenyum dan tersipu malu, walaupun hanya dalam hati. Sungguh kepuasan yang tak terkira.

 
1 Comment

Posted by on December 13, 2011 in Lain-lain, Sepeda

 

180 + km (Gowes Bintaro – Bandung via Jonggol)

“GILA….!”

Itulah komentar yang paling sering saya terima dari teman-teman ketika menceritakan perjalanan yang satu ini.

Yak, bersepeda Jakarta – Bandung (tepatnya Bintaro – Bandung) ternyata masih dianggap sesuatu yang gila oleh banyak orang. Padahal buat saya, ini belum apa-apa. Apalagi buat para aktivis sepeda kelas turing jarak jauh, jarak 180-an km tentu hanyalah satu etape dari puluhan etape yang biasa mereka tempuh.

Perjalanan ini berawal dari cerita beberapa teman yang telah melakukan turing sepeda Jakarta – Bandung, baik yang berhasil maupun yang gagal (baca: bersepeda nyambung bis atau angkot). Lalu saya pikir ini patut dicoba juga. Dari sini niat telah berubah menjadi tekad bulat.

Dimulailah persiapan….

#1           Mencari informasi tentang rute yang akan dilalui. Setelah bertanya kesana kemari akhirnya diputuskan untuk memilih rute Jonggol. Pertimbangan utama karena jalur ini relatif lebih sepi dibandingkan jalur lain.

#2           Mencari partner. Karena saya belum cukup “GILA” untuk touring sendirian, dan saya juga merasa kurang dapat menikmati perjalanan jika ikut rombongan besar, maka tim berisi 4 orang menjadi pilihan. Mereka adalah Dika a.k.a. Malingseng, Shavaat a.k.a. Uje, Ren Refli a.k.a. Grandong, dan saya sendiri. Semuanya anak STAPALA.

#3           Menyiapkan  perlengkapan. Perlengkapan utama tentu saja sepeda. Masalahnya, ternyata dari kami berempat, hanya 2 orang yang mempunyai sepeda, yaitu saya dan Malingseng. Tapi ini bukan soal, teman-teman STAPALA yang lain tak akan keberatan dipinjam sepedanya. Akhirnya didapatlah sepeda pinjaman dari Hilman dan Ko Tepi. Saya sendiri juga meminjam pannier Tope*k dari Anggi a.k.a. Gobbog.

#4           Persiapan fisik. Bersepeda ke kantor (yang lebih dikenal dengan b2w dan b2h) seminggu sekali dan CFD-an , yang sudah saya lakukan 3 bulan terakhir, sepertinya cukup. “Kalau rutin b2w sih kuat lah ke Bandung”, begitu kata Bang Iye, pemilik Toko Sepeda “RC Pro” sekaligus aktivis touring senior.

Sabtu, 18 Juli 2009 jam 6.30 pagi, berangkatlah kita berempat dari Kampus STAN Bintaro. Rute Bintaro – Simatupang – Cibubur kami tempuh dengan kecepatan sedang. Masuk Cibubur sekitar pukul 8.30 kami memutuskan untuk istirahat sekaligus mengisi bahan bakar. Ketupat sayur jadi menu pilihan kami pagi itu. Setelah perut terisi penuh, kami lanjutkan perjalanan. Karena tak satupun dari kami yang tahu jalan, maka penunjuk arah dan bertanya ke orang menjadi pemandu arah kami.

Sarapan ketupat sayur di Cibubur

Hari yang mulai panas menjadi tantangan terberat kami. Beruntung jalanan masih cenderung datar. Jarum jam menunjukkan pukul 10.30, ketika sebuah warung es kelapa muda di pinggir sawah menggoda kami untuk berhenti sejenak dan meneguk kesegarannya. Kami tak mau berlama-lama disitu. Sebelum rasa malas datang, kami segera melanjutkan perjalanan.

Masuk wilayah Kecamatan Cariu, tantangan berikutnya telah siap menyambut kami. Ya, jalanan kami rasakan tak lagi datar. Kayuhan pedal terasa semakin berat. Ditambah sengatan matahari yang semakin meninggi, membuat kami harus beberapa kali berhenti sejenak, sekedar untuk mengatur irama nafas dan membasahi tenggorokan.

Setelah panas dan tanjakan, kali ini ditambah lagi perut kami mulai keroncongan. Ternyata tangki bahan bakar kami memang sudah waktunya di refill. Setelah sholat dhuhur di Masjid Jami’ Nurul Iman (masih di Cariu), kami mencari warung makan. Disepakati lah warung makan pertama yang kami temui, menjadi tempat istirahat berikutnya.

Perut kenyang, kantuk datang...

Menu alakadarnya, telor dadar panas, sambel + lalapan, dan es teh manis kami lahap layaknya orang kelaparan yang sudah berhari-hari tidak makan. Pemilik warung sampai kelabakan melayani pesanan kami. Setelah perut kenyang, ternyata muncul masalah baru. Rasa malas dan kantuk menghinggapi. Tak mau terlalu memaksakan diri, akhirnya kami mencari masjid terdekat untuk sekedar merebahkan badan. Member kesempatan agar makanan tadi dikonversi menjadi energi, itulah pembelaan kami.

Setelah istirahat sejenak di sebuah masjid, kami lanjutkan perjalanan. Ternyata jalanan semakin tak bersahabat. Tanjakan terasa semakin curam. Kombinasi crank terkecil dan sprocket terbesar (baca: ngicik) pun harus saya gunakan. Bahkan di beberapa titik, dari kami berempat hanya saya sendiri yang masih bertahan di atas sadel. Sementara Malingseng, Uje, dan Grandong lebih memilih menuntun sepeda mereka. Hmmm… mungkin mereka kasihan dengan sepeda mereka yang tampak kepayahan dipaksa nanjak terus. Sedangkan saya sendiri berjanji akan tetap menggunakan sepeda sesuai peruntukannya, sampai tanjakan ini berakhir.

Bukan nyari tukang tambal ban lho...

Tak selamanya jalan itu nanjak, terkadang ada beberapa bonus turunan juga...

Walaupun kecepatan ngicik saya tak berbeda jauh dengan kecepatan orang jalan kaki, yaitu sekitar 6 kpj, tetapi saya masih bisa mempertahankan posisi di depan. Begitu melihat penjual pisang di pinggir jalan, tiba-tiba saya memutuskan untuk berhenti. Teman-teman di belakang ternyata juga mengamini. Beberapa butir pisang menjadi suntikan energi untuk melahap sisa tanjakan, yang katanya tinggal sedikit lagi.

Beli pisangnya minimal harus 1 sisir, tidak dijual terpisah

Beberapa saat kemudian, sampailah kami di sebuah tower BTS, yang ternyata adalah akhir dari tanjakan ini. Kami berhenti lagi untuk sekedar mensyukuri keberhasilan kami, sekaligus menyiapkan nyali untuk meluncur menyusuri turunan yang menunggu di depan. Langsung saja sepeda kami kayuh dengan kecepatan penuh. Hanya beberapa ratus meter kami mengayuh, selebihnya kami hanya berkonsentrasi untuk selalu siap menarik tuas rem. Cyclocomputer saya menunjukkan angka 60 kpj untuk max speed. Wow…. Susah saya ungkapkan bagaimana rasa dan sensasinya. Kalian harus mencobanya sendiri…!

Akhir tanjakan, saatnya meluncur...

Setelah berhenti untuk sholat ashar di sebuah masjid di daerah Cikalong, perjalanan kami lanjutkan lagi tanpa kesulitan berarti. Hari mulai gelap. Kami kembali berhenti untuk sholat maghrib di Polsek Cikalong. Sebelum melanjutkan perjalanan, kami sempat mencari informasi ke salah seorang polisi di situ. Mengikuti saran beliau, di persimpangan kami memilih jalur ke sebelah kanan. Ternyata jalanan itu benar-benar gelap. Rumah penduduk agak jarang, apalagi lampu jalan, tak ada satupun. Apalagi lampu depan saya sudah terjatuh dan hancur berkeping-keping saat terjatuh di turunan tadi siang. Untung teman-teman masih membawa lampu depan. Jadilah kita gowes gelap-gelapan. Alhamdulillah perjalanan berjalanan lancar, walaupun dengan kecepatan cukup pelan.

Akhirnya sampai juga kami di jalan raya Padalarang. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 20.30 dan isi perut juga terasa sudah habis terkuras. Menu pecel lele khas Jawa Timuran menjadi makan malam yang luar biasa nikmat. Setelah perut kenyang, kami memutuskan untuk mengakhiri perjalanan hari itu. Mencari tempat menginap yang aman dan nyaman adalah misi kami berikutnya. Ada 2 opsi tempat menginap, yaitu SPBU dan masjid. Setelah mempertimbangkan berbagai faktor, akhirnya kami memilih masjid Musa’adah sebagai tempat menginap kami. Beruntung penjaga masjid mengijinkan kami menginap. Dan ternyata banyak juga para musafir yang menginap di situ.

Sebelum subuh kami sudah bangun, karena jamaah sudah mulai ramai. Kami juga bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan. Setelah sholat subuh, mandi, dan sarapan, pukul 5.30 kami lanjutkan sisa perjalanan. Udara yang sejuk, badan yang segar, dan jalanan yang relatif masih datar membuat awal perjalanan terasa begitu nikmat. Beberapa kilometer kemudian, kami sudah masuk ke wilayah kabupaten Bandung Barat.

Semalam di Cianjur, siap melanjutkan sisa perjalanan

Selamat datang di Kabupaten Bandung

Berpose di atas sungai Citarum

Jarum jam menunjukkan pukul 8.00 ketika tanjakan Padalarang sudah siap menyambut kami beberapa ratus meter di depan. Sebelum melahapnya, sepertinya kami harus mengisi perut dulu. Kebetulan di kanan kiri jalan ada beberapa warung makan, walaupun sebagian besar masih belum buka. Akhirnya kami memilih warung “Barokah” untuk sarapan pagi itu. Ternyata sebagian masakan nya masih belum siap. Dengan sabar kami menunggu, dan makanan terasa lebih nikmat karena disajikan dalam kondisi panas, fresh from the oven.

Semoga penjual dan pembelinya selalu memperoleh barokah, sesuai nama warungnya,Amien...

Setelah perut kenyang, kami siapkan mental dan dengkul. “Sepertinya tanjakan kali ini tak seberat tanjakan Cariu kemarin”, mufakat kami untuk saling menghibur dan memotivasi diri sendiri. Bertemu beberapa pesepeda, baik yang searah maupun berlawanan arah dengan kami, cukup memberikan hiburan sepanjang perjalanan.

Lewat tebing Citatah, kami tak lupa berfoto-foto dan tentunya istirahat sejenak. Tempat itu tentunya tak asing bagi kami berempat, khususnya bagi Grandong yang memang menggeluti divisi Climbing di STAPALA. Setelah beberapa kali istirahat, pukul 10.30 kami masuk wilayah Cimahi. Rasanya kami sudah sampai tujuan, karena sekarang kami sudah masuk kota. Tak sampai 1 jam kemudian kami sudah masuk kota Bandung. Gedung Sate menjadi tujuan utama kami. Tentunya untuk berfoto-foto, sebagai bukti keberadaan kami di Kota Bandung.

Bukti otentik kami telah sampai di Bandung

Bandung cuy....

Setelah puas berfoto-foto dan minum es cendol, kami menuju ke masjid (lupa namanya) di sebelah gedung DPRD. Setelah mandi, sholat, dan minta tolong seorang teman untuk memesankan tiket kereta ke Jakarta, kami menuju ITB. Hanya sekedar untuk makan siang di sana. Setelah makan siang, kami langsung menuju stasiun Hall untuk pulang kembali ke Jakarta, karena misi kami hanyalah bersepeda sampai ke Bandung. Tak ada rencana untuk tamasya di sana, apalagi kembali ke Jakarta dengan bersepeda.

Sepeda lewat mana ya?

Kereta kami berangkat pukul 17.00 dengan kondisi yang cukup ramai. Soal tiket awalnya kami hanya membeli 1 tiket untuk masing-masing orang. Tapi kemudian petugas tiket minta kami juga membeli tiket untuk sepeda kami. Setelah negosiasi, akhirnya kami diijinkan membayar setengah harga untuk setiap sepeda kami. Agar lebih rapi dan tidak mengganggu penumpang lain, ban depan sepeda kami copot dan kami merelakan tempat duduk kami untuk menyimpan sepeda. Sedangkan kami memilih berdiri dan bersandar di tepi kursi.

Demi sepeda yang hanya bayar setengah harga, kami relakan tempat duduk kami

Sekitar pukul 20.30 kami sampai di stasiun Gambir. Setelah loading sepeda, kami melanjutkan perjalanan pulang. Di sini kami harus berpisah. Malingseng kembali ke kosan nya di daerah Cempaka Putih, sedang kami bertiga kembali ke Bintaro. Sekitar pukul 22.00 kami sampai di di kampus STAN Bintaro dengan selamat.

Gambir, minggu 19 Juli 2009 jam 20.30

Alhamdulillah…

Terima kasih teman, atas perjalanan luar biasa ini.

Kayuh terus sepeda kalian…

 
9 Comments

Posted by on June 24, 2011 in Perjalanan, Sepeda